Ini Daftar Jalan Satu Arah di Semarang per Februari 2017

Mulai 01 Februari 2017 diberlakukan rekayasa lalu lintas di beberapa ruas jalan protokol di Semarang. 

Beberapa jalan yang mengalami rekayasa arus diantaranya: Jl. Pemuda, Jl MH Thamrin, Jl. Imam Bonjol dll.

Untuk lebih lengkapnya, bisa dilihat pada peta buatan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah berikut ini.

Peta Rekayasa Jalan Utama di Semarang
Advertisements

BAPA ANGKASA IBU BUMI PERTIWI: Harmonisasi & Manunggaling Kawula Gusti

Kultus lingga yoni banyak ditemukan di pedalaman Jawa. Beberapa orang menemukannya sudah berserakan bahkan ada yang disangka lesung dan digunakan dalam menumbuk padi. Karena memang lingga yoni banyak menyebar di daerah masyrakat desa yang agraris.

Secara umum, lingga yoni adalah lambang kesuburan. Lingga adalah phallus, alat kelamin pria, dan yoni adalah vagina, alat kelamin wanita. Simbol seksual juga diungkapkan dalam ungkapan ‘bapa angkasa ibu bumi pertiwi’. 

Kita hidup diantara ibu dan ayah. Kita hidup dengan keadaan alam terutama bumi pertiwi yang subur dan berlimpah, dan dibawah naungan angkasa yang maha luas. Tanpa ayah dan ibu, kita tidak pernah eksis.
Mengapa ayah digambarkan sebagai angkasa sedangkan ibu sebagai bumi pertiwi?
Dalam Hindu, aspek maskulin adalah Siwa yang merujuk pada kesadaran murni (pure-consciousness). Kesadaran murni itu luas bagaikan angkasa yang bisa mencakup segalanya. Sedangkan aspek feminin adalah Shakti, yang merujuk pada energi atau fenomena material.
Dunia fenomenal itu berubah, merupakan perpaduan empat elemen yaitu tanah, air, api, dan angin. Sedangkan elemen ruang (akasha) adalah luasnya kesadaran kita.
Dalam masyarakat agraris, hasil pertanian yang berlimpah adalah harmoni dari empat elemen. Elemen tanah harus didukung elemen air, juga angin dan elemen api. Gunung meletus adalah elemen api, akan merusak namun juga memberikan unsur hara bagi tanah. Air dari gunung mengalir dan memberikan irigasi yang baik bagi sawah dan ladang. Elemen angin membuat proses penyebaran benih dan menjaga kondisi alam agar tetap hidup. Ini semua adalah aspek feminin yaitu Shakti. 
Dalam bahasa sederhana, kesatuan aspek maskulin dan feminim adalah buah kehidupan, inilah asal mula kultus kesuburan.
Dalam simbol keris juga memakai aspek kesatuan seperti ini. Bahan keris adalah besi atau logam dari tanah. Dan juga batu meteor dari angkasa. Keris adalah harmonisasi dari dua aspek maskulin dan feminim. 
Ada juga pemaknaan lain dengan arti yang lebih mendalam, seperti dalam ungkapan ‘curiga manjing warangka, warangka manjing curiga. Artinya: keris pusaka masuk ke dalam sarungnya, dan sarung masuk pada kerisnya. Dalam penyatuan sudah tidak perlu dibedakan lagi mana yang masuk mana. Jika masih menganggapnya bagian mana yang masuk lebih dahulu, maka itu artinya belum satu kesatuan. Ini adalah bathin yang manunggal, yang menyatu antara kesadaran sejatinya dengan keadaan yang sedang dialaminya. 
Inilah kesadaran non dualis, suatu dasar pandangan yang ada dalam advaita vedanta dan vajrayana. Atau dalam Sufisme Jawa dikenal sebagai manunggaling kawula Gusti.

