Kupon Diskon Airyrooms 2017

Malam, lama sudah saya tidak menulis blog, apalagi tentang makanan. Belakangan memang sibuk dengan pekerjaan.

Barusan, saya dapat informasi di mailing list kalau ada program diskon Rp 100.000,- dari airyrooms. Mau ?

Airyrooms adalah bisnis jaringan kamar hotel budget dengan jaminan kenyamanan.

Apa itu ? Kamar yang tersedia di airyrooms dipastikan memakai linen lembut, TV flat, AC, Snack, Air mineral, Perlengkapan mandi, dan Wifi.

Harga kamarnya pun beragam, mulai dari 100rb an untuk kamar Eco, 200-300rb an untuk kamar standard, mulai harga 400rb an untuk kamar kategori premiere. cukup murah, bukan ?

Kalau lagi backpackeran saya juga pakai ini sih. Nggak berani merekomendasikan kalau belum pernah coba.

Karena belum punya waktu untuk liburan, masih sibuk dengan pekerjaan kantor, sementara saya dapat tawaran voucher 100rb, monggo vouchernya dipakai saja. Cuma berlaku sampai 31 Desember 2017 ya !

Diskon Voucher 100 ribu airyrooms

Klik link biru di bawah gambar untuk mengambil voucher diskon Rp 100.000,- nya!

Advertisements

Pengalaman Ikut #KelanaRasa Chapter Semarang

Halo, selamat siang. 

Sesekali ah nulis sesuatu yang ringan-ringan dengan bahasa yang ringan juga. 

Asli, hari ini ada kejadian yang sedemikian plot twist. 

Jadi ceritanya, hari ini ane ikutan #KelanaRasa chapter semarang. 

Apa itu #KelanaRasa ? Kelana rasa itu EO, trip organizer, culinary solutions bikinan mas @arieparikesit , yang sering banget ngadain traveling tapi dengan ceruk pasar khusus. Travelling plus menggali khasanah kuliner lokal di tempat yang kita kunjungi.

As simple as, travelling tapi ada kuliner-kulinernya gitu deh. All day culinary trip. From one place to one another.

Walaupun cuma ikut menyusul di hari ke-2 , tapi pengalaman kali ini terasa begitu berkesan. 

Pertemuan hari ini diawali dengan bertukar kopi sama mas Arie di loby hotel di tempat doi nginep. 

Tak seberapa kemudian, datangnya pak supir carteran dengan elf-nya yang berjasa mengantar kami kemana-mana selama trip ini berlangsung.

Tadi hari ini kemana aja ?

Well, gue sempat ikutan ke 2 eating spot. 

Pertama, ke nasi goreng Mr.Park. Bukan Park Oppa Oppa korea ya, Park ini maksudnya Pak Taman. Hahaha…

Detailnya di mana? tanya mas Arieparikesit deh. Ikutan tripnya sekalian kalau perlu :p


Tapi yang pasti, kalau berkunjung ke Mr.Park, maka pesanlah nasgor babad parunya. Nasi goreng dibikin dadakan fresh from wajan, ditaburi aneka isian babad, paru dengan porsi yang ga pelit. Plus selimutan telor dadar hangat gurih karena yang dipakai adalah telor bebek fresh. Dapat dari peternak kemarin sorenya. Lazisnya sahih. 

Setelah Pak Taman, rombongan juga mengunjungi rujak cingur Yu Sri, di bilangan Pekunden Semarang.

Di sini yang khas, dan wajib pesan adalah petis kangkung cingurnya. Semua tertata pas. Overall, in balance composition. Kangkung segar nan fresh, cingur yang kenyalnya pas, komplit dengan siraman petis udang yang….. hm… Harum semerbak.  Oppa oppa pasti bakalan bilang:  ini…. daebak!

Minumnya? Es kolak klapa atau es kolak cincau. Glek glek glek, segernya bener-bener penghapus dahaga.


