Donald Trump Tak Semenakutkan yang Kita Kira: Agenda 100 Hari Donald Trump dan Peluangnya

Donald Trump, Senin malam (21/11/16) membeberkan agenda 100 hari pertamanya sebagai presiden. Dan ini menarik. Ada beberapa point penting yang patut kita waspadai, mengingat: Amerika merupakan negara super power. Dimana, kebijakan yang mereka ambil, akan memiliki dampak luas bagi perekenomian dan situasi global.

Beberapa highlight yang bagi saya menarik, diantaranya:

1.Melonggarkan kebijakan Migas dan batubara. 

Berbanding terbalik dengan kebijakan di masa Obama. Presiden Obama memperketat kebijakan energi dan fokus pada pengembangan energi terbarukan. Renewable energi resource. Memang, bisa jadi ini bukan kabar baik bagi para aktivis, scientist, dan environmentalist di Amerika. Tapi, ini sebuah kabar bagus bagi Indonesia. Terlebih 5 tahun terakhir, komoditas batubara kita mengalami penurunan baik di sisi harga maupun tingkat permintaan, tentu saja ini terjadi karena berkurangnya permintaan dari dari China sebagai mitra dagang terbesar.

2. Renegosiasi NAFTA dan TPP

Di satu sisi, kebijakan ini menghadirkan ketidakpastian baru bagi pasar, terutama bagi para negara peserta. Tapi di sini lain, momentum ini juga merupakan sebuah peluang negosiasi ulang kebijakan yang diambil. Langkah wait and see merupakan pilihan tepat pada situasi seperti ini. Meninjau ulang susunan portofolio, kinerja emiten dan menunggu dampak psikologis pasar demi menjaga prinsip kehati-hatian.

3. Ketatnya kebijakan Imigrasi dan Visa

Studi ke Luar Negeri ?  Amerika sebagai negara tujuan ? Sesuatu yang mesti Anda pikir ulang, apabila hal tersebut masuk ke dalam rencana Anda 3-5 tahun mendatang.

Menurut kacamata Trump: Kebijakan ini diharapkan membuat amerika lebih aman dibanding sebelumnya. Seiya sekata dengan meningkatnya tensi politik dan keamanan global dalam dua tahun terakhir.

Selain itu, kebijakan tersebut di atas tentu kontraproduktif dengan apa yang selama ini mengutungkan bos-bos perusahan teknologi Silicon Valley. Tenaga kerja asia yang murah, pintar, banyak bekerja, sedikit menuntut.

“Oh, No. Mr.Trump, seriously ?”, they might say.

Komponen biaya tenaga kerja sejauh ini masih termasuk salah satu komponen pembentuk harga, tentu saja.

4. Kenaikan suku bunga The Fed.

Kepastian naiknya suku bunga The Fed rasanya makin berpotesi mendekati kenyataan. Mengingat: “Make Amerika Great Again.” membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dan menaikkan suku bunga acuan menjadi salah satu strategi menarik untuk menarik dana yang selama ini lalu lalang di luar Amerika.

Dampaknya bagi kita ? rupiah melemah, pasti, diiringi dengan menurunnya kinerja pasar saham. Bagi investor, buy on weakness tentu jadi pilihan tepat di situasi semacam itu.

Naiknya suku bunga The Fed bukan tanpa dilemma. Kalau siang ini kita masih bisa menikmati break siang di kantor sambil ngopi, pesan go-food atau makan bareng rekan kerja di mall terdekat, lain dengan Yellen.

Terbayang jelas di kepala Saya sekarang, siapapun yang berada di posisi Janet Yellen, – Gubernur the Fed –  besar kemungkinan, belakangan Ia jadi susah tidur, gelisah, bolak-balik ke kamar mandi, nafsu makan berkurang atau menderita sederet anxiety syndrom lainnya. Meleset menentukan rate sedikit saja, tak main-main akibatnya. Tak mengherankan, Majalah forbes pernah menobatkan perempuan berambut perak itu sebagai wanita nomor 3 paling berpengaruh di dunia. – Di belakang Hillary dan kanselir negara bavaria, Angela Merkel -.

Naiknya suku bunga The Fed memang akan berdampak pada penguatan dollar terhadap mata uang lain. Namun, apabila yang terjadi justru dollar terlalu kuat dibanding mata uang lain, bisa diterka dampak selanjutnya adalah barang ekspor Amerika jadi susah laku. Apalagi kalau bukan karena harganya yang jadi kurang kompetitif ?

Dan ini peluang pula untuk kita. Pasar akan lebih memilih barang produksi yang dihasilkan negara-negara asia, yang punya nilai mata uang lebih murah.Pilih mana? Sudah barang tak kalah bagus, dan harganya jauh lebih harganya lebih murah lagi!

Sebagai konsumen realistis, yakin para pelaku pasar masih mau barang yang lebih mahal ? on the other hand, sebagai produsen, apa iya, Amerika mau barangnya bakal susah laku?

Siapa yang bakal diuntungkan ? Tentu pemilik Yuan — China–  dan Yen , alias negeri sakura, Dua negara ini diprediksi mampu memanfaatkan peluang dengan baik. Peluang serupa sungguh ada di depan mata kita semua, Indonesia. Pertanyaannya, mampukah kita?

Ternyata, Donald Trump tak semenakutkan yang kita kira, ya? Asal kita penuhi syarat & ketentuan yang berlaku: Tau di mana letak peluangnya.

 

 

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s