Apa yang ada di Go-Car dan Tak Ada di Taksi Konvensional

Halo, maafkan, sudah lama sekali tidak menulis blog. Terlalu sibuk, mungkin ungkapan itu angkuh, tapi memang benar adanya. 

Pernah naik Go-Car ? iya Go-Jek versi mobil itu. Ndak, ndak…! Kalau melihat judul tulisan ini, barangkali sampeyan akan menduga, yang bakal saya bahas tentang keunggulan Go-Car itu soal harga yang kompetitif, banyak diskon, praktis, bisa pesen via apps, tarif pasti, atau hal-hal yang sudah umum dibahas orang. 

Belakangan, aku ini memang banyak naik Go-Car or Go-jek ke kantor pp. Bahkan ke Bandara pas ada perlu ke luar kota pun, naik Go-Car. 

Di situ, ketemu lah dengan berbagai macam orang-orang “rendah hati”.

Kenapa bisa dibilang rendah hati? orang-orang ini ada yang sampai Vp Monex, Project manager, entrepreneur, owner showroom, bisnis laundry bertebaran, tapi nggak malu jadi supir.

Pernah suatu hari gue ketemu Andhika, ini orang yang punya Permata Laundry & Adrian Frozen food. 

Dengan humblenya dia bilang nyambi nge-GoCar karena lagi bosen di kantor, nyari temen ngobrol. 

On the other day, gue ketemu Pak Ahmad, ini orang punya showroom di salah satu kawasan strategis di semarang. Alasan nge-Gocar ? pengen tau kondisi pasar, selera konsumen gimana sekarang soal mobil. 

Di hari lain gue ketemu Gatot Aryo, eks VP perusahaan Futures gede di semarang.

“Biarin lah pak, hasilnya jauh dari biasanya gue urusin nasabah, tapi yang penting idup gue tenang. Buat apa Pak gie bisa dapetin 10jt seminggu tapi tiap mau tidur ditelponin nasabah mlulu?”, curhatnya. 

Iya , tampang gue emang tampang gampang dicurhatin. Orang kalau ngomong ke gue bawaannya pengen curhat mlulu.  

Ada yang mendadak matanya berkaca-kaca, karena 3 hari sebelum gue numpang, dia barusan resign dari perusahaan minimarket ternama. 

Bahkan sampai yang begini:

“Bapak tau tempat pijet #ehem yang di sana itu kan pak? Nah itu laundry saya yang kerjain.”, Curhat Koh David, Supir Go Car Honda HRV yang gue tumpangin minggu lalu. 

Pernah iseng gue tanya noda apa yang paling susah dibersihin kalau ada laundry dateng? Gue kira jawabannya noda “kecebong”, eh ternyata bukan. Noda minyak pijet ternyata jawabannya. Lengket banget. Bandel. 

Nah, ternyata, hal-hal humanis semacam itulah yang gampang banget gue temuin di Go-Car. Tapi sama sekali belum pernah gue temuin di Taksi konvensional. 

Sosial sharing. Pada awalnya gue mengira bahwa gue yang bakal berbagi, berbagi sedikit uang, kredit go-pay atau cerita tentang kerjaan gue di kantor. Nggak taunya, gue yang lebih banyak dibagi ilmu-ilmu, pengalaman idup, pengalaman bangkrut, pengalaman ngerjain proyek swasta di luar jawa, dll dari temen-temen yang pada nge-GoCar.

Sementara itu, hal yang demikian belum pernah gue temuin selama gue naik taksi konvensional. Kali aja karena pengemudinya punya latar belakang homogen kali ya?

Hmmm……

Well, 

Ternyata, dampak adanya Go-Car/Social sharing platform nggak sesimpel yang selama ini kita kira. 

What do ya think ?

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s