Pengalaman Ikut #KelanaRasa Chapter Semarang

Halo, selamat siang. 

Sesekali ah nulis sesuatu yang ringan-ringan dengan bahasa yang ringan juga. 

Asli, hari ini ada kejadian yang sedemikian plot twist. 

Jadi ceritanya, hari ini ane ikutan #KelanaRasa chapter semarang. 

Apa itu #KelanaRasa ? Kelana rasa itu EO, trip organizer, culinary solutions bikinan mas @arieparikesit , yang sering banget ngadain traveling tapi dengan ceruk pasar khusus. Travelling plus menggali khasanah kuliner lokal di tempat yang kita kunjungi.

As simple as, travelling tapi ada kuliner-kulinernya gitu deh. All day culinary trip. From one place to one another.

Walaupun cuma ikut menyusul di hari ke-2 , tapi pengalaman kali ini terasa begitu berkesan. 

Pertemuan hari ini diawali dengan bertukar kopi sama mas Arie di loby hotel di tempat doi nginep. 

Tak seberapa kemudian, datangnya pak supir carteran dengan elf-nya yang berjasa mengantar kami kemana-mana selama trip ini berlangsung.

Tadi hari ini kemana aja ?

Well, gue sempat ikutan ke 2 eating spot. 

Pertama, ke nasi goreng Mr.Park. Bukan Park Oppa Oppa korea ya, Park ini maksudnya Pak Taman. Hahaha…

Detailnya di mana? tanya mas Arieparikesit deh. Ikutan tripnya sekalian kalau perlu :p


Tapi yang pasti, kalau berkunjung ke Mr.Park, maka pesanlah nasgor babad parunya. Nasi goreng dibikin dadakan fresh from wajan, ditaburi aneka isian babad, paru dengan porsi yang ga pelit. Plus selimutan telor dadar hangat gurih karena yang dipakai adalah telor bebek fresh. Dapat dari peternak kemarin sorenya. Lazisnya sahih. 

Setelah Pak Taman, rombongan juga mengunjungi rujak cingur Yu Sri, di bilangan Pekunden Semarang.

Di sini yang khas, dan wajib pesan adalah petis kangkung cingurnya. Semua tertata pas. Overall, in balance composition. Kangkung segar nan fresh, cingur yang kenyalnya pas, komplit dengan siraman petis udang yang….. hm… Harum semerbak.  Oppa oppa pasti bakalan bilang:  ini…. daebak!

Minumnya? Es kolak klapa atau es kolak cincau. Glek glek glek, segernya bener-bener penghapus dahaga.


Selain wisata kuliner, kita juga diajak ke lawang sewu. 

Seru ! 

Di sana kita diajak berkeliling, wisata sejarah. Ternyata, ane juga baru tau kalau lawang sewu itu dulunya kantor administrasi perusahaan kereta api Belanda Nederlands Indische Spoorweg Maaskapiij atau biasa disingkat NIS. Maka, tak mengherankan, penduduk sekitar lawang sewu, dulunya menyebut gedung itu dengan panggilan gedung NIS.

Bagaimana lawang sewu dibangun, siapa pembangunnya, perjalananya yang beberapa kali alih fungsi membuat kami serasa kembali ke era kolonial.


Salah satu sudut lawang sewu, mampu membuat kami semua terkekeh geli. Pada saat penjelasan riwayat seragam PT.KAI dari masa ke masa, di sana ada manequinn yang diberi nama Jonan. 

Iya, Jonan, (Ignatius Jonan, eks Dirut PT. Kai yang juga kemudian jadi Menhub. – Kini menteri ESDM- ).

 Pemberian nama itu dimaksudkan sebagai sebuah kenang-kenangan. 

Bukan tanpa alasan manajemen museum berbuat demikian, pengelola (museum) lawang sewu beranggapan bahwa Jonan adalah tokoh yang sudah banyak melakukan innovasi dan perubahan positif bagi industri perkereta-apian negeri ini. 

*Cekrek*! 

“Kirim ke orangnya ah….”, Seloroh salah satu peserta yang ternyata juga teman baik pak Jonan. What a plot twist. 

Tak ayal, Pak Jonan pun ikut geli menerima kiriman gambar itu.
Banyak hal kocak terjadi di sepanjang trip kami. Termasuk tentang penyesalan Mas @ngabdul karena sarapan avocado toast set sebelum pergi sarapan ke nasgor Mr.Park. (Yang porsinya… ya begitulah :p)

Tak heran, trip #KelanaRasaSemarang ini berkesan buat kami semua. 

Terima kasih Om & Tante Syahrir, Aco, bang Noka, Mas @ngabdul dll dan tentu saja, our culinary buddy: Mas @Arieparikesit !

See ya on the next trip !

Warung Mbak Tun dan Culinary Local Wisdom: Karena Bicara Kuliner Nusantara Tak Melulu Perkara Rasa

Selamat malam semuanya, sudah lama ya Nando nggak nulis. Di ranah offline pun, teman-teman yang protes sudah melebihi hitungan jari tangan. Sebelum ditambah sejumlah jari kaki, maka saya memberanikan diri mencoba menulis lagi.

Ranah daring memang tiada habisnya, ia terus hidup 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Ribuan orang lalu lalang mampir ke blogku yang keliatannya sudah semakin berdebu. Maaf ya… hehehe

Pagi ini, ada yang unik. Makan di sebuah warung kecil, nyempil, dekat pasar Babadan Ungaran, Kabupaten Semarang. 

