Surat cinta: Kiriman ke sebelas

Mataku ini, rindu untuk kau tatap dalam- dalam. Dengan senyum yang penuh arti. Dan perlakuan yang selalu bisa membuatku merasa istimewa.

Setiap hari di dalam kepalaku terbayang wajahmu menempel begitu dekat, di  wajahku. Bersentuhan. Sedekat itu. Sedekat pelukkan yang begitu erat dan tak pernah ingin lepas.

Begitu intim. Menguasaiku dan tubuhku. Hanya kamu seorang, yang mampu berbuat itu padaku. Hanya kamu, yang  kuijinkan.

Surat cinta kiriman ke sepuluh.

Selamat pagi. Aku sedang merapikan skripsi. Untuk kuajukkan ke pembimbing pagi ini.

Oh iya… adrenalinku meningkat. Detak berdegup tiap detik. Are you ok, right there?

Perasaanku masih sama, kerinduan yang mendalam. Sedalam apa? Bingung menjelaskannya. Aku tak tau,  coba bayangkan pasir hisap. Ilustrasi yang cukup tepat. Menurutku.

Oh iya, aku bingung. Kenapa kita mesti berlomba dalam ego? Kenapa? Kamu seperti sengaja memamerkan kedekatanmu dengan seseorang. Seseorang yang liar, nakal. Maafkan, aku terlalu terus terang….

Diam-diam: “Sialan!”, makiku dalam hati. Sambil mengusap kepala… (yang isinya denial), kepala yang berusaha mengingkari itu semua.

Aku menyesal menolak pelukkanmu waktu itu. Semua gara-gara gengsiku! Salahkan dia.

Sejujurnya, aku merindumu… sangat. Seperti utara merindukan selatan saat ketemuan.

Aku tau kita berbeda, semoga suatu ketika nanti…Tuhan menakdirkan kita, sebagai titik temu, yang tak pernah berakhir.

Indigo belahan jiwamu.

Tentang Cinta. Oleh Azza Laswati. Dan Saya Sependapat.

Pernah mencintai seseorang sebegitu hebat, hingga tak peduli lagi apa pun reaksi orang tersebut? Yang ingin kita lakukan hanya memberi.

Cinta yang semakin banyak kita memberi, semakin kita bahagia Bahagianya bahagia kita juga. Sedihnya sedih kita juga.

Cinta yang tak berhitung. Cinta yang tak memaksa. Cinta yang membebaskan. Cinta yang menguatkan. Cinta yang menerima.

Apa rugi mencintai orang tanpa mendapatkan apa pun sebagai balasan?

Tentu tidak. Sebab alam sangatlah adil. Yang kita beri pasti kita terima.

Apakah cintamu terasa menyakitkan? Yakin itu cinta? Bisa jadi nafsu. Ego. Menyamar menjadi cinta. Marah saat ditolak? Itu ego menguasai.

Semakin bertambah umur saya, semakin mengenal & mencintai diri sendiri.

Saat yang sama, belajar menerima orang lain tanpa banyak berharap.
Karena saya tidak mengenal benar mereka, saya tidak merasa berhak menghakimi mereka 🙂

Try not to judge, but to love.

Senyum sendiri, susah berkata-kata manis. Mungkin tulisan yang saya kutip ini bisa mewakili.

14 Februari 2013, sebelum tidur.

Surat Cinta, kiriman ke enam.

Hari ini, kamu sakit.
Entah mengapa, badanku hangat.

Kepalaku pun pusing. Tubuh ini serasa tak ingin dibawa pergi kemana-mana.Ikut merasakan yang kau rasakan.

Sedih kumendengar kabarmu, di suatu tempat yang hanya “kulihat”, kau di sana mengantri, lemas, ingin muntah, menunggu panggilan dokter. Kulihat juga engkau terbaring lemas di tempat tidurmu yang terasa sangat sepi. Namun ketahuilah, walau tak selalu dekat, aku selalu ada.

Sayang, satu hal yang harus kau tau. Aku tak cerewet ke banyak orang. Hanya ke orang tertentu yang aku merasa dekat sahaja.

Dingin, diam, hemat perkataan. Aku nyaman dengan diriku yang sekarang. Aku yang begitu.

Entahlah,

Di depanmu, memang aku tak jujur. Aku berpura-pura. Pura-pura yang paling sulit yang pernah kulakukan. Pura-pura menganggap biasa saja. Pura-pura aku tak cinta.

Selamat malam, kamu di sana. Semoga cepat sembuh. Peluk hangat kasihku untukmu.

Salam rindu,

Indigo belahan jiwamu

Suratku: Kiriman ke lima

Aku tak mau mendahului rahasia Tuhan. Tapi aku merasakan hal berbeda tiap kali kita bertemu.

Aku tau, sejauh kita bertemu sejak pertemuan pertama secara langsung malam itu, sejak kata pertama yang kau ucapkan saat melihatku muncul perlahan dari ujung jalan: “Ah, akhirnya kita ketemu juga ya..”,

Aku sadar betul, sampai detik surat ini ditulis, jumlah jari yang kupunya pun masih lebih banyak dari jumlah pertemuan kita.

Namun, setiap kita bertemu, aku merasakan suatu getaran jiwa, yang sulit kujelaskan dan tak pernah tak terjadi. You are the same menu for my breakfast, lunch, dinner, supper that I never get bored with. Seolah pertemuan kita ini sebuah reuni yang aku tak pernah bosan dengan itu sedikitpun.

Betapa menyebalkannya kamu, dengan segala sikapmu sejauh ini, penyakit yang kamu miliki, resistansimu, alergimu terhadap makanan-makanan yang (sangat) kusukai, kamu yang begitu perhitungan, kamu yang begitu gengsian… kekuranganmu semuanya entah mengapa aku merasa tak masalah dengan itu. Aku menerimanya.

Darimu aku belajar memperhatikan hal-hal kecil. Radang lambung, alergimu terhadap ikan air tawar, hobimu memasak, minum teh atau kopi tiap pagi dan semua tentangmu. Hobi dan pengalamanmu mengelola event, mimpi terbesarmu, ukuran sepatumu, semuanya.

Kalau kuperhatikan, dalam kekuranganmu ada kelebihanku dan sebaliknya.

Entah, aku merasa kita berdua seperti kepingan yang saling melengkapi satu sama lain. Maka tak pernah bosan aku berdoa kepada Tuhan semoga suatu saat nanti kita ditakdirkan menjadi patner hidup yang hebat.

Aku tak ingin mendahului Tuhan, tapi aku percaya bahwa Tuhan maha kuasa. Dan aku sebagai manusia diperkenankan berdoa.

Di dalam doaku, terselip namamu semoga kamu baik-baik saja, senantiasa dijaga olehNya, dimudahkan urusannya dalam kebaikan.

Sambil terus mempersiapkan segalanya dan kualitas diri, hingga suatu saat aku menjadi imammu dalam sholat berjamaah,  bisa bebas merindumu, memelukmu, membuatkan sup saat kamu sakit, menemanimu olahraga, ikut mengantarmu ke dokter untuk checkup rutin, selalu hadir saat persalinanmu, ikut membacakan dongeng untuk anak kita, mencium keningmu saat akan berangkat tidur, dan selalu menjadi orang pertama yang kau lihat saat terbangun.

Menjadi orang yang ikut membangun mimpimu. Yang satu itu. Tak lupa, aku ingin mendirikan yayasan atas namamu. Agar kamu juga ikut dikenang. Dicintai banyak orang, dan didoakan sesudah meninggal.

Semoga Tuhan berkenan mengabulkan, yang terbaik.