Selain wisata kuliner, kita juga diajak ke lawang sewu. 

Seru ! 

Di sana kita diajak berkeliling, wisata sejarah. Ternyata, ane juga baru tau kalau lawang sewu itu dulunya kantor administrasi perusahaan kereta api Belanda Nederlands Indische Spoorweg Maaskapiij atau biasa disingkat NIS. Maka, tak mengherankan, penduduk sekitar lawang sewu, dulunya menyebut gedung itu dengan panggilan gedung NIS.

Bagaimana lawang sewu dibangun, siapa pembangunnya, perjalananya yang beberapa kali alih fungsi membuat kami serasa kembali ke era kolonial.


Salah satu sudut lawang sewu, mampu membuat kami semua terkekeh geli. Pada saat penjelasan riwayat seragam PT.KAI dari masa ke masa, di sana ada manequinn yang diberi nama Jonan. 

Iya, Jonan, (Ignatius Jonan, eks Dirut PT. Kai yang juga kemudian jadi Menhub. – Kini menteri ESDM- ).

 Pemberian nama itu dimaksudkan sebagai sebuah kenang-kenangan. 

Bukan tanpa alasan manajemen museum berbuat demikian, pengelola (museum) lawang sewu beranggapan bahwa Jonan adalah tokoh yang sudah banyak melakukan innovasi dan perubahan positif bagi industri perkereta-apian negeri ini. 

*Cekrek*! 

“Kirim ke orangnya ah….”, Seloroh salah satu peserta yang ternyata juga teman baik pak Jonan. What a plot twist. 

Tak ayal, Pak Jonan pun ikut geli menerima kiriman gambar itu.
Banyak hal kocak terjadi di sepanjang trip kami. Termasuk tentang penyesalan Mas @ngabdul karena sarapan avocado toast set sebelum pergi sarapan ke nasgor Mr.Park. (Yang porsinya… ya begitulah :p)

Tak heran, trip #KelanaRasaSemarang ini berkesan buat kami semua. 

Terima kasih Om & Tante Syahrir, Aco, bang Noka, Mas @ngabdul dll dan tentu saja, our culinary buddy: Mas @Arieparikesit !

See ya on the next trip !

“Kode Promo Uber Semarang” | 20 April 2017 : Uber Mengaspal di Semarang

Semarang, Kamis 20 April 2017 layanan Transportasi online UBER mulai beroperasi di Semarang. 

Hal ini terlihat jelas melalui pengumuman akun twitter resmi mereka di @uber_IDN

Uber Hadir Di Semarang
Kebenaran informasi itu pun coba langsung saya konfirmasi via DM ke akun resmi uber.

Hasil DM an sama akun resmi uber indonesia

Selain itu, saya juga install applikasinya di gadget saya, eh beneran sudah muncul dong !

Uber mulai beroperasi di Semarang

Kayaknya saya termasuk generasi awal yang pakai uber di semarang. 

Baiklah, siapa mau diskon 25rb sampai 3x naik ? 

Yang mau silakan pakai Kode Promo ini ya:

I’m giving you IDR25,000 off each of your first 3 Uber rides. To accept, use code ‘nandon85ue’ to sign up. Enjoy! 

Details: https://www.uber.com/invite/nandon85ue

Cah Semarang ? Piye ndes ? wis tau njajal Uber? 

Warung Mbak Tun dan Culinary Local Wisdom: Karena Bicara Kuliner Nusantara Tak Melulu Perkara Rasa

Selamat malam semuanya, sudah lama ya Nando nggak nulis. Di ranah offline pun, teman-teman yang protes sudah melebihi hitungan jari tangan. Sebelum ditambah sejumlah jari kaki, maka saya memberanikan diri mencoba menulis lagi.