Memang sih, secara fisik tempat ini seperti tempat makan kebanyakkan. Seakan tiada beda. Jujur kukatakan, menunya pun jauh dari kesan kekinian. 

Cuma warung sate ( yang juga jual gule, tongseng, dan Igo gongso).

Penampakan Warung Sate Mbak Tun
Daftar Menu Warung Mbak Tun Babadan Ungaran

“Sebentar, Igo gongso? Apa itu ?”

Ah ! Kalian jeli ! iya.. iya.. memang, yang satu ini belum tentu ada di sembarang warung sate kambing. Igo gongso, kedudukannya bak hilal kemunculan menu sate buntel ke dalam daftar, rata-rata cuma terlihat pada lembaran menu di warung sate lokasi Surakarta dan sekitarnya.

Sebelum kita ngobrol lebih jauh soal Iga gongso, ijinkan saya sedikit membahas mengenai local wisdom di dunia perkulineran nusantara.

Mbak Tun ini, contoh bagus bahwa kuliner kita tak melulu soal kekayaan rasa, kekayaan variasi bahan dan bumbu, keberlimpahan kreasi. Tetapi juga, erat kaitannya dengan khasanah lokal yang berlaku masyarakatnya. 

Satu hal yang unik, dan belum tentu ditemukan di tempat lain. Warung ini buka mengikuti pola hari pasaran jawa. 

Mbak Tun cuma buka warung di hari LEGI dan WAGE saja. Tak pandang bulu hari apa di kalender masehi. Entah libur nasional, hari besar dst. 

Hari pasaran ? apa itu ?

singkat cerita, begini….

Dalam kebudayaan jawa, dikenal 5 hari  pasaran. PON, WAGE, KLIWON, LEGI, dan PAHING. 

Misalnya, pasar burung hanya buka di hari pasaran Senin PON. Maka, setiap Senin PON , para pedagang dan pembeli burung bersepakat untuk bertemu di pasar pada hari tersebut. 

Setelah Senin Pon, ada Selasa Wage, Rabu Kliwon, Kamis Legi, Jumat pahing. Sudah semua ? Maka hitungan yang berlaku kembali lagi ke Pon. 

Hari apa selanjutnya? setelah Jumat pahing tadi, sudah barang tentu Sabtu Pon, diikuti oleh Minggu Wage, lalu Senin kliwon , begitu seterusnya.

Jujur saya katakan, dari kacamata historis, penulis tidak begitu paham secara mendetail bagaimana mulanya hari pasaran itu bisa ada. 

Tapi sejauh yang penulis ketahui, pola perhitungan hari semacam itu merupakan sebuah kesepakatan bersama dalam sistem kemasyaratan leluhur kita dahulu. 

Hari pasaran yang berlaku seringkali berbeda antara pasar satu dengan pasar lainnya. Beda barang yang dijual, berbeda pula *hari pasaran (*kesepakatan) yang dibuat.

Hari pasaran untuk pasar burung bisa jadi berbeda untuk pasar buah. Lain pula yang berlaku untuk pasar daging. Namun, untuk sekelompok barang yang punya faktor kesamaan, bisa jadi dijual di hari pasaran yang sama. Sesama hasil ternak unggas misalnya. 

Namun demikian, ada satu hal yang perlu kita ingat, lain daerah lain pula kesepakatan yang dibuat antar masyarakatnya.

Besar kemungkinan, semenjak dahulu, secara turun temurun, pasar kambing di daerah babadan hanya buka di hari pasaran wage dan legi saja. 

Lalu, apa hubungannya hari pasaran, tradisi hari buka pasar kambing, hari buka warung ?

Tentu saja ada ! saat pasar kambing buka, ketersediaan daging kambing lebih banyak dibandingkan hari lain. Persediaan barang banyak, harga lebih murah. Hukum supply and demand berlaku. Harga bahan baku lebih murah, margin keuntungan lebih besar. Cerdas ya ? 

Salah satu hal terniat yang pernah saya temui selama icip-icip makanan ke sana kemari. Penanggalan jawa khusus Legi dan Wage di balik kartu nama. Setahun penuh. Niat nian.

Kalender mini Tanggal Buka Mbak Tun (Khusus Legi Wage) * terkendala ? klik marka persegi di atas caption foto ini untuk membuka file gambar

Kembali ke Iga gongso,

Igo kambing gongso Mbak Tun. Gongso (istilah memasak dalam bahasa jawa yang maksudnya : Masak dengan cara ditumis. Dengan dominan merica, irisan cabai dan guyuran kecap manis yang begitu kentara. Sehingga dominan rasa yang muncul ialah rasa manis, pedas merica, lagi gurih. 

Seporsi Iga gongso ini bisa ditebus dengan kocek Rp 35.000,00 . 

Untuk mendapatkannya perlu perjuangan ekstra! Bangun pagi ! Harus datang jelang jam 07.00 pagi. (Jam buka warung). Siang sedikit biasanya sudah habis.

Iga Gongso Mbak Tun Babadan (klik blok persegi di atas caption foto ini untuk membuka file gambar)

Duh, saya jadi laper lagi nih gara-gara tulisan sendiri. Cukup.. cukup.. disambung lagi lain kali ya ?
Ah, akhir kata, ternyata, kuliner nusantara, tak melulu kaya soal rasa, tapi juga khasanah lokal yang ada di balik itu semua.

