Bakmi Jowo Mas Hendro, Citarasa Jadulnya Mampu Bangkitkan Memori Kenangan Lama

Sudah lama tidak memperbaharui tulisan blog. Memang karena sibuk. Bukan karena yang lain. 

Sudah lama juga rasanya, saya lebih sering mendapat pertanyaan: “Mbah, udah nggak pernah nulis makanan lagi po di blogmu? 

Aku lihat, kayak nggak ada yang baru.”, kata Dito Jambang, temenku yang juga tukang makan. Beberapa bulan yang lalu pula dia bilang itu ke aku. 
Iya juga ya… Heuheuheu. Keseringan update sebatas upload foto atau diskripsi singkat di instagram. Sampai “nyaris” lupa. Blog juga sering digunakan untuk ngupdate direktori kulineran.

Yasudah, ndak apa-apa. Yang penting, tiap kali nulis memang karena niat. Dan memang suka. Melakukannya sepenuh hati. Bukan karena paksaan, apalagi itung-itungan soal bayaran. Heuheuheu.

Kalau Dito baca tulisan ini, kayaknya aku mau bilang: 

“Sorry cuk, simbah baru sekarang kober nulis lagi. Monggo dinikmati. Sambil ngunjuk kopi. Sekalian nelen ludah. Karena laper tiba-tiba dateng, nggak pakai permisi.”

Tadi pagi urus dokumen di imigrasi. Gagal total. Sistem online sedang gangguan. Kupikir karena faktor hp ku. Mosok nggak bisa dibuka? 

Padahal, paket baru aja ngisi. Software juga udah terupdate ke versi terkini. Yakali?

Selintas kepikiran, yasudah pinjem komputer paklik