Bujang Dugang, Esem Mantri, dan Semu Bupati Sasmitha Nalendra

Kalimat tersebut bercerita tentang komunikasi dalam falsafah Jawa.

Bujang dugang, itu orang awam, kalangan orang yang tidak berpendidikan. 

Kalau zaman sekarang ya kuli di pasar, orang-orang yang bekerja dg hiruk pikuk dan terik. 

Memberitahu orang bujang dugang harus menyampaikannya dengan jelas bahkan berteriak. Bahkan berteriak saja di pasar bisa tetap tidak dengar. Intinya terhadap bujang dugang, perintah harus jelas secara eksplisit. 

Berbeda dengan kalangan esem mantri. 

Esem mantri itu khalangan menengah. 

Kalau pada zaman dulu ya dibawah bupati. Memberitahu mereka hanya cukup dengan esem (senyum).

Senyum saja sudah menjadi pasemon (isyarat). Kaum esem mantri sudah paham apa yang dimaksudkan. 
Level komunikasi yang terakhir adalah: Semu Bupati Sasmitha Nalendra. 

Orang yang berpendidikan tinggi dan memahami sastra. Ini mewakili kalangan atas, termasuk raja, kaum terpelajar, pujangga, dll. 

Kaum yang satu ini menyampaikan sesuatu secara tersamar (semu). Penuh simbolik dan makna, juga tidak frontal/langsung.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s