Sak Madyane


Sak madya ne, segalanya serba ing madya, tengah-tengah, secukupnya saja.

Senang ya cukup, tidak berlebihan. Sedih ya tak berlarut/berlebihan, bicara seperlunya, makan seperlunya, minum secukupnya, tidur secukupnya, semua hal seperlunya saja.

Karena sakmadya itu tadi salah satu kunci menjadi orang “*ja-wa”seutuhnya, wong ingkang joyo, ing jiwo.

Hakekat Ponokawan Versi Sudjiwotedjo

Kalau ndak punya uang untuk hiasan dinding, ndak usah beli wayang ponokawan Petruk, Bagong, Gareng dan Semar.

Ponokawan: Semar, gareng, petruk ,Bagong.

Karena keempat-empatnya itu sudah ada di dalam dirimu. Mereka menemanimu. Mereka menerangimu. Keempatnya mendampingimu sebagaimana mereka mendampingi lakon utama pewayangan. Mereka mendampingimu dalam melakoni kehidupan.

Maka disebut ponokawan, pono = terang atau menerangi, kawan = sekawan atau empat. Empat teman yang menerangimu, ponokawan, bukan punakawan seperti disalahkaprahkan, karena puna tak ada artinya.

Gareng kakinya cacat. Jalannya pincang. Perlambang kehati-hatian. Bila kamu sedang berhati-hati, maka yang sedang bicara banyak dalam dirimu adalah Gareng. Di depanmu ada perempuan bergaun, dan kamu bertanya apakah itu kedok sebagaimana topeng, krn hakikat gaun dan topeng sama-sama kedok. Saat itu yg dominan bicara padamu adalah Gareng.

Petruk badannya serba kendor. Pertanda ia woles. Bila perempuan di depanmu itu tak memakai gaun untuk kedoknya tetapi kebaya atau yg lainnya, ia pun tak peduli. Ia akan tetap Mesam-mesem dan easy going.

Bagong seperti bentuk tubuh dan matanya. Orangnya polos. Goblok tapi pertanyaan-pertanyaanya selalu mendasar, ibarat pertanyaan anak kecil yang sering mendasar dan bikin repot kakak-kakak atau orang tuanya. Bagong misalnya tak akan mempersoalkan gaun dan topeng perempuan di depanmu, tapi bertanya knp sih perempuan itu harus ada.

Bagaimana komposisi kemunculan Gareng-Petruk-Bagong dalam dirimu? Setiap situasi dan kondisi berbeda-beda.

Saat habis putus cinta maupun PHK mungkin Gareng lebih dominan. Namun, tak selalu demikian adanya, bisa jadi, pada orang lain, dalam sikon yang sama, malah Bagong yang lebih dominan.

Siapa yang mengatur komposisi itu?

Semar dalam dirimu !

Siapa tahu, puasa (atau laku lainnya) adalah cara Tuhan menampilkan Semar yang ideal dalam diri kita masing-masing agar bisa menjadi moderator yang baik untuk meracik komposisi Gareng-Petruk-Bagong dalam diri kita pada setiap situasi dan kondisi.

Sumber: Sujiwo Tejo – 

Laku Ngemis Dan Ikhlas

Salah satu guru saya, pernah menjalani suatu laku yang aneh. 

Guru saya ini, begitu haus akan ilmu. Ilmu yang sebenarnya punya satu muara. 

“Apa itu hidup?”

Sekian banyak kyai ia temui, ada yang ia mintai rejekinya, ada juga yang ia mintai sandang pangannya. 

Pernah dia kehabisan bekal di pengembaraan, sampai suatu waktu ia pergi ke sebuah pesantren, ketemu kyai. Diberi makan, minum, dicukupi kebutuhannya, dan seterusnya. Rahasianya? ah entahlah. 