Aspek Logis Seorang Soekarno

“Soekarno dibenci bagai bandit, dipuja bagai dewa.”, begitulah kira-kira ujar Sang Putra Fajar manakala Cindy Adams, seorang jurnalis berkebangsaan Amerika mewawancarai Bapak Proklamator di Istana negara puluhan tahun silam. Tahun 1960 an jelang akhir kekuasaannya.

Mungkin, ungkapan itu terucap, bukan tanpa sebab.

Walau dipuja bagai dewa oleh para pendukungnya, sebagai manusia biasa, sudah barang tentu Soekarno bukan tanpa cela. 

Beberapa dari  mereka yang berseberangan dengan Soekarno memiliki beberapa versi tersendiri dalam memaknai arti kata “c-e-l-a” yang sudah Saya sebut tadi.

Hatta, setelah mengundurkan diri sebagai wapres, tercatat beberapa kali melayangkan kritik ke pemerintah. 

Revolusi, saat itu, dipandang Hatta sudah cukup. Semestinya, Indonesia mulai melakukan pembangunan. Utamanya pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia (pendidikan). 

Tak cuma Hatta, Buya Hamka, tokoh dari Masyumi yang juga seorang ulama pun pernah bersebrangan dengan sang Bapak bangsa. 

Saat ia tanpa tedeng aling-aling mengritik pemerintahan yang akan memaksakan penerapan sistem demokrasi terpimpin.

“..Trias Politica sudah kabur di Indonesia….! Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme…! Front Nasional adalah partai Negara…!” teriak Hamka menggema di Gedung Konstituante tahun 1959, ketika mengajukan Islam sebagai dasar Negara Indonesia dalam sidang perumusan dasar Negara. 

Tak lama, Konstituante dibubarkan oleh Soekarno. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai tempat bernaung Buya Hamka pun dibubarkan paksa. Para pimpinannya ditangkap, dijebloskan ke balik jeruji.

Walau kemudian, jelang akhir hayat, Soekarno berwasiat agar Buya menjadi imam shalat jenazahnya. Sejarah pun kemudian mencatat, hal itu pula yang terjadi. 

Tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat pada bung Karno, barangkali kesalahan terbesar beliau sebagai seorang manusia adalah ia terlalu banyak tebar pesona.

Akibatnya ? Soekarno, bagi para pendukung setianya lebih dikenang akan keselarasan ia berpakaian, kemampuannya berpidato dan memukau ribuan hingga jutaan orang  untuk tetap setia mendengar walau dalam panas terik menyengat atau pun guyuran hujan. Belum lagi soal teriakan lantangnya menolak bantuan dari Amerika: “Go To Hell with your aid !” yang terkenal itu. 

Dalam ingatan para loyalis, kuat terpatri memori kegagahan atributnya sebagai panglima besar revolusi, Sisi klenik/mistis apalagi. Contoh? tongkat komando dengan daya linuwih yang kabarnya hilang bak ditelan bumi. 

Tak ketinggalan, kabar perihal kesaktian yang konon beliau peroleh akibat kegemarannya melakukan tapabratha ke berbagai tempat di nusantara.

Seolah seorang seokarno penuh aspek tak terjangkau akal, alias mistis. Padahal sejatinya ia logis.

Soekarno seolah tak memijak tanah. Dipuja bak dewa, membuat pendiri PNI ini seolah mampu berbuat sebagai juru selamat, menjadi jawaban atas semua permasalahan. Ketokohannya sedemikian familiar, begitu agung hingga menjadi kabut tebal bagi buah pemikirannya yang brilian melampaui jaman. Sosoknya seolah begitu dekat, sementara buah pemikirannya seolah menjadi asing di telinga. 

Padahal, semestinya, kita mampu lebih mengenali beliau dari sudut pandang subtansi pemikiran. 

