2015: Memperbanyak porsi Tawakkal

img_9460

Hore! 1 januari ! 
Kebanyakkan orang menunggu kembang api sampai jam 12.00 teng. Ketawa-ketiwi, tidur sekitar 1-2 jam kemudian. Atau bahkan lebih. 

Beberapa tahun sebelum 2016, saya juga begitu! 

Sampai setelah menuntaskan 2015, saya mulai berpikir ulang untuk melakukannya. Maka yang terjadi justru: Sudah di kamar jam 9 malam, baca buku sampai jam 10 lalu tidur. Tanpa pesta tahun baru.

Why?

Ada pergeseran mindset. 

Tadinya, saya hampir selalu berpikir bahwa untuk meraih sesuatu, kita harus jemput bola. Usaha aktif! Kejar ! Bermimpi besar ! Bersainglah dengan kompetitor ! Jadilah sang fajar ! Atau pendekatan pemikiran sejenis lainnya. 

Tahun 2015 mengajari, bahwa tidak semua hal dalam hidup harus dijalani seperti itu. 

Saya adalah salah satu contoh species anak laki-laki, yang sampai umur 26 tahun masih sering cerita dan curhat panjang lebar dengan ibu.

Mungkin ini terdengar agak aneh, terkesan seperti anak mama. Tapi, dari peran seorang ibu, seorang anak mestinya bisa belajar sesuatu. 

Apa itu?

The power of Acceptance. 

Kekuatan penerimaan. 

Ayah yang anak tentara banyak mengajari saya tentang hal-hal bersifat kata kerja aktif.

DUWIT: Doa, Usaha , Wirid , Iman, Taqwa. 

Gokil nggak tuh? Meraih semua. Nggak heran, anaknya pernah jadi sebegitu ambisius. (Jelek ini, tobat sudah).

Sementara….

Kedekatan saya dengan ibu, mengajari bahwa apa yang kita inginkan justru bisa dicapai kalau kita mampu menjadi sebuah wadah. Gimana mau diberi kalau wadahnya aja nggak ono? Gimana yang memberi seneng kalau kita nggak mau nerima?

Sukarela menerima adalah sama pentingnya dengan keinginan untuk mengusahakan sesuatu.

Kalau menurut versi ibu saya, ini namanya ilmu “yowislah kono sak karepmu…. apapun maumu sini nerima aja”, terserah yang memberi/menentukan.

Toh ternyata, dalam beberapa kali kesempatan, yang diterima itu juga ga jelek-jelek amat. Bagusnya malah di luar ekspektasi.

Ibu, kontras dengan ayah. Ayah adalah salah satu orang yang sulit yang pernah saya kenal. Dia sebegitu kukuh mempertahankan pendapatnya. Tanya sama ibu, eh dikasih usulan, tetap aja yang dipakai ya usulan pertama punya bapak ! Kami sekeluarga sudah hapal betul. Hahaha…
Tapi dari sikap ayah koppig dan sikap ibu yang nrimo itulah kami belajar bahwa ada kekuatan luar biasa dari penerimaan. (nrimo)

Dengan kita siap menjadi sebuah wadah. Maka kita siap untuk menerima berbagai kejutan yang bisa jadi luput dari fokus kita selama ini.

Awalnya sulit, tapi begitu lebih banyak nrimo, sekarang malah nggak diduga-duga dapat rejeki yang entah dari mana arahnya. 

Lebih sering ditraktir makan lah, mulai sering menang undian berhadiah lah, dapat bonusnl ini lah, kejutan itu lah hahaha…

Seneng aja rasanya, semuanya diterima alhamdulillah.

Ikut undian ini menang, undian itu menang, menang voucher belanja, menang tablet samsung dst!

Ternyata beberapa bagian dalam hidup memang bisa kita capai tanpa kita perlu (berupaya aktif) menginginkannya.

Dari yang tadinya saat ingin mencapai sesuatu, penuh rencana, kini go with the flow. 

Ngglundhung hahaha…

Di 2015 saya belajar: 

Hidup adalah tentang keseimbangan antara usaha dan kepasrahan. Keseimbangan antara ikhtiar dan tawwakal. Antara rasa ingin dan rasa syukur. 

Gambar diperoleh dari: roosmalia.wordpress.com

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s