Daftar Rekomendasi Kuliner Solo

SATE & TONGSENG :

1. Sate pak bejo wetan prapatan sangkrah, Loji Wetan.

2. Sate mas Di/Mardi wetan monumen pers

3. Sate mbok galak di sumber

4. Sate pak Manto, jln honggowoso, kidul sami luwes.

5. Sate ayam Pak Banjir di perempatan nonongan (malam hari)

6. Sate Buntel (kambing) d Tambak Segaran

7. Sate kere Yu Rebi di penumping,

8. Sate ayam pak Dul, kidul nonongan.

9. Sate ManGullit Sondakan 

SOTO:

1. Soto Triwindu depan Ngarsopuro, Mangkunegaran

2. Soto Gading di Gading Selatan Alun-alun Kidul jalan Raya ke Wonogiri

3. Soto Mbok Giyem (Bu Fatimah) di jalan Bayangkara Tipes

4. Soto Kirana jl Honggowongso

5. Soto Batiyah jl, Gremet, Manahan

TENGKLENG

1. Tengkleng Klewer bu Edi Cabang Bawah Gapura Klewer di depan Beteng Plasa, PGS

2. Tengkleng Mbok Galak Sumber

Tengkleng di Semanggi

3. Tengkleng Mbak Diah, Tanjung Anom perbatasan dengan Solo Baru, barat Kartosuro jln solo-semarang, utara jalan.

4. Tengkleng Klewer Bu Edi

5. Tengkleng ManGullit Sondakan

GUDEG

1. Gudeg mbok kedhul buka jam 4 sore di Purwosari

2. Gudeg ceker Bu Kasno di Margoyudan mulai jam 12 malam

3. Gudeg Adem Ayem Jl. Slamet Riyadhi

4. Gudeg Yu Mari jl gatot subroto selatan perempatan pasar pon

NASI LIWET

1. Nasi liwet bu Wongso lemu di Keprabon

2. Nasi Liwet Loji wetan, 

3. Nasi Liwet di timur Stasiun Purwosari

SELAT

1. OMAH GADING (depan soto gading)

2. Selat Omah Selat,

3. Selat Mbak lis, serengan solo

4. Selat Resto Kusumasari,

GADO GADO

1. OMAH GADING (depan soto gading) 
PECEL

1. Pecell asli Bu Kis, belakang kantor Pengadilan

2. Pecel Bu Ugi, Tawangmangu.

3. Pecel ndeso dan cabuk rambak di lapangan Manahan (setiap hari)

4. Pecel wader di waduk tengklik, deket bandara 

BAKMI

1. Bakmi pak Dul wetan Mangkunegaran. 

2. Bakmi jowo mbak yayuk di penumping 

3. Bakmi thoprak anaknya yu nani, prapatan Singosaren ngidul

4. Yu Nani Kartopuran

WEDANGAN/KONGKOW

1. Wedangan Omah Lawas di pasar beling. 

2. Wedangan Omah lodji dekat atau depan tirtomoyo,

3. Wedangan Omah Sinten depan Mangkunegaran 

4. Tiga ceret depan mangkunegaran, 

5. Kebon Kulon belakang pasar kleco, 

6. Play ground masjid kotabarat masuk ke barat (jl kenanga) 

7. Wedangan tradisional Mbah Wir purwosari center point ke selatan

8. Basuki stasiun KA purwosari ke selatan di depan gedung PPBS

9. Gula Klapa depan gedung wanita manahan, 

10. Ralana sebelah timur solo grand mall, 

11. Social kitchen di banjar sari, 

12.Soga resto sebelah barat perempatan Ngapeman

13. Hik depan Koperasi Batik Lawyan

14. Hik perapatan Ngesus

15. Minum teh di Ndoro Donker, atau 

Bale Branti lokasi ditengah kebun teh di Kemuning Karanganyar.

LAIN-LAIN

1.Lontong opor OMAH GADING 

(depan soto gading)

2. Tahu kupat mesjid solikin…+ es podhenng jl gajahmada 

3. Brongkos Warung Masja di prapatan Lapangan penumping, Baron

4. Tumpang koyor di Solo Baru

5. Ayam kampung goreng dengan sambel wijen hitam dan sambel tapuk (karena pedes e) di depan PLN Sukoharjo

6. Sop buntut bu Ugik di Tawangmangu

7. Selat dan tahu acar Mekar Sari baratnya Danar Hadi jl Dr Rajiman.

8.Timlo Sastro, psr Gede, Timlo Maestro keprabon jl Ahmad Dahlan.

9. Sumber bestik pak Darmo jln. Honggowongso.

10. Ayam goreng Kremes bu Dar, jl cokrobaskoro.

11. Ayam goreng Malioboro jl RM Said.

12. Raja Kepiting jl RM Said.

13 Ayam goreng tim Bu Beter Palur.

14. Sate kambing mas Dodo pasar Bekonang.

15. Warung steak Klopo di Joho Sukoharjo.

Glossarium

1.Nasi Liwet

Nasi Liwet merupakan makanan khas Solo yang paling terkenal. Beras yang di masak dengan kaldu ayam yang membuat nasi terasa gurih dan beraroma lezat.

Nasi tersebut dicampur dengan sayur labu siam yang dimasak sedikit pedas, telur pindang rebus, daging ayam suwir, kumut (terbuat dari kuah santan yang dikentalkan).

