BAPA ANGKASA IBU BUMI PERTIWI: Harmonisasi & Manunggaling Kawula Gusti

Kultus lingga yoni banyak ditemukan di pedalaman Jawa. Beberapa orang menemukannya sudah berserakan bahkan ada yang disangka lesung dan digunakan dalam menumbuk padi. Karena memang lingga yoni banyak menyebar di daerah masyrakat desa yang agraris.

Secara umum, lingga yoni adalah lambang kesuburan. Lingga adalah phallus, alat kelamin pria, dan yoni adalah vagina, alat kelamin wanita. Simbol seksual juga diungkapkan dalam ungkapan ‘bapa angkasa ibu bumi pertiwi’. 

Kita hidup diantara ibu dan ayah. Kita hidup dengan keadaan alam terutama bumi pertiwi yang subur dan berlimpah, dan dibawah naungan angkasa yang maha luas. Tanpa ayah dan ibu, kita tidak pernah eksis.
Mengapa ayah digambarkan sebagai angkasa sedangkan ibu sebagai bumi pertiwi?
Dalam Hindu, aspek maskulin adalah Siwa yang merujuk pada kesadaran murni (pure-consciousness). Kesadaran murni itu luas bagaikan angkasa yang bisa mencakup segalanya. Sedangkan aspek feminin adalah Shakti, yang merujuk pada energi atau fenomena material.
Dunia fenomenal itu berubah, merupakan perpaduan empat elemen yaitu tanah, air, api, dan angin. Sedangkan elemen ruang (akasha) adalah luasnya kesadaran kita.
Dalam masyarakat agraris, hasil pertanian yang berlimpah adalah harmoni dari empat elemen. Elemen tanah harus didukung elemen air, juga angin dan elemen api. Gunung meletus adalah elemen api, akan merusak namun juga memberikan unsur hara bagi tanah. Air dari gunung mengalir dan memberikan irigasi yang baik bagi sawah dan ladang. Elemen angin membuat proses penyebaran benih dan menjaga kondisi alam agar tetap hidup. Ini semua adalah aspek feminin yaitu Shakti. 
Dalam bahasa sederhana, kesatuan aspek maskulin dan feminim adalah buah kehidupan, inilah asal mula kultus kesuburan.
Dalam simbol keris juga memakai aspek kesatuan seperti ini. Bahan keris adalah besi atau logam dari tanah. Dan juga batu meteor dari angkasa. Keris adalah harmonisasi dari dua aspek maskulin dan feminim. 
Ada juga pemaknaan lain dengan arti yang lebih mendalam, seperti dalam ungkapan ‘curiga manjing warangka, warangka manjing curiga. Artinya: keris pusaka masuk ke dalam sarungnya, dan sarung masuk pada kerisnya. Dalam penyatuan sudah tidak perlu dibedakan lagi mana yang masuk mana. Jika masih menganggapnya bagian mana yang masuk lebih dahulu, maka itu artinya belum satu kesatuan. Ini adalah bathin yang manunggal, yang menyatu antara kesadaran sejatinya dengan keadaan yang sedang dialaminya. 
Inilah kesadaran non dualis, suatu dasar pandangan yang ada dalam advaita vedanta dan vajrayana. Atau dalam Sufisme Jawa dikenal sebagai manunggaling kawula Gusti.

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s