Tips Anger Manajemen dan Menikmati Kesabaran ala Pak K

Saya biasa jadi tempat curhat teman-teman di kantor. Tentu tidak semua curhatan bisa saya ceritakan. Tapi ada satu hak yang menarik. Dan berguna. Sehingga saya merasa perlu mencatatkannya di sini. 

Siang tadi, giliran seorang pegawai senior yang sebentar lagi MPP. Alias: Masa Persiapan Pensiun. Sebut saja Pak K. 
Dari Pak K ini, Saya dapat ilmu yang mahal sekali, bisa jadi, pembelajarannya baru bakal didapat lewat puluhan tahun hidup berkeluarga.

Bukan Karyawan biasa, ia, Pak K seorang seniman pula. Selain bankers, pria usia 55 tahun ini dikenal jago main musik. Kerap tampil di acara rutin kantor kami, bahkan tampil di hadapan Bapak presiden. Sudah pernah.

Singkatnya, Pak K ini orang tua kaya pengalaman. Almost everyone, in our office, do respect him.

Usut punya usut, respect itu timbul bukan tanpa alasan. Beliau dikenal hampir tidak pernah marah. Hidupnya nyelelek, cengengesan. Tapi, tau kapan serius kapan bercanda.

Percakapan kami sersan. Serius tapi santai. Sembari makan siang yang agak terlewat dari jam normal. 

“Mas, suatu saat nanti, kalau sudah berkeluarga. Janganlah kamu marah. Jadilah ayah yang sabar. Saya ini, mukul anak bisa dihitung jari.”, kata dia. 

“Mendidik, tidak harus dengan kekerasan.”

Misalnya, tiap kali anak lanangku pulang malam, saya cuma tanya ke dia.

“Dari mana Nang, kok baru pulang?”

 Tapi wajahku nyaris kutempelkan ke wajahnya. 

“Buat apa Pak?”, tanyaku heran

“Buat ngecek dia minum apa nggak.”, katanya terus terang. 

Saat wajahku dekat wajahnya, perlahan kudeteksi, kepekaan hidung dipakai. *sniff* *sniff* “Oh, no alkohol, anakku ora mabuk.”

“Sampeyan nggak perlu marah.”, kata Pak K penuh aura kebapakkan. 

“Lampu semua masih saya biarkan menyala saat ia datang. Sambil saya ajak masuk, saya suruh dia kunci gembok. Dalam situasi terang benderang, Kalau gagal 3x, ada kemungkinan dia habis pakai (narkoba).”, lanjut beliau.

“Alhamdulillah, nggak pernah.”, Ucap beliau lega sambil sesekali mengambil nafas panjang. 

Di era serba cepat seperti sekarang. Di jaman manakala manajemen berbasis kemarahan seolah jadi idaman. Bias antara ketegasan dan kemarahan makin berbatas tipis. Cerita dari Pak K tadi bak Oase yang meletup di alam pikiran bawah sadar saya.

Ada banyak hal yang sanggup kita selesaikan tanpa kemarahan. Dan dari Pak K, saya belajar bagaimana mensiasati hal tersebut. Pembelajaran yang  bisa jadi nilainya ekuivalen dengan puluhan tahun perjalanan hidup.
Siang tadi, gara-gara pak K, saya pun berjanji, akan jadi Ayah yang sabar. Dan sebisa mungkin tidak marah pada istri dan anak-anak saya nanti.

Advertisements

Happy Parenting : Cara Menyenangkan Mendidik Anak

Semarang, nandonurhadi- Sudah jadi hal biasa, jejaring sosial path di Indonesia digunakan sebagai media untuk berbagi gambar-gambar lucu.

Pernah suatu hari, di path beredar gambar yang menurut saya, cukup menggelikan.

Gambar itu kalau tidak salah, adalah kutipan lembar soal dan jawaban yang dikerjakan oleh seorang anak SD.

Ada gambar seorang wanita, menggendong anaknya. 

“Gambar ini menunjukkan kasih sayang seorang….

a. pembantu

b. ibu

c ayah.”

 

Jujur saja, saat pertama melihatnya saya tertawa. Ealah kok bisa ya..?

Tapi lama kelamaan, suatu kali saya merenung dan mengingat gambar itu, sedih juga rasanya. 

“Tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada hal yang bisa saya perbuat, jadi orang tua saja belum pernah.” , gumamku suatu kali.
Beberapa bulan pun berlalu setelah peristiwa menggelikan sekaligus memilukan itu.

Terus dan terus nyangkut dipikiran saya. kira-kira apa ya sebabnya? apa yang bisa saya lakukan?

Saat lebaran kemarin, orang tua seringkali bercerita tentang bagaimana kakek nenek dan generasi terdahulu mendidik anak-anaknya.

Mereka bilang, didikannya keras, tegas, tetapi beberapa diantara juga ternyata keliru.

Maklum, satu-dua-tiga generasi lalu bangsa kita memang sedang susah akibat sedang dijajah. Didikan keras dan tegas itu dianggap sebagai suatu mekanisme untuk bertahan hidup di lingkungan yang sedemikian kerasnya waktu itu. 

Oh, kalau begitu, bagaimana cara mendidik yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak memegang peranan yang sangat penting.

Sejak itu, penulis giat mengumpulkan materi-materi terkait parenting, tata cara mendidik anak.

Parenting, mendidik anak, bagaimana kiat menjadi orang tua yang baik. 

Sampai hari ini akhirnya datang. Hari ini saya senang, karena – walau sekarang belum menikah – saya mendapatkan file-file yang menjabarkan bagaimana menjadi orang tua yang baik. Sesuatu yang sudah lama saya cari.
Saya merasa beruntung, mendapatkan informasi yang tepat bagaimana mendidik anak semestinya dilakukan. Dari sudut pandang keilmuan dan penelitian dalam bentuk file presentasi maupun multimedia. Dan saya mendapatkan itu sebelum praktek menjalani kehidupan berumah tangga. Alhamdulillah.

File yang saya temukan itu antara lain berisi:

– Bagaimana mencetak generasi unggul abad 21

– Pola asuh seperti apa yang ramah bagi perkembangan otak anak

– Bagaimana, kiat-kiat jitu bagi seorang ibu dalam upaya membangun kedekatan emosional dengan Si anak.

– Bagaimana kiat orang tua mampu membangun komunikasi positif dengan anak? 

– Penjelasan tentang bagaimana video kekerasan dan pornografi berpengaruh bagi perkembangan otak anak 

– dan lain-lain.

Selengkapnya, file tentang Happy Parenting bisa dilihat dan diunduh gratis di tautan berikut : Happy Parenting
Melalui postingan ini, penulis ingin berbagi. Siapa tahu, dengan langkah kecil ini, banyak generasi kita dan generasi selanjutnya mendampatkan manfaat.

Ya… setidaknya, kalau anak-cucu kita mendapat soal ujian yang sama, dia bakal pilih opsi (b). ibu, bukan (a).pembantu.

Apalagi, teman-teman seumuranku, rata-rata memang sedang dalam tahap awal membangun bahtera rumah tangga.

Semoga berguna, ya!