Ranah daring memang tiada habisnya, ia terus hidup 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Ribuan orang lalu lalang mampir ke blogku yang keliatannya sudah semakin berdebu. Maaf ya… hehehe

Pagi ini, ada yang unik. Makan di sebuah warung kecil, nyempil, dekat pasar Babadan Ungaran, Kabupaten Semarang. 

Memang sih, secara fisik tempat ini seperti tempat makan kebanyakkan. Seakan tiada beda. Jujur kukatakan, menunya pun jauh dari kesan kekinian. 

Cuma warung sate ( yang juga jual gule, tongseng, dan Igo gongso).

Penampakan Warung Sate Mbak Tun
Daftar Menu Warung Mbak Tun Babadan Ungaran

“Sebentar, Igo gongso? Apa itu ?”

Ah ! Kalian jeli ! iya.. iya.. memang, yang satu ini belum tentu ada di sembarang warung sate kambing. Igo gongso, kedudukannya bak hilal kemunculan menu sate buntel ke dalam daftar, rata-rata cuma terlihat pada lembaran menu di warung sate lokasi Surakarta dan sekitarnya.

Sebelum kita ngobrol lebih jauh soal Iga gongso, ijinkan saya sedikit membahas mengenai local wisdom di dunia perkulineran nusantara.

Mbak Tun ini, contoh bagus bahwa kuliner kita tak melulu soal kekayaan rasa, kekayaan variasi bahan dan bumbu, keberlimpahan kreasi. Tetapi juga, erat kaitannya dengan khasanah lokal yang berlaku masyarakatnya. 

Satu hal yang unik, dan belum tentu ditemukan di tempat lain. Warung ini buka mengikuti pola hari pasaran jawa. 

Mbak Tun cuma buka warung di hari LEGI dan WAGE saja. Tak pandang bulu hari apa di kalender masehi. Entah libur nasional, hari besar dst. 

Hari pasaran ? apa itu ?

singkat cerita, begini….

Dalam kebudayaan jawa, dikenal 5 hari  pasaran. PON, WAGE, KLIWON, LEGI, dan PAHING. 

Misalnya, pasar burung hanya buka di hari pasaran Senin PON. Maka, setiap Senin PON , para pedagang dan pembeli burung bersepakat untuk bertemu di pasar pada hari tersebut. 

Setelah Senin Pon, ada Selasa Wage, Rabu Kliwon, Kamis Legi, Jumat pahing. Sudah semua ? Maka hitungan yang berlaku kembali lagi ke Pon. 

Hari apa selanjutnya? setelah Jumat pahing tadi, sudah barang tentu Sabtu Pon, diikuti oleh Minggu Wage, lalu Senin kliwon , begitu seterusnya.

Jujur saya katakan, dari kacamata historis, penulis tidak begitu paham secara mendetail bagaimana mulanya hari pasaran itu bisa ada. 

Tapi sejauh yang penulis ketahui, pola perhitungan hari semacam itu merupakan sebuah kesepakatan bersama dalam sistem kemasyaratan leluhur kita dahulu. 

Hari pasaran yang berlaku seringkali berbeda antara pasar satu dengan pasar lainnya. Beda barang yang dijual, berbeda pula *hari pasaran (*kesepakatan) yang dibuat.

Hari pasaran untuk pasar burung bisa jadi berbeda untuk pasar buah. Lain pula yang berlaku untuk pasar daging. Namun, untuk sekelompok barang yang punya faktor kesamaan, bisa jadi dijual di hari pasaran yang sama. Sesama hasil ternak unggas misalnya. 

Namun demikian, ada satu hal yang perlu kita ingat, lain daerah lain pula kesepakatan yang dibuat antar masyarakatnya.

Besar kemungkinan, semenjak dahulu, secara turun temurun, pasar kambing di daerah babadan hanya buka di hari pasaran wage dan legi saja. 

Lalu, apa hubungannya hari pasaran, tradisi hari buka pasar kambing, hari buka warung ?