Disajikan dengan daun pisang yang dipincuk. Nasi Liwet bisa di dapatkan di Warung Nasi Liwet Wongso Lemu Keprabon yang buka mulai jam 18.00 WIB.

2. Timlo Solo

Timlo Solo adalah hidangan berkuah bening yang berisi sosis ayam yang dipotong-potong, telur ayam pindang dan irisan hati dan ampela ayam. Menu ini disantap dengan nasi putih yang ditaburi bawang goreng.

Berbeda dengan daerah lain, timlo solo tidak memakai soun dan jamur. Warung Timlo dapat dijumpai di Timlo Sastro Timur Pasar Gede buka pukul 07.00 WIB dan Timlo Solo di Jl Urip Sumoharjo buka pukul 09.00-21.00 WIB.

3. Tengkleng

Tengkleng merupakan makanan semacam gulai kambing tetapi kuahnya tidak memakai santan.

Isi tengkleng adalah tulang belulang kambing dengan sedikit daging yang menempel, bersama dengan sate usus, sate jerohan, otak dan organ-organ lain seperti mata, telinga, pipi, kaki dan lain-lain.

Kenikmatan menyantap tengkleng akan terasa ketika kita menggerogoti sedikit daging yang menempel pada tulang dan menghisap isinya. Makanan ini dapat ditemukan di Samping Gapura Pasar Klewer yang bernama Tengkleng Ibu Ediyem pukul 11.00-15.00 WIB dan Warung Tengkleng Yu Tentrem di Jl Letjend Sutoyo pukul 09.00 WIB.

4. Pecel Ndeso

Pecel ndeso adalah nasi pecel yang berasal dari beras merah, dicampur sayur yang berisi dedaunan dan tanaman mulai dari jantung pisang, daun kenikir, daun petai cina, bunga turi, dan kacang panjang, sambal wijen putih atau hitam. Disantap bersama belut goreng, wader pari goreng, telur ceplok, sosis solo, bongko (kacang merah dan kelapa), gembrot (kelapa dan daun simbukan), otak dan iso goreng. Warung pecel ndeso yang terkenal di solo adalah Waroeng Tempo Doeloe di Jl. Dr Supomo 55 Pasar M’beling, selain itu juga pecel ndeso banyak dijajakan oleh ibu-ibu berkeliling kampung.

5. Gudeg Ceker

Ceker (kaki ayam) menjadi makanan pendamping yang dihidangkan bersama gudeg. Ceker direbus dengan bumbu santan sehingga terasa lunak dan lezat. Selain gudeg, ceker juga bisa disajikan sebagai makanan pendamping dari bubur. Paduan menu ini akan semakin lezat ketika disiram dengan kuah Sambel Goreng Krecek. Gudeg ceker ini dapat ditemui di Jl. Wolter Monginsidi Margoyudan, Warung Gudeg Ceker bu Kasno dibuka mulai jam 00.02 WIB dan Warung Gudeg sebelah utara perempatan warung pelem buka mulai jam 19.00 WIB.

6. Selat Segar Solo

Selat Segar Solo adalah salah satu bentuk percampuran masakan berkuah dari barat dengan selera lidah lokal yang menciptakan makanan khas solo. Racikan selat solo merupakan adaptasi dari salad yang terdiri dari dagingyang diiris tipis, ditambah rebusan buncis, kentang, wortel, telur pindang, dan mayonaise.

Racikan ini kemudian disiram dengan kuah kecap encer. Warung selat yang terkenal di Solo adalah Warung Selat Mbak Lies di Serengan yang buka pukul 09.00 WIB dan RM Kusuma Sari di Perempatan Nonongan yang buka mulai pukul 09.00 WIB.

7. Soto Gading

Soto yang disajikan langsung bersama nasi putih dalam satu mangkuk. Tersedia juga berbagai lauk sangat komplit di meja-meja pengunjung dengan rasa yang khas. Warung soto ini selalu jadi tujuan wisata kuliner bagi wisatawan yang berkunjung ke Solo. Soto Gading ini terletak di Jl. Brigjen Sudiarjo Gading dan buka pukul 09.00 WIB.

8. Sambel Tumpang

Nasi sambel tumpang terdiri dari nasi putih yang ditumpangi aneka sayuran rebus seperti bayam, taoge, dan kacang panjang kemudian disiram kuah kental. Kuah ini dibuat dari campuran santan dan tempe semangit (tempe yang mulai membusuk) yang dihaluskan.

Biasanya di dalam kuah tumpang ini terdapat tahu putih, telur dan krecek (kulit sapi). Sambel tumpang ini sering juga dinikmati dengan bubur panas yang biasa disebut bubur tumpang. Nasi sambel tumpang ini bisa dijumpai di Seputaran Stadion Manahan yang buka mulai pagi.

9. Sate Buntel

Sate Buntel sate kambing khas kota solo terbuat dari daging kambing yang dicincang, diberi bumbu bawang dan merica dan kemudian dibuntel (dibungkus dengan lemak kambing). Dimakan bersama kecap, irisan cabe rawit, bawang merah, irisan kol dan tomat. Menu yang lain adalah sate kikil kambing dan gule sumsum. Warung sate kambing dapat dijumpai di Jl. Sutan Syahrir No. 39 Widuran.