Ah, betapa beliau ini sangat visioner. Di tahun 1930-an dalam suluh indonesia muda beliau sudah meramalkan bahwa perang dunia akan terjadi di kawasan pasifik. Dipicu oleh ketegangan antara Jepang  – yang sedang gencar melakukan ekspansi – dan bersinggungan dengan kepentingan barat. 

Beliau juga dengan akurat memprediksi arah pergerakkan peta geopolitik. Perang tadi akan menjadi awal kebangkitan bangsa-bangsa di Asia. 

Asia yang bangkit membuat eropa bak orang tua tak berdaya, sementara asia ibarat seorang gadis muda yang sedang mekar-mekarnya. Kini, 2016 , prediksi itu sudah kita saksikan bersama-sama. 

Soekarno dengan segala pemikiran dan tindakannya, semestinya kita kenali secara subtansi. 

Pancasila yang ia gagas juga bukan aspek teoritis belaka. Sungguh pancasila itu adalah step by step bagaimana sebuah bangsa mampu mewujudkan keadilan sosial.

Bangsa Indonesia perlu menjadi bangsa berketuhanan terlebih dahulu. Sila pertama. Awal.

Dengan mengenal tuhan dan berketuhanan, maka diharapkan manusia indonesia mampu memrioritaskan aspek kemanusiaan yang berkeadilan dan beradab dalam memperlakukan sesama manusia. 

Setelah ibadah Maghdoh, ibadah pada tuhan, ada ibadah muamalah, ibadah ke sesama manusia. Ibadah sosial. Hablumminallah diikuti Habblumminannas.

Setelah manusia indonesia saling memanusiakan dan berbuat adil pada sesamanya (Sila ke 2) terlaksana, maka outcome yang terjadi adalah persatuan Indonesia. (Sila ke 3).

Bersatu saja tidak cukup. Indonesia yang bersatu dan bergotong royong akan mampu menyelesaikan tantangan yang dihadapi, apabila diantara kita mampu untuk saling bermusyawarah untuk mufakat. (Sila 4).

Jika keempatnya terlaksana maka akan tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia (Social justice) yang termaktub pada sila ke-5.

Bagaimana, ternyata seorang Soekarno sangat luar biasa (dan) logis, bukan ?

Pimpinan, Visi dan Kebencian

Tantangan menjadi seorang pimpinan itu, bisa jadi Tuhan mengirimu ke tengah-tengah mereka, karena engkaulah jawaban dari doa mereka selama ini. 

Namun , saat kau sudah ada di sana, memperdulikan mereka, melaksanakan tugasmu, bisa jadi, mereka malah berbalik membencimu, iri padamu, memusuhimu, berpikiran negatif terhadap apa yang kamu lakukan. 

Bersabarlah, mereka hanya tidak tahu, apa yang engkau tahu. Itulah alasan Tuhan memilihmu, bukan mereka. 

Seorang pemimpin harus siap dibenci, walau sesungguhnya ia sedang membawa kasih sayang dan cinta, bagi mereka yang membenci.

Hubungan antara Jack Ma , Alibaba, KFC & Harvard

Bulan ini, netizen dikejutkan dengan akuisisi mayoritas saham lazada oleh alibaba, raksasa e-commerce asal china. 
Harga yang harus ditebus? tidak murah. Menurut sebuah laporan, nilainya mencapai US $1 milyar. Setara Rp 13 T kalau dirupiahkan. Sungguh, sejumlah uang dengan nilai yang fantastis.

Setiap kali membicarakan alibaba, tentu takkan lengkap rasanya apabila tak menyebut Jack Ma, sang pendiri.

Jack Ma, seseorang dengan perjalanan hidup yang menarik dan penuh warna.Ia, pernah ditolak oleh 30 lowongan pekerjaan. (Sumber:http://www.businessinsider.co.id/alibaba-founder-jack-ma-on-rejection-2015-2/#.VxwmjchXenM)

Siapa yang menyangka, bahwa seorang Jack Ma punya “kenangan manis” bersama Harvard dan KFC.

