“Lho Dek, bukannya punya warung makan? Kok sukanya promosiin jualan orang lain?”

“Lho Dek, bukannya punya warung makan? Kok sukanya promosiin jualan orang lain?”

Pertanyaan itu dilontarkan satu, dua, tiga dan sekian orang beberapa waktu lalu. Menurut dia, kelakuanku yang satu itu tergolong tedjo!  alias ndak jelas. 

“Aneh, orang mah biasanya mempromosikan usaha dia. Tempat makan dia. Masa iya mau-maunya promosiin usaha orang lain. Ngapain coba. Di saat orang lain ngejar personal branding, melambungkan namanya, kamu malah ga mikirin itu.”

Ijinkan penulis menjawabnya dengan pemaparan orang lain pula. 

Kemarin, masih hangat di kepala. Saya jalan-jalan bareng Paklik, ke salah satu warung bakmi jawa kaki 5 enak di kawasan kota lama. Bakmi Jowo Pak Hendro namanya. 

Iseng-iseng, kulontarkan pertanyaan yang sama ke Pak Lik (om). Pertanyaan yang sudah sering banget kuterima. 

Yang selama ini, paling banter kujawab pakai senyum, atau paling-paling cuma “hehehe” saja, kalau pertanyaan itu dateng via teksting. 

Walau dalam hati, tentu aku punya alasan sendiri kenapa aku mau melakukan itu.

Kembali ke topik.

Pertanyaan yang sama:

Paklik, kenapa sih, paklik mau promosiin warung orang? Promosiin jualannya om Indro, sampek-sampek ribet ngajak aku pula pas jam makan siang. 

Jawaban dari pertanyaan itu, kira-kira begini:

“Dhel, saat melihat dagangan orang laris, apalagi itu karena kita…

….Berkat rekomendasi kita, ada orang yang tadinya gak tau, lalu rela datang jauh-jauh demi makan ke tempat om Indro, piye perasaanmu?”, tanyanya terlihat serius.

(Baca tulisan tentang Bakmi Jowo Om Hendro Kota Lama Di Sini)

“Seneng lah Paklik. Emang kalau Paklik gimana?”

“Ya seneng lah ! Ada kepuasan tersendiri. Jangan dikira itu bukan pahala lho.”, sahut Pak lik ku tadi antusias. 

“Gara-gara word of mouth kita, dagangan dia laris, siapa yang ndak seneng?”, lanjut Paklik ku lagi.

“Wah, bener juga ya.”, bathinku kemudian. 

Kalau dagangan laris, orang itu akan untung. 

Kalau untung, dia bisa beri pekerjaan ke lebih banyak orang. Buka lapangan kerja baru. Yang tadinya nggak ada kerjaan, jadi ada kerjaan. 

Lebih banyak orang jadi bisa makan. Dampaknya, belum tentu sesimpel yang nampak oleh mata.

Hidup itu, nggak melulu soal cari untung semaunya sendiri, nggak melulu cuma soal persaingan. Tapi, juga soal kolaborasi. Maju bersama-sama. Berbagi kebahagiaan, berbagi rejeki. 

Percakapan kami kemarin, terjadi sepulang makan siang. Rasa-rasanya, akan menjadi salah satu percakapan yang akan terus teringat, selama usia masih ada. 

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s