10. Sate Kere

Sate kere ini unnik karena menu utamanya adalah sate tempe gembus, yaitu tempe yang dibuat dari ampas kedele sisa pembuatan tahu. Selain itu terdapat juga ada sate jerohan sapi, seperti paru, limpa, hati, iso, torpedo, ginjal, dan babat.

Direktori Tempat Nongkrong Pilihan Di Semarang

Kadang, saat pulang kuliah malam, temen suka nanya begini:

“Habis kuliah ntar, makan yuk? Tapi di mana ya?”

Wah itu pertanyaan kadang bikin saya mendadak bingung. Sebenernya opsi lumayan banyak di otak, tapi, pada situasi dan kondisi tertentu – seperti laper bego karena tenaga habis diperas untuk mikir keras saat kuliah – semua yang sudah terbayang di otak seakan lenyap tak berbekas. Alias sia-sia belaka.

Berbekal dari informasi yang dikumpulkan dari jagad internet dan pengalaman menjelajah berkuliner ria di Semarang, mari coba dituliskan saja.

Bukan apa-apa, tetapi, supaya saat pertanyaan itu datang lagi, dan kebetulan yang ditanya juga lagi laper bego, bisa halaman “P3K” tempat nongkrong di Semarang ini dibuka.

Penomoran bukan berarti menunjukkan yang satu lebih enak daripada yang lain. 

Bukan peringkat, apalagi preferensi. Hanya sebatas mencatat saja yang teringat.

Mari kita mulai…..

1. SPIEGEL Bar & Bistro , Jl Letjen Suprapto No 34 Kota Lama 
2. Kafe Buku Deqiko, Jalan Tusam Timur Raya No. 24, Banyumanik, 

3. Banaran Coffee & Tea, jl. Trilomba Juang, Mugas 

4. Legend Cafe, Jalan Trilomba Juang 5, Mugas

5. Angkringan MEDOHO, jl. Medoho Raya

6. Simpang Lima street food & outdoor, pusatnya Kota Ssmarang

7. Taman Tabanas, View Point di perbukitan Kawasan Gombel Hill Semarang.

8. Taman Srigunting

Letaknya persis di sebelah Gereja Blenduk.

9. Public Space Banjir Kanal Barat, Tepian Sungai Banjir Kanal Barat mulai dari sisi Barat Jembatan Lemah Gempal hingga sisi Barat Jembatan Siliwangi.

10. Wifi Corner Pahlawan, yang ada di Jalan Pahlawan Semarang. Tepatnya ada di kantor Telkom Pahlawan dan juga kantor Telkom Simpang Lima.