Percayakah Anda, seorang pendiri e-commerce terbesar di China yang nilai valuasinya lebih besar dari amazon, pernah ditolak masuk Harvard hingga 10 kali.

Lain harvard lain KFC, Jack ma pernah bercerita sembari setengah berseloroh: 

“Saya pernah melamar untuk menjadi polisi. Mereka bilang, saya kurang bagus (untuk pekerjaan itu). 

Sewaktu KFC pertama kali datang untuk membuka cabangnya di kota tempat saya tinggal, saya mendaftar sebagai pegawai di sana. Pendaftar, semuanya 24 orang, 23 diantaranya diterima. Hanya 1 orang ditolak: Saya.”, ceritanya mengenang. 

Jack Ma Pernah ditolak KFC

Dari Jack Ma saya belajar, bahwa:

“Life is about to deal with rejections. So many rejections. If you are being rejected, that’s good! It is an early sign that, what rejects you, is not destined for you. Move on! Take another path !”

Untung saja ya, lamaran pekerjaan Jack Ma ditolak-tolak banyak pihak. Coba bayangkan, kalau ada perusahaan, semisal KFC, menerima lamarannya, barangkali Jack Ma tidak akan pernah menjadi seperti sekarang dan Alibaba takkan pernah ada.

Btw, sudah pernah ditolak berapa kali? 

Nandonurhadi.wordpress.com in review! Statistics of 2015 

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

 

Nandonurhadi.wordpress.com Stats 2015
 
Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 290,000 times in 2015.

If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 12 days for that many people to see it.

Click here to see another interesting stats & report

Apa kabar teman-teman?

Halo teman-teman semua. 

Apa kabar? Nando harap kabar kalian semua baik-baik saja. 

Walaupun barangkali kita jarang mengobrol, jarang berdiskusi, berbagi canda, berbagi tawa, tapi percayalah, setiap orang hidup dalam ingatan dan hati orang lain yang ia kenal.

Sudah lama juga ya rasanya nggak denger sapaan apa kabar dan sejenisnya? 

Di era sosial media seperti sekarang, yang kesemua orang nyaris serba terhubung, menanyakan kabar menjadi suatu hal yang jarang lagi terjadi. Sejarang sapaan “halo….”seiring dengan makin menurunnya frekuensi orang menelpon satu sama lain. 

Ia seakan remeh, seperti makanan ringan pembuka yang terkesan biasa saja, layaknya periuk cuci tangan, manakala orang-orang sudah terbiasa dengan westafel.

Apa kabar, seakan menjadi sebuah ritual yang mahfum apabila terlewatkan.

“Mas Nando, kok sekarang jadi lebih jarang menulis blog?”

Akhir-akhir ini, memang, jadi lebih jarang membuat tulisan blog. 

Sebenarnya, banyak yang bisa diceritakan. Kalau hanya sekedar untuk diceritakan. 

Tapi, semenjak beberapa waktu lalu, blog bagi saya bukan lagi sekedar menjadi wadah untuk menyalurkan hal-hal seperti itu. 

Belakangan, saya memang sengaja lebih membiasakan diri mendengar lebih banyak lagi, diam, mengamati, belajar lebih banyak. 

Lebih banyak mendengar daripada berbagi sesuatu dan berbicara. 

Perubahan sekecil itu, ternyata mampu membuat seseorang menjadi lebih “kaya” dibanding sebelumnya.
Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, di masa orang lebih senang berbicara tekstual daripada mendengar, membuat saya memiliki banyak “guru”. Jauh lebih banyak dari sebelumnya. 

Terima kasih pada teman-temanku yang tetap setia bercerita dan berbagi. 

Tanpa kalian sadari, ada seseorang yang diam-diam mendapat ilmu, pengetahuan dan pengalaman tanpa perlu selalu bisa kalian temui.