Sabdho Pandhito Ratu dan Re-definisi sukses

Tahun ini, secara fana, diukur dari parameter dunia. Beberapa hal tampak memburuk. 

Tapi, saya bahagia. Karena sesungguhnya, semua hal yang terjadi, secara agregat sungguh membaik. Bahkan di luar perkiraan. 

Dulu, saya pernah menjadi orang yang mengukur kesuksesan hanya dengan melihat “tercapai atau tidak tercapai”-nya suatu target tujuan/angan-angan. 

“Kebahagiaan” pernah diartikan sempit sebatas kemampuan mencapai impian. 

Ternyata, bukan itu. 

Proses belajar tidak pernah berhenti, dan memang belum berhenti. 

Nah ilmu tentang kebahagiaan sejati,  ternyata berkaitan dengan ilmu menyatu dengan semesta. 

Dan, ternyata, salah satu kunci menyatu dengan semesta adalah dengan menerima, berpasrah dan bersyukur. 

Semuanya, seolah terlihat sebagai proses yang “pasif”.  

Apa benar pasif? ternyata tidak juga.

Dalam proses menyatu bersama semesta diperlukan kegiatan aktif. Menjalani dengan setulus hati apa yang nampak di depan mata.

Sekarang takdirmu pulang ke Magelang, yasudah jalani saja. 

Sekarang takdirmu ternak lele, yawis, lakukan saja semaksimal yang mampu diusahakan. Sembari berbahagia menikmati yang ada.

Hidup seakan tanpa tujuan mungkin saja terlihat sebagai sebuah ide yang buruk. Namun, jika kita mau berhenti sejenak dan melihat dengan sudut pandang yang berbeda, hidup mengalir bagai roda membuat makna hidup seseorang semakin luas. 

Ia tak sempit. Setidaknya tak sesempit tujuan akhir yang semula dicanangkan.

Bahagia tak sesempit tujuan yang diinginkan. Bahagia tak lagi menjadi tujuan. Tapi bahagia itu ada pada perjalanan sekaligus tujuan perjalanan itu sendiri. Setiap saat bahagia. 

Dampak lain yang terjadi saat seseorang tidak terlalu terobsesi pada tujuan pribadi, adalah, ia tak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri. 

Ia menjadi seseorang yang lebih menyatu dengan lingkungan sekitar. Unggul tanpa perlu mengungguli. “Menang, tanpo ngasorakke.”  

— Ngalah, bukan berarti kalah — menjadi ungkapan yang sangat relevan di sini. Ngalah dengan apa? Ngalah dengan ketentuanNya.

Jika sudah sampai di tahapan itu, maka yang ia mintakan bukan lagi sebatas manfaat bagi diri pribadi. Kebahagiaan pribadi. 

Tapi jauh di atas itu, orang tersebut juga ikhlas memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain.

Itulah rahasia mencapai tahapan Sabdo Pandhito Ratu. Segala keinginannya lekas menjadi kenyataan. 

Karena, ia malah jarang menginginkan sesuatu, keinginan, usaha dan doa orang itu, tak lagi hanya untuk dirinya sendiri.

Tetapi juga orang lain, saudaranya, masyarakatnya, bangsa dan negaranya bahkan untuk ummat manusia dan segenap makhluk-Nya.

Semakin banyak memberikan manfaat, semakin pandhita sabdanya. 

Sebaik-baik manusia adalah ia yang semakin banyak manfaatnya. 

Alias, semakin mendekati hakekat menjadi manusia itu sendiri.

  

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s