Tentu saja ada ! saat pasar kambing buka, ketersediaan daging kambing lebih banyak dibandingkan hari lain. Persediaan barang banyak, harga lebih murah. Hukum supply and demand berlaku. Harga bahan baku lebih murah, margin keuntungan lebih besar. Cerdas ya ? 

Salah satu hal terniat yang pernah saya temui selama icip-icip makanan ke sana kemari. Penanggalan jawa khusus Legi dan Wage di balik kartu nama. Setahun penuh. Niat nian.

Kalender mini Tanggal Buka Mbak Tun (Khusus Legi Wage) * terkendala ? klik marka persegi di atas caption foto ini untuk membuka file gambar

Kembali ke Iga gongso,

Igo kambing gongso Mbak Tun. Gongso (istilah memasak dalam bahasa jawa yang maksudnya : Masak dengan cara ditumis. Dengan dominan merica, irisan cabai dan guyuran kecap manis yang begitu kentara. Sehingga dominan rasa yang muncul ialah rasa manis, pedas merica, lagi gurih. 

Seporsi Iga gongso ini bisa ditebus dengan kocek Rp 35.000,00 . 

Untuk mendapatkannya perlu perjuangan ekstra! Bangun pagi ! Harus datang jelang jam 07.00 pagi. (Jam buka warung). Siang sedikit biasanya sudah habis.

Iga Gongso Mbak Tun Babadan (klik blok persegi di atas caption foto ini untuk membuka file gambar)

Duh, saya jadi laper lagi nih gara-gara tulisan sendiri. Cukup.. cukup.. disambung lagi lain kali ya ?
Ah, akhir kata, ternyata, kuliner nusantara, tak melulu kaya soal rasa, tapi juga khasanah lokal yang ada di balik itu semua.

Ini Daftar Jalan Satu Arah di Semarang per Februari 2017

Mulai 01 Februari 2017 diberlakukan rekayasa lalu lintas di beberapa ruas jalan protokol di Semarang. 

Beberapa jalan yang mengalami rekayasa arus diantaranya: Jl. Pemuda, Jl MH Thamrin, Jl. Imam Bonjol dll.

Untuk lebih lengkapnya, bisa dilihat pada peta buatan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah berikut ini.

Peta Rekayasa Jalan Utama di Semarang

BAPA ANGKASA IBU BUMI PERTIWI: Harmonisasi & Manunggaling Kawula Gusti

Kultus lingga yoni banyak ditemukan di pedalaman Jawa. Beberapa orang menemukannya sudah berserakan bahkan ada yang disangka lesung dan digunakan dalam menumbuk padi. Karena memang lingga yoni banyak menyebar di daerah masyrakat desa yang agraris.

Secara umum, lingga yoni adalah lambang kesuburan. Lingga adalah phallus, alat kelamin pria, dan yoni adalah vagina, alat kelamin wanita. Simbol seksual juga diungkapkan dalam ungkapan ‘bapa angkasa ibu bumi pertiwi’. 

