Warung Mbak Tun dan Culinary Local Wisdom: Karena Bicara Kuliner Nusantara Tak Melulu Perkara Rasa

Selamat malam semuanya, sudah lama ya Nando nggak nulis. Di ranah offline pun, teman-teman yang protes sudah melebihi hitungan jari tangan. Sebelum ditambah sejumlah jari kaki, maka saya memberanikan diri mencoba menulis lagi.

Ranah daring memang tiada habisnya, ia terus hidup 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Ribuan orang lalu lalang mampir ke blogku yang keliatannya sudah semakin berdebu. Maaf ya… hehehe

Pagi ini, ada yang unik. Makan di sebuah warung kecil, nyempil, dekat pasar Babadan Ungaran, Kabupaten Semarang. 

Memang sih, secara fisik tempat ini seperti tempat makan kebanyakkan. Seakan tiada beda. Jujur kukatakan, menunya pun jauh dari kesan kekinian. 

Cuma warung sate ( yang juga jual gule, tongseng, dan Igo gongso).

Penampakan Warung Sate Mbak Tun
Daftar Menu Warung Mbak Tun Babadan Ungaran

“Sebentar, Igo gongso? Apa itu ?”

Ah ! Kalian jeli ! iya.. iya.. memang, yang satu ini belum tentu ada di sembarang warung sate kambing. Igo gongso, kedudukannya bak hilal kemunculan menu sate buntel ke dalam daftar, rata-rata cuma terlihat pada lembaran menu di warung sate lokasi Surakarta dan sekitarnya.

Sebelum kita ngobrol lebih jauh soal Iga gongso, ijinkan saya sedikit membahas mengenai local wisdom di dunia perkulineran nusantara.

Mbak Tun ini, contoh bagus bahwa kuliner kita tak melulu soal kekayaan rasa, kekayaan variasi bahan dan bumbu, keberlimpahan kreasi. Tetapi juga, erat kaitannya dengan khasanah lokal yang berlaku masyarakatnya. 

Satu hal yang unik, dan belum tentu ditemukan di tempat lain. Warung ini buka mengikuti pola hari pasaran jawa. 

Mbak Tun cuma buka warung di hari LEGI dan WAGE saja. Tak pandang bulu hari apa di kalender masehi. Entah libur nasional, hari besar dst. 

Hari pasaran ? apa itu ?

singkat cerita, begini….

Dalam kebudayaan jawa, dikenal 5 hari  pasaran. PON, WAGE, KLIWON, LEGI, dan PAHING. 

Misalnya, pasar burung hanya buka di hari pasaran Senin PON. Maka, setiap Senin PON , para pedagang dan pembeli burung bersepakat untuk bertemu di pasar pada hari tersebut. 

Setelah Senin Pon, ada Selasa Wage, Rabu Kliwon, Kamis Legi, Jumat pahing. Sudah semua ? Maka hitungan yang berlaku kembali lagi ke Pon. 

Hari apa selanjutnya? setelah Jumat pahing tadi, sudah barang tentu Sabtu Pon, diikuti oleh Minggu Wage, lalu Senin kliwon , begitu seterusnya.

Jujur saya katakan, dari kacamata historis, penulis tidak begitu paham secara mendetail bagaimana mulanya hari pasaran itu bisa ada. 

Tapi sejauh yang penulis ketahui, pola perhitungan hari semacam itu merupakan sebuah kesepakatan bersama dalam sistem kemasyaratan leluhur kita dahulu. 

Hari pasaran yang berlaku seringkali berbeda antara pasar satu dengan pasar lainnya. Beda barang yang dijual, berbeda pula *hari pasaran (*kesepakatan) yang dibuat.

Hari pasaran untuk pasar burung bisa jadi berbeda untuk pasar buah. Lain pula yang berlaku untuk pasar daging. Namun, untuk sekelompok barang yang punya faktor kesamaan, bisa jadi dijual di hari pasaran yang sama. Sesama hasil ternak unggas misalnya. 

Namun demikian, ada satu hal yang perlu kita ingat, lain daerah lain pula kesepakatan yang dibuat antar masyarakatnya.

Besar kemungkinan, semenjak dahulu, secara turun temurun, pasar kambing di daerah babadan hanya buka di hari pasaran wage dan legi saja. 

Lalu, apa hubungannya hari pasaran, tradisi hari buka pasar kambing, hari buka warung ?

Tentu saja ada ! saat pasar kambing buka, ketersediaan daging kambing lebih banyak dibandingkan hari lain. Persediaan barang banyak, harga lebih murah. Hukum supply and demand berlaku. Harga bahan baku lebih murah, margin keuntungan lebih besar. Cerdas ya ? 

Salah satu hal terniat yang pernah saya temui selama icip-icip makanan ke sana kemari. Penanggalan jawa khusus Legi dan Wage di balik kartu nama. Setahun penuh. Niat nian.

Kalender mini Tanggal Buka Mbak Tun (Khusus Legi Wage) * terkendala ? klik marka persegi di atas caption foto ini untuk membuka file gambar

Kembali ke Iga gongso,

Igo kambing gongso Mbak Tun. Gongso (istilah memasak dalam bahasa jawa yang maksudnya : Masak dengan cara ditumis. Dengan dominan merica, irisan cabai dan guyuran kecap manis yang begitu kentara. Sehingga dominan rasa yang muncul ialah rasa manis, pedas merica, lagi gurih. 

Seporsi Iga gongso ini bisa ditebus dengan kocek Rp 35.000,00 . 

Untuk mendapatkannya perlu perjuangan ekstra! Bangun pagi ! Harus datang jelang jam 07.00 pagi. (Jam buka warung). Siang sedikit biasanya sudah habis.

Iga Gongso Mbak Tun Babadan (klik blok persegi di atas caption foto ini untuk membuka file gambar)

Duh, saya jadi laper lagi nih gara-gara tulisan sendiri. Cukup.. cukup.. disambung lagi lain kali ya ?
Ah, akhir kata, ternyata, kuliner nusantara, tak melulu kaya soal rasa, tapi juga khasanah lokal yang ada di balik itu semua.

Advertisements