11. Street Cafe Taman KB , jl. Menteri Supeno 

12. Starbuck coffee Simpanglima, outdoor area mall Citraland 

13. Penitian Warung Kopi , Jl. Taman Puspogiwang No 13,

14. Warung Dinsum Horizon, jl. KH Ahmad Dahlan No.2 Simpang Lima ( lantai 1 lobi area Hotel Horison) 

15. Indomart Point Pandanaran, jl. Pandanaran 

16. HANS Kopi, jalan Pleburan 

17. TUKUTOSU WARUNG SRAWUNG Kedai Angkringan Indoor,

Alamat: Jl. Manggis 1 No 9 

18. HUGO’S Bristo, Jl. Sisingamangaraja No.43 

19. Seven Degrees Bistro & Cafe , Jl. Diponegoro (Siranda) No 38B 

20. MGM Cafe & Gallery, Marabunta Gedung Multiguna, Jl. Cendrawasih 23 Kota Lama 

21. WARUNG’E MAJAPAHIT, Jl. Majapahit

22. Holycow Steak hotel, Jl. Sultan Agung 

23. The Tavern Gastropub , Jl. Rinjani no.1 Semarang (di atas Candibaru Car Wash).

24. Kedai Gula Jawa, jl. Singosari

25. Mr. K cafe & resto, jl. Ki Mangusaskoro 

26. The Harvest, jl. S. Parman No. 72 Candi

27. Medoho d’cafe , jalan Medoho Raya 

28. Dapur Keju, Jalan Taman Kalisodo 9A

29. Kopi Kebun, jl. Panda Barat 1 No. 29

30. Alma Cafe/ Cafe Payung, jl. Tlogosari Raya 

31. Kopi Miring, jl. Pamularsih Raya

32. Recheese Factory, jl. Gajah Mungkur 

33. Onyx Cafe, jl Truntun Raya Tlogosari

34. Starbucks Coffee, Paragon Mall Lt. 1 dan Mall Ciputra 

35. J.CO Donuts and Coffee, Paragon Mall dan Java Supermall

36. Nest’co the Bistro, Jalan S. Parman

37. The Hugo Bristo, jalan Sisingamanggaraja 

38. Double Dipps Resto & Cafe, Jalan Diponegoro

39. Irish Coffee, Jalan Veteran

40. Menur Bistro, Jalan A. Yani (Holiday Inn)

41. Mazzio Polaris Coffee Garden, Jalan Dr. Wahidin

42. My Kopi-O Cafe & Resto, Jalan Sisingamangaraja

43. La Dolce Vita, Jalan Mayjen Sutoyo (Kampung Kali)

44. Icos Cafe, Daerah UNDIP Tembalang

45. Urban Bistro Semarang, Jalan Veteran

46. Strada cafe , jalan S.Parman

47. KoenoKoeni Cafe Gallery, Jalan Tabanan

48. Beans Resto & Coffee, Jalan Mayjen Sutoyo (Kampung Kali)

49. Wong Art Bakery & Cafe, Jalan Puri Anjasmoro

50. River View Cafe, Jalan Ahmad Dahlan (Simpanglima Residence)

51. The Blue Lotus Coffee House, Jalan A. Yani 197

52. Black Canyon Coffee, Jalan Rinjani

53. Linds Cafe Ice Cream and Resto, Jalan Papandayan

54. Pisa Cafe and Resto, Jalan Diponegoro

55. Peacock Coffee, Jalan S,Parman

56. Rinjani View, Jalan Rinjani

57. S2 Sisingamangaraja Sites, Jalan Sisingamangaraja

58. Oasis Resto & Cafe, Jalan Tumpang

59. Prince House Cafe & Resto, Jalan MT. Haryono

60. MASSIMO (Basilia) Cafe , Jalan Dr. Wahidin

61. El Blossom Cafe, Resto & Bookstore, Jalan Pandanaran

62. Kopi Luwak Coffeeshop, Paragon Mall, Java Supermall

63. Excelso, DP Mall, Paragon Mall, dan Mall Ciputra

64. Pelangi Cafe, Jalan Singosari

65. Stove Syndicate, daerah UNDIP Tembalang

66. Coco Madeleine, Coffee Shop, Jalan Sisingamangaraja

67. Parijs Van Java Family Resto & Cafe, Jalan Singosari

68. La Luna Cafe Lounge & Resto, Horison Hotel

69. Mr Pancake, Jalan Taman Beringin

70. Haagen Dazs, Paragon Mall, 

71. Sour Sally, Paragon Mall

72. Viavo Restaurant, Jalan Gajahmada

73. Toasty Eatery, Jalan Kemuning

74. Massimo Pizzeria,Picato Steak & Ice Cream, Jalan Argopuro

75. Tandhok Ribs & Coffee, Jalan Kelud

76. Picato Steak & Ice Cream, Jalan Argopuro

77. Clapper Movie Cafe, jl. Jati Raya Banyumanik

78. GiggleBox Cafe & Bristo, jalan Diponegoro 45 

79. Seoul chicken jl. Hasannudin 

80. Rustico kitchen , Jl. S. Parman 

81. Nestcology jl . Tambora

82. Foodcourt Paragon, Jl. Pemuda

83. Kedai Amarta jl pleburan

84. Coffee & Chef jl erlangga,

85. Markaz jl. Dr cipto,

86. Kofinary jln dr.cipto

87. Blackbone Coffee, jl. Durian Raya Banyumanik

88. Du Portrait cafe, Ruko Royal Square Blok A7, Jl. Marina Raya

89. EDEN Italian Cafe, Jl. Dr Wahidin 41 

90. NasiKucing PAK GIK, Jl. Gajah Mada

91. Fish & CO, Jl. Dr Wahidin 41 Tanah Putih

92. ME KONG, Jl. Hasanudin 

93. Marie Anne ice cream & co, Jl Rinjani (hotel Studio Inn)

94. LAKERS, Jl. RM Hadi Subeno BSB Niken

95. GOOD FEELAS, Jl. Gajah Mungkur 

96. BUD’S coffee & angkringan, Jl. Hamka belakang pasar Jrakah 

97. A to Z jalan Sumbing 

98. MARKAZ Jalan Dr Cipto

99. TUNJANG cafe, jalan Fatmawati Ketileng 

100. MOM MILK, Jl. Muria 10 Gajah Mungkur

101. SUSU BU LURAH, Jalan Tlogosari Raya 

102. PANGSIT MAYO, kawasan Taman KB

Well, mari catatan ini disimpan dulu di blog. Siapa tahu suatu saat butuh ide mau nongkrong ke mana, tinggal buka blogpost dan pilih opsinya. 

Daripada repot mencari, itu saja sudah butuh waktu, belum lagi perkara milihnya. Begitu ?

Warung Nasi Mbak Nik, Warung Nasi Merakyat dilengkapi WiFi Gratis 

Semarang, Nandonurhadi sudah lama juga ya, saya nggak menulis di blog. Postingan terakhir di bulan Januari 2016. Kalau tidak salah ingat. 

Apa kabar teman-teman? terima kasih bagi teman-temanku yang setia bolak-balik blogwalking  ke sini. Maafkan, beberapa kesibukkan membuat Nando urung menulis di blog belakangan ini. 

Jadi, harap maklum, kalau tak serajin biasanya menelurkan tulisan baru. 

Hari ini, pukul 10.00, seperti biasa saya memulai aktivitas. Sudah mandi, rapi, walau tumben nggak ngopi. 

Pagi ini saya memutuskan untuk mencari sarapan di luar. Keliling-keliling. Cari suasana baru. 

Berangkatlah ke sebuah warung Nasi di kawasan Gajahmungkur Semarang. Di sekitar sana, memang banyak sekali warung nasi. Mengingat, ada beberapa hotel, restoran, dan perkantoran di dekat kawasan itu. 

Wajar saja, kalau peluang ini dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian orang. Memberi kemudahan makan siang ke para pekerja.

Berdasarkan pengalaman menjelajah kuliner sekian lama, saya terburu-buru menjatuhkan pilihan. Karena memang di sekitaran lokasi, banyak sekali warung sejenis.

