Kenang-kenangan dari Pak Ashari, Rektor Telkom University

Nandonurhadi, Bandung

Foto bareng dengan Pak Rektor Telkom University Prof.Ir.Mochamad Ashari, M.eng., Ph.D di ruang kerjanya.

Diberi kenang-kenangan buku: 1 tahun Telkom University, masterpiece untuk bangsa.

2015/01/img_0576.jpg

Personal message dari Pak Rektor Prof.Ir.Mochamad Ashari, M.eng., Ph.D di buku 1 tahun Telkom University yang jadi personal gift untukku

2015/01/img_0579.jpg

Menutup chapter di Telkom University dengan sangat baik. Dan berkesan. Terima kasih, keluarga Tel-U.

At the end of Telkom University Chapter

Sebentar lagi akan menutup chapter di Telkom University.

Mudah? Tidak.

Yup, pilihan sulit, sangat sulit. Terlalu banyak kenangan baik di Tel-U dan saya optimis Tel-U punya masa depan yang sangat bagus.

Terima kasih atas semua pengalaman yang luar biasa.

Dari dulu, kelimpahan mengurus web dan segala akun sosial medianya.

Kelimpahan informasi jadi makanan sehari-hari. Memilah-milah mana yang penting mana yang tidak.

Mengambil keputusan. Memperhitungkan dari banyak sisi. Mengukur dampak. Seberapa luas, seberapa banyak orang, dan jangka waktu yang ditimbulkan dampak tersebut.

Karena saya percaya, informasi dapat mengubah keberuntungan dan nasib banyak orang.

Sederhana: Menguasai media, menguasai pola pikir manusia.

Satu hal yang selalu saya ingat dan camkan.

“Behind a great power, there are great responsibilities.”

What next?

Bersiap untuk chapter dan tantangan baru. Pernah menolak tawaran CEO (detik) to join his company 24/5/13, dan kayaknya ga mau ulang kesalahan serupa 2x

Semoga …

Manakala uang sudah berkerja untuk saya, suatu saat nanti. Semoga masih terbuka kesempatan untuk berbagi pengalaman dan mengajar di sini.

See you around, Tel-U.
Keep in touch.

Me in a word: Perfectionist

“Coba deskripsikan dirimu sendiri dalam satu kata!”

Jika pertanyaan itu ditujukkan kepada saya, alih-alih memilih kata yang “ramah” didengar seperti periang, baik hati, atau kata-kata lain yang populer -yang biasa dipilih seseorang agar disukai orang lain- saya sendiri malah memilih sebuah kata yang terkesan sangat arogan. Apa itu? Ya, kata itu adalah Perfeksionis.

Di blog ini saja, saat Anda membaca tulisan ini. Tulisan ini adalah tulisan yang ke 385 sepanjang blog ini mengudara di internet. Entah berapa kali draft yang saya coret, berapa kali pemikiran yang saya beri penekanan berulang-ulang, atau runtutan kata yang saya ganti sampai akhirnya tombol di halaman sebelah kanan dashboard admin bertuliskan “publish” akhirnya saya tekan.

Saya tidak mau menghasilkan sesuatu yang biasa-biasa saja, Sesimpel ketidak mauan menjadi biasa-biasa saja pula. Saya bisa sangat marah dengan sesuatu yang dikerjakan seadanya, sekenanya. Saya takkan kalah jengkel dengan suatu rumusan atau persamaan yang hanya diajarkan untuk dihapal tapi dikatakan tidak perlu sampai dimengerti.

Seperti rumusan satu ini misalnya:

 Centrality degree node n(i)

Persamaan di atas adalah persamaan yang menjelaskan bagaimana cara kita menghitung degree centrality dari suatu node dalam sebuah network graph. Persamaan ini penting, karena terkait skripsi saya. Betapa jengkelnya saya ketika mendapat penjelasan yang sama sekali tidak memuaskan tentang apa itu degree centrality dan bagaimana cara menghitungnya.

Cari-cari sendiri, akhirnya saya temukan di buku Stanley Wasserman dan Kartz terbitan tahun 1994 halaman 179. Buku ini menjelaskan secara lengkap dan mendasar bagaimana tingkat pengaruh seseorang dalam lingkungan pergaulannya biasa dihitung secara matematis.

CD atau Centrality Degree dari suatu node i disimbolkan dengan (ni) dapat dihitung dari membagi nilai degree node tersebut d(ni)  dengan  jumlah total node dalam sebuah graf (g) setelah dikurangi satu.

Lah kok n-1? Kok bukan n-2? Mengapa bukan n-3?

Kalau ingin menghitung seberapa central suatu node terhadap node lain tentu harus membagi node tersebut dengan jumlah keseluruhan anggota dalam sebuah network, selain node itu sendiri.

Nah, bagi saya, pemahaman seperti ini jauh lebih penting dari sekadar penghafalan. Satu hal lagi yang saya sukai dari buku yang dirampungkan Wasserman di bulan Agustus 1993 itu, ada list dari arti notasi atau simbol-simbol yang ditulis lengkap di halaman khusus sebelum bagian daftar isi.

Well, saya adalah tipikal orang yang apabila diberi waktu 5 jam untuk menebang pohon dengan kapak, maka 4 jamnya akan saya gunakan untuk mengasah kapak tersebut. Pemahaman jauh lebih berarti daripada hanya sekadar pengafalan dan penghafalan.

Perfeksionis, memang.

Sometimes we need a reflection

Berawal dari twit pak Handry yang selalu asik disimak.

Cinta Indonesia? Mengapa?

Pertanyaan refleksi. Tidak ada benar salah. Simple banget pertanyaannya. Tapi membuat kita berpikir dalam.

Apa yang sebenarnya kamu cintai?

Kebetulan, yang pak handry gunakan sekarang adalah Indonesia sebagai objek rasa cinta

“mencintai Indonesia” adalah pertanyaan “self reflection”…once your answer is yes, the next things is to make action of “giving”..”

Sama banget! Kalau dipikir-pikir sudah berapa waktu yang gue giving ke students sampai lulus terlambat begini.

Sampai akhirnya, aku sadar sebelum mencintai hal di luar diri kita, cintailah apa yang ada dalam kuasamu, yang dimiliki. Mulai dari diri sendiri.

Ini Nih Dokter Gigi Di Kawasan Kalijati Bandung

Sudah kemarin sore, aku sakit gigi. Duh. Ngilu rasanya. Cukup untuk menurunkan mood beraktivitas seharian.

Berinisiatif, nanya ke orang-orang via twitter. Dapatlah info bahwa ada seorang dokter gigi yang buka praktek tak jauh dari rumah. Yang terdekat ada di kawasan kali jati. Lokasinya cukup mudah ditemukan. Seberang masjid kalijati dan sebelah kafe baso.

image
Dokter gigi lazuardi

Well, melihat jam dan hari prakteknya kayaknya bukan di sini rejekiku. Aku butuh penanganan yang lebih cepat, alias yang buka hari ini.

Huft, sambil menahan sakit gigi yang cenat-cenut dari tadi, tanpa berpikir panjang: kupotret dan kuketik.

Aku share saja di blog, karena siapa.. tau suatu saat ada yang butuh dan…memang rejekinya (untuk berobat di tempat ini).