Kita hidup diantara ibu dan ayah. Kita hidup dengan keadaan alam terutama bumi pertiwi yang subur dan berlimpah, dan dibawah naungan angkasa yang maha luas. Tanpa ayah dan ibu, kita tidak pernah eksis.
Mengapa ayah digambarkan sebagai angkasa sedangkan ibu sebagai bumi pertiwi?
Dalam Hindu, aspek maskulin adalah Siwa yang merujuk pada kesadaran murni (pure-consciousness). Kesadaran murni itu luas bagaikan angkasa yang bisa mencakup segalanya. Sedangkan aspek feminin adalah Shakti, yang merujuk pada energi atau fenomena material.
Dunia fenomenal itu berubah, merupakan perpaduan empat elemen yaitu tanah, air, api, dan angin. Sedangkan elemen ruang (akasha) adalah luasnya kesadaran kita.
Dalam masyarakat agraris, hasil pertanian yang berlimpah adalah harmoni dari empat elemen. Elemen tanah harus didukung elemen air, juga angin dan elemen api. Gunung meletus adalah elemen api, akan merusak namun juga memberikan unsur hara bagi tanah. Air dari gunung mengalir dan memberikan irigasi yang baik bagi sawah dan ladang. Elemen angin membuat proses penyebaran benih dan menjaga kondisi alam agar tetap hidup. Ini semua adalah aspek feminin yaitu Shakti. 
Dalam bahasa sederhana, kesatuan aspek maskulin dan feminim adalah buah kehidupan, inilah asal mula kultus kesuburan.
Dalam simbol keris juga memakai aspek kesatuan seperti ini. Bahan keris adalah besi atau logam dari tanah. Dan juga batu meteor dari angkasa. Keris adalah harmonisasi dari dua aspek maskulin dan feminim. 
Ada juga pemaknaan lain dengan arti yang lebih mendalam, seperti dalam ungkapan ‘curiga manjing warangka, warangka manjing curiga. Artinya: keris pusaka masuk ke dalam sarungnya, dan sarung masuk pada kerisnya. Dalam penyatuan sudah tidak perlu dibedakan lagi mana yang masuk mana. Jika masih menganggapnya bagian mana yang masuk lebih dahulu, maka itu artinya belum satu kesatuan. Ini adalah bathin yang manunggal, yang menyatu antara kesadaran sejatinya dengan keadaan yang sedang dialaminya. 
Inilah kesadaran non dualis, suatu dasar pandangan yang ada dalam advaita vedanta dan vajrayana. Atau dalam Sufisme Jawa dikenal sebagai manunggaling kawula Gusti.

Aspek Logis Seorang Soekarno

“Soekarno dibenci bagai bandit, dipuja bagai dewa.”, begitulah kira-kira ujar Sang Putra Fajar manakala Cindy Adams, seorang jurnalis berkebangsaan Amerika mewawancarai Bapak Proklamator di Istana negara puluhan tahun silam. Tahun 1960 an jelang akhir kekuasaannya.

Mungkin, ungkapan itu terucap, bukan tanpa sebab.

Walau dipuja bagai dewa oleh para pendukungnya, sebagai manusia biasa, sudah barang tentu Soekarno bukan tanpa cela. 

Beberapa dari  mereka yang berseberangan dengan Soekarno memiliki beberapa versi tersendiri dalam memaknai arti kata “c-e-l-a” yang sudah Saya sebut tadi.

Hatta, setelah mengundurkan diri sebagai wapres, tercatat beberapa kali melayangkan kritik ke pemerintah. 

Revolusi, saat itu, dipandang Hatta sudah cukup. Semestinya, Indonesia mulai melakukan pembangunan. Utamanya pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia (pendidikan). 

Tak cuma Hatta, Buya Hamka, tokoh dari Masyumi yang juga seorang ulama pun pernah bersebrangan dengan sang Bapak bangsa. 

Saat ia tanpa tedeng aling-aling mengritik pemerintahan yang akan memaksakan penerapan sistem demokrasi terpimpin.

“..Trias Politica sudah kabur di Indonesia….! Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme…! Front Nasional adalah partai Negara…!” teriak Hamka menggema di Gedung Konstituante tahun 1959, ketika mengajukan Islam sebagai dasar Negara Indonesia dalam sidang perumusan dasar Negara. 

Tak lama, Konstituante dibubarkan oleh Soekarno. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai tempat bernaung Buya Hamka pun dibubarkan paksa. Para pimpinannya ditangkap, dijebloskan ke balik jeruji.

Walau kemudian, jelang akhir hayat, Soekarno berwasiat agar Buya menjadi imam shalat jenazahnya. Sejarah pun kemudian mencatat, hal itu pula yang terjadi. 

Tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat pada bung Karno, barangkali kesalahan terbesar beliau sebagai seorang manusia adalah ia terlalu banyak tebar pesona.

Akibatnya ? Soekarno, bagi para pendukung setianya lebih dikenang akan keselarasan ia berpakaian, kemampuannya berpidato dan memukau ribuan hingga jutaan orang  untuk tetap setia mendengar walau dalam panas terik menyengat atau pun guyuran hujan. Belum lagi soal teriakan lantangnya menolak bantuan dari Amerika: “Go To Hell with your aid !” yang terkenal itu. 

Dalam ingatan para loyalis, kuat terpatri memori kegagahan atributnya sebagai panglima besar revolusi, Sisi klenik/mistis apalagi. Contoh? tongkat komando dengan daya linuwih yang kabarnya hilang bak ditelan bumi. 

Tak ketinggalan, kabar perihal kesaktian yang konon beliau peroleh akibat kegemarannya melakukan tapabratha ke berbagai tempat di nusantara.

Seolah seorang seokarno penuh aspek tak terjangkau akal, alias mistis. Padahal sejatinya ia logis.

Soekarno seolah tak memijak tanah. Dipuja bak dewa, membuat pendiri PNI ini seolah mampu berbuat sebagai juru selamat, menjadi jawaban atas semua permasalahan. Ketokohannya sedemikian familiar, begitu agung hingga menjadi kabut tebal bagi buah pemikirannya yang brilian melampaui jaman. Sosoknya seolah begitu dekat, sementara buah pemikirannya seolah menjadi asing di telinga. 

Padahal, semestinya, kita mampu lebih mengenali beliau dari sudut pandang subtansi pemikiran. 

Ah, betapa beliau ini sangat visioner. Di tahun 1930-an dalam suluh indonesia muda beliau sudah meramalkan bahwa perang dunia akan terjadi di kawasan pasifik. Dipicu oleh ketegangan antara Jepang  – yang sedang gencar melakukan ekspansi – dan bersinggungan dengan kepentingan barat. 

Beliau juga dengan akurat memprediksi arah pergerakkan peta geopolitik. Perang tadi akan menjadi awal kebangkitan bangsa-bangsa di Asia. 

Asia yang bangkit membuat eropa bak orang tua tak berdaya, sementara asia ibarat seorang gadis muda yang sedang mekar-mekarnya. Kini, 2016 , prediksi itu sudah kita saksikan bersama-sama. 

Soekarno dengan segala pemikiran dan tindakannya, semestinya kita kenali secara subtansi. 

Pancasila yang ia gagas juga bukan aspek teoritis belaka. Sungguh pancasila itu adalah step by step bagaimana sebuah bangsa mampu mewujudkan keadilan sosial.

Bangsa Indonesia perlu menjadi bangsa berketuhanan terlebih dahulu. Sila pertama. Awal.

Dengan mengenal tuhan dan berketuhanan, maka diharapkan manusia indonesia mampu memrioritaskan aspek kemanusiaan yang berkeadilan dan beradab dalam memperlakukan sesama manusia. 

Setelah ibadah Maghdoh, ibadah pada tuhan, ada ibadah muamalah, ibadah ke sesama manusia. Ibadah sosial. Hablumminallah diikuti Habblumminannas.

Setelah manusia indonesia saling memanusiakan dan berbuat adil pada sesamanya (Sila ke 2) terlaksana, maka outcome yang terjadi adalah persatuan Indonesia. (Sila ke 3).

Bersatu saja tidak cukup. Indonesia yang bersatu dan bergotong royong akan mampu menyelesaikan tantangan yang dihadapi, apabila diantara kita mampu untuk saling bermusyawarah untuk mufakat. (Sila 4).

Jika keempatnya terlaksana maka akan tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia (Social justice) yang termaktub pada sila ke-5.

Bagaimana, ternyata seorang Soekarno sangat luar biasa (dan) logis, bukan ?