Tempat mana yang sekiranya paling bersih dan rapi. Kelengkapan lauknya bagaimana, mengamati tukang masaknya, bisa parkir tanpa mengganggu lalin kah, aroma masakkannya bagaimana, dll

Setelah sejenak berkeling….

Akhirnya, pilihan saya jatuh ke sebuah warung nasi di Jl. Argopuro Semarang. Masih kawasan gajahmungkur. Gangnya dekat dengan SPBU. Kunjungan pertama. Sambil harap-harap cemas, semoga pilihan saya tak keliru.

Warung Nasi Mbak Nik, Jl.Argopuro Semarang

Ancer-ancer

• Dari SPBU Gajahmungkur Semarang, ambil arah mom-milk. Cari gang masuk pertama sebelah kanan (Jl. Argopuro)

• Begitu masuk, lurus aja sekitar 200 m

• Lokasi sebelum Mom Milk, sebelah kanan jalan kalau dari arah SPBU.
• Kalau sudah nembus ke Jl. Diponegoro, berarti kelewatan. Silakan puter balik.
 

Lokasi Warung Nasi Mbak Nik Jl. Argopuro Semarang
 
Sesampainya di sana untuk kali pertama, bukan ucapan selamat datang yang diterima. Tapi……

“Mas, wifinya ada lho! Passwordnya: *****”
Canggih! 😂👍🏻

  
Walau cuma kelas warung nasi pinggir jalan, lauknya komplit, tempat bersih, dan suprisingly, soal rasa bisa diadu dengan tempat makan kelas di atasnya. 
Pas kesini, saya makan pakai sambel pete. Juara! Enak banget. Petenya empuk, sambelnya sedep.

Menu lain yang bekesan? oseng daun pepayanya. Sedep. Nggak pahit.

Belum habis pujian saya untuk dua menu itu, menu lain kembali layak untuk dipoedjikan. 

Mangutnya pindang kuahnya mantap. Pedes dan gurihnya pas. Nggak menyiksa yang makan.

Gorengannya juga berani bikin ukuran besar. Nggak pelit. Seribuan per biji pun kita ikhlas menebusnya.

Budget makan di sini cukup belasan ribu saja per orang, tergantung kombinasi menu yang dipilih.

Sepiring nasi, oseng daun pepaya, mangut, sambel pete, sejumput mie goreng, bakwan gorengan dan teh panas cukup ditebus dengan budget Rp 12.000,- saja.

Maafkan teman-teman, saking enak dan lahapnya saya makan, sampai lupa mendokumentasikan aneka menu makananannya. 

Sepertinya lain kali perlu kembali lagi ke sana ya? Makan lagi sekalian motret sepiring nasi plus aneka lauknya, ya?

“Rekomendasi Kuliner Bebek di Semarang” : Cerita Tentang Nikmatnya Cicipi Seporsi Bebek Kemangi

Semarang, salah satu kota yang menurut kementrian pariwisata memiliki potensi besar di bidang kuliner. Bersama dengan Bandung, Solo, Yogya, dan Surabaya.

Kuliner bebek, menjadi salah satu kategori favorit saya. Di Bandung, -kota tempat saya kuliah S1 dulu- tak susah menemukan kuliner bebek yang sedapnya cocok di lidah. 

Bebek Ali samping Borromeus, bebek Pak Joss,  atau bebek om Aris bisa jadi opsi yang pas.

Lain Bandung, lain Semarang. Setelah 7 tahun meninggalkan kota asal, tak banyak referensi terbaru di kota ini yang sanggup memuaskan lidah saya.  

Bersyukur ketemu Nasi Bebek Kang Jono. Akhirnya, lidah selektif lagi pemilih, ditambah, tak mudah puas ini, berhasil menemukan periuknya. Lokasinya ada di Jl.Supriyadi No.34C.

 

Lokasi Bebek Kang Jono Jl.Supriyadi 34 C
 
Sebetulnya, sudah lebih dari sekali menyusuri Jl.Supriyadi mencari warung kang Jono ini, tapi karena ketutupan plang tempat lain yang ada di sebelah kanan-kirinya, membuat pencarian sebelumnya tak membuahkan hasil. 

Alhamdulillah, hari ini, penantian saya terbayar juga. Supaya teman-teman tak mengalami kesulitan seperti yang saya alami, ini saya bagi beberapa petunjuk:

– Dari Jl.Majapahit belok kiri, masuk ke Jl.Supriyadi (Arah ke Tlogosari/Soekarno-Hatta).

– Tidak seberapa jauh dari situ, njenengan ketemu Waroeng Steak di sebelah kiri jalan. 
– Dari Waroeng Steak, silakan maju lagi sekitar 100 m. Lokasinya persis di sebelah sanggar rias puspita.

Pertama kali kesini, memutuskan untuk mencoba yang namanya bebek kemangi. Menu yang berulang kali jadi tema diskusi hangat di komunitas.

Selera orang memang masing-masing, tapi saya setuju kalau ada yang mengatakan: 

“Bebek kemangi kang Jono ini enak tenan, pantas dijadikan referensi/rekomendasi.”

Saya setuju, mengangguk sangat setuju. Sama seperti setujunya Anda dengan betapa enaknya Bebek Ali Borromeus yang legendaris di Bandung itu.

Saya berpendapat demikian bukan tanpa alasan dan penjelasan masuk akal. Baca dulu tulisan ini sampai selesai sebelum Anda memilih untuk bersebrangan opini.

