Filosofi Irama Gamelan “Neng, Ning, Nung, Gung” dan Ajaran Jawa Kuno

Kemarin, saya berkesempatan bertemu dan belajar pada seseorang. Orang yang masih ngaruh-aruhi (bahasa jawa; melestarikan) budaya dan tradisi jawa. 

Ternyata, terdapat isi yang terkandung pada tradisi. Ada sesuatu, ada pesan yang ingin disampaikan ke anak cucu. 

Gamelan. Sumber gambar: wikipedia

“Saat gamelan itu ditabuh, kenapa kebanyakkan punya bunyi irama: neng ning nung gung?”, kata guru saya. 

“…….”, diamku sejenak. 

“Kenapa Pak?”, tanyaku kemudian disertai rasa penasaran.

“Di sana ada pesan tersirat.”,  jawabnya lirih, diikuti jeda diam kemudian. 

Diamku menyimak. 

Sebenarnya, budaya jawa dan budaya arab punya titik temu. Itulah mengapa, islam sanggup diterima secara luas di sini. 

Namun, terdapat perbedaan yang mesti kita pahami. Agar orang jawa tidak kehilangan identitasnya.

Orang arab, mendekati gusti. (BaGUS ing aTI) dengan cara banyak lapar (berpuasa, berempati pada orang lain) dan banyak berdzikir mengingat Tuhannya. Menahan diri.

Sementara, orang jawa mendekati gusti dengan cara banyak melek dan sedikit bicara. 

Itulah pesan tersirat yang terkandung dalam bunyi gamelan: neng ning nung, gung. 

Neng:

Meneng (diam) maka hening. 

Ning:

Hening maka renung. 

Nung

Renung maka gung.

Gung

Bertemu yang maha agung. Ketemu sejatining diri. Guru sejati.

Saya pun mengangguk. Tanda mengerti. 

“Banyaklah kamu diam, dan banyaklah kamu mengamati. Meneng lan melek tadi.

Kenapa? Dengan banyak diam (neng), maka kamu akan lebih banyak mengamati daripada berbicara (ning), dengan lebih banyak mengamati maka kamu akan lebih mampu berempati (nung). 

Dengan mampu berempati maka kamu akan lebih mampu mengendalikan dirimu. Dengan mengendalikan diri, kamu akan mengenal siapa dirimu. Dengan mengenal diri, kamu akan mengerti siapa Tuhanmu (gung).”

Muara yang ingin dicapai serupa, bukan ?

Bukankah puasa dan berdzikir itu juga menahan lapar, nafsu dan indra? Mengendalikan diri pula.

“Kalau kamu mau selamat, Jagalah ini.”, kata beliau sembari menempelkan jari telunjuk ke lisannya.

Wong jowo, ojo nganthi kelangan jawane.”(Terjemahan: Orang jawa, jangan sampai kehilangan identitas jawanya.), pungkasnya sambil tersenyum.

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s