Dalam rangka mencari ilmu memahami hakikat kehidupan itu tadi, pada periode tertentu dalam hidupnya, guru saya ini, selama setahun penuh, pernah ia memutuskan untuk melaksanakan suatu laku tertentu. 

Laku ngemis namanya. 

Betul, njenengan ndak salah baca. Beliau selama setahun berkeliling ke berbagai tempat untuk menjadi seorang pengemis. Berempati, masuk dan belajar pada kehidupan seorang pengemis. 

Yang betul-betul pengemis. Bukan pengemis profesi, pengemis yang berganti pakaian tiap hari, pura-pura miskin di kota, namun kaya dan berharta dimana-mana saat pulang ke desa.

Ini perihal berempati pada pengemis sungguhan, non profesi. Pengemis yang tak bisa makan jika hari ini nir pemberian orang. Atau mungkin lebih tepat disebut dengan istilah: (mereka yang terpaksa menjadi) pengemis.

Setiap hal yang allah ciptakan memiliki maksud, arti dan guna tertentu. Berangkat dari situ, setahun penuh ia menjadi pengemis. Ia berkeliling dari tempat satu ke tempat lainnya. Berbeda-beda. Tidak boleh sama. Terus, setiap hari menjalani laku sembari mengembara. Meninggalkan anak istri, harta, teman dan saudara. Langit menjadi atap, bumi menjadi rumah baginya.

6 bulan pertama, guru saya itu melakukan kekeliruan dalam menjalani laku ngemis. 

Dia mengemis seperti layaknya pengemis profesi. “Nyuwun ndoro….”. Ngarani, menyebut-nyebut pemberian. 

Karena keliru, hitungan yang sudah berjalan selama 6 bulan itu, terpaksa ia ulang lagi dari awal. 

Menjadi pengemis, bukan sembarang pengemis. Ia menjadi seorang pengemis yang “pasrah”. 

Dalam lakunya itu, ia dilarang untuk berbicara pada si pemberi. Berdiam menutup lisan, namun sembari berdoa dalam hati diikuti oleh tangan yang pasrah menengadah. 

“Tangan di bawah, serendah-rendahnya derajat ikhtiar. Namun berbekal setinggi-tingginya tawwakal dan rasa malu.”, kata dia.

Suatu kali, pernah ia dapat Rp 2000,0o, pernah juga Rp 5000,00. Tapi yang fenomenal, pernah suatu kali ia mendapat Rp 100.000,00

Iya, 100rb. Walau dengan makian setelahnya. Sebelum mendatangi seseorang yang ia tuju, beliau berdoa dengan khusyuk pada Tuhan. Berdoa meminta namun tak memaksa.

“Isih enom, bagas waras kok ngemis. Kono nyambut gawe!”

Dari laku ngemis itu, guru saya mendapatkan pelajaran berharga. 

Kabeh uwong kuwi wis ono peran lan jatahe dhewe-dhewe.

(Semua orang itu sudah ada peran dan jatahnya sendiri-sendiri.)

Nek memang wis jatahe ora ono sing iso nglangi. 

(kalau memang sudah jatahnya, tidak ada yang akan bisa menghalangi)

Sak akeh-akehe rejeki soko nyenyuwun, luwih becik hasil keringete awakke dhewe.

(Sebanyak-banyak rejeki dari meminta. Masih lebih utama hasil jerih payah sendiri.)

Kalau pakai bahasa anak muda sekarang, kira-kira begini.


Inti sari ilmu ikhlas itu ya, itu dia. Hasil laku ngemis itu tadi.

Filosofi Irama Gamelan “Neng, Ning, Nung, Gung” dan Ajaran Jawa Kuno

Kemarin, saya berkesempatan bertemu dan belajar pada seseorang. Orang yang masih ngaruh-aruhi (bahasa jawa; melestarikan) budaya dan tradisi jawa. 

Ternyata, terdapat isi yang terkandung pada tradisi. Ada sesuatu, ada pesan yang ingin disampaikan ke anak cucu. 

Gamelan. Sumber gambar: wikipedia

“Saat gamelan itu ditabuh, kenapa kebanyakkan punya bunyi irama: neng ning nung gung?”, kata guru saya. 

“…….”, diamku sejenak. 

“Kenapa Pak?”, tanyaku kemudian disertai rasa penasaran.

“Di sana ada pesan tersirat.”,  jawabnya lirih, diikuti jeda diam kemudian. 

Diamku menyimak. 

Sebenarnya, budaya jawa dan budaya arab punya titik temu. Itulah mengapa, islam sanggup diterima secara luas di sini. 

Namun, terdapat perbedaan yang mesti kita pahami. Agar orang jawa tidak kehilangan identitasnya.

Orang arab, mendekati gusti. (BaGUS ing aTI) dengan cara banyak lapar (berpuasa, berempati pada orang lain) dan banyak berdzikir mengingat Tuhannya. Menahan diri.

Sementara, orang jawa mendekati gusti dengan cara banyak melek dan sedikit bicara. 

Itulah pesan tersirat yang terkandung dalam bunyi gamelan: neng ning nung, gung. 

Neng:

Meneng (diam) maka hening. 

Ning:

Hening maka renung. 

Nung

Renung maka gung.

Gung

Bertemu yang maha agung. Ketemu sejatining diri. Guru sejati.

Saya pun mengangguk. Tanda mengerti. 

“Banyaklah kamu diam, dan banyaklah kamu mengamati. Meneng lan melek tadi.

Kenapa? Dengan banyak diam (neng), maka kamu akan lebih banyak mengamati daripada berbicara (ning), dengan lebih banyak mengamati maka kamu akan lebih mampu berempati (nung). 

Dengan mampu berempati maka kamu akan lebih mampu mengendalikan dirimu. Dengan mengendalikan diri, kamu akan mengenal siapa dirimu. Dengan mengenal diri, kamu akan mengerti siapa Tuhanmu (gung).”

Muara yang ingin dicapai serupa, bukan ?

Bukankah puasa dan berdzikir itu juga menahan lapar, nafsu dan indra? Mengendalikan diri pula.

“Kalau kamu mau selamat, Jagalah ini.”, kata beliau sembari menempelkan jari telunjuk ke lisannya.

Wong jowo, ojo nganthi kelangan jawane.”(Terjemahan: Orang jawa, jangan sampai kehilangan identitas jawanya.), pungkasnya sambil tersenyum.

Bujang Dugang, Esem Mantri, dan Semu Bupati Sasmitha Nalendra

Kalimat tersebut bercerita tentang komunikasi dalam falsafah Jawa.

Bujang dugang, itu orang awam, kalangan orang yang tidak berpendidikan. 

Kalau zaman sekarang ya kuli di pasar, orang-orang yang bekerja dg hiruk pikuk dan terik. 

Memberitahu orang bujang dugang harus menyampaikannya dengan jelas bahkan berteriak. Bahkan berteriak saja di pasar bisa tetap tidak dengar. Intinya terhadap bujang dugang, perintah harus jelas secara eksplisit. 

Berbeda dengan kalangan esem mantri. 

Esem mantri itu khalangan menengah. 

Kalau pada zaman dulu ya dibawah bupati. Memberitahu mereka hanya cukup dengan esem (senyum).

Senyum saja sudah menjadi pasemon (isyarat). Kaum esem mantri sudah paham apa yang dimaksudkan. 
Level komunikasi yang terakhir adalah: Semu Bupati Sasmitha Nalendra. 

Orang yang berpendidikan tinggi dan memahami sastra. Ini mewakili kalangan atas, termasuk raja, kaum terpelajar, pujangga, dll. 

Kaum yang satu ini menyampaikan sesuatu secara tersamar (semu). Penuh simbolik dan makna, juga tidak frontal/langsung.