Pertama, pahamilah bahwa karya kuliner satu ini, bukan cuma tentang  kemampuan si juru dapur dalam mengatasi bau amis mengganggu yang biasa terdapat di olahan daging bebek. Tetapi ini juga tentang keberhasilan si pembuat masakan menghadirkan citarasa khas. 
Kedua, suapan pertama ketika saya mencicipinya, memberi kesan tersendiri. Dagingnya sebegitu empuk. Bumbunya, duh…. meresap sampai ke dalam. Wajar jika kemudian, bebek kemangi kang Jono lalu mampu berpadu pas dengan sepiring nasi hangat. 

Selanjutnya,  salah satu penentu -enak atau tidak enaknya- kuliner bebek/ayam adalah: kemampuan sambal menjadi sebuah komponen komplementer bagi komponen yang lain.

Bagi saya, ini sambel bukan sembarang pelengkap, tetapi sebuah pelengkap yang sempurna. 

Lha kok? Pedes sambelnya khas, nggak nyegrak, nggak bikin perut kaget. Kalau boleh jujur, tanpa sambel pun, sebenarnya bebek kemangi ini sudah enak, begitu pakai sambel? Lebih enak lagi!

Ah ! Sambelnya pun bikin kapok! Kapok lombok ! alias mau lagi mau lagi dan mau lagi ! 

Soal harga menurut saya sepadan dengan rasa yang ditawarkan. 

Nasi + Bebek Kemangi +Es teh = Rp 32.000,-
Terlebih, pada saat datang tadi, bebas nambah nasi putih sepuasnya, masih berlaku.
Luar biasa, 

Bebek kang Jono: 
Recommended!
 

Sepotong Bebek Kemangi Kang Jono. Nggak kekecilan, nggak kegedean. Pas mengenyangkan!
 
Tapi sekali lagi, apa mau dikata, preferensi/selera seperti halnya keimanan, sifatnya pribadi, tak bisa dipaksakan. 

Penulis blog ini hanya mencoba “memberikan hidayah” pada Anda, -pembaca blog saya-  bahwa yang satu ini layak untuk dicoba.

“Lho Dek, bukannya punya warung makan? Kok sukanya promosiin jualan orang lain?”

“Lho Dek, bukannya punya warung makan? Kok sukanya promosiin jualan orang lain?”

Pertanyaan itu dilontarkan satu, dua, tiga dan sekian orang beberapa waktu lalu. Menurut dia, kelakuanku yang satu itu tergolong tedjo!  alias ndak jelas. 

“Aneh, orang mah biasanya mempromosikan usaha dia. Tempat makan dia. Masa iya mau-maunya promosiin usaha orang lain. Ngapain coba. Di saat orang lain ngejar personal branding, melambungkan namanya, kamu malah ga mikirin itu.”

Ijinkan penulis menjawabnya dengan pemaparan orang lain pula. 

Kemarin, masih hangat di kepala. Saya jalan-jalan bareng Paklik, ke salah satu warung bakmi jawa kaki 5 enak di kawasan kota lama. Bakmi Jowo Pak Hendro namanya. 

Iseng-iseng, kulontarkan pertanyaan yang sama ke Pak Lik (om). Pertanyaan yang sudah sering banget kuterima. 

Yang selama ini, paling banter kujawab pakai senyum, atau paling-paling cuma “hehehe” saja, kalau pertanyaan itu dateng via teksting. 

Walau dalam hati, tentu aku punya alasan sendiri kenapa aku mau melakukan itu.

Kembali ke topik.

Pertanyaan yang sama:

Paklik, kenapa sih, paklik mau promosiin warung orang? Promosiin jualannya om Indro, sampek-sampek ribet ngajak aku pula pas jam makan siang. 

Jawaban dari pertanyaan itu, kira-kira begini:

“Dhel, saat melihat dagangan orang laris, apalagi itu karena kita…

….Berkat rekomendasi kita, ada orang yang tadinya gak tau, lalu rela datang jauh-jauh demi makan ke tempat om Indro, piye perasaanmu?”, tanyanya terlihat serius.

(Baca tulisan tentang Bakmi Jowo Om Hendro Kota Lama Di Sini)

“Seneng lah Paklik. Emang kalau Paklik gimana?”

“Ya seneng lah ! Ada kepuasan tersendiri. Jangan dikira itu bukan pahala lho.”, sahut Pak lik ku tadi antusias. 

“Gara-gara word of mouth kita, dagangan dia laris, siapa yang ndak seneng?”, lanjut Paklik ku lagi.

“Wah, bener juga ya.”, bathinku kemudian. 

Kalau dagangan laris, orang itu akan untung. 

Kalau untung, dia bisa beri pekerjaan ke lebih banyak orang. Buka lapangan kerja baru. Yang tadinya nggak ada kerjaan, jadi ada kerjaan. 

Lebih banyak orang jadi bisa makan. Dampaknya, belum tentu sesimpel yang nampak oleh mata.

Hidup itu, nggak melulu soal cari untung semaunya sendiri, nggak melulu cuma soal persaingan. Tapi, juga soal kolaborasi. Maju bersama-sama. Berbagi kebahagiaan, berbagi rejeki. 

Percakapan kami kemarin, terjadi sepulang makan siang. Rasa-rasanya, akan menjadi salah satu percakapan yang akan terus teringat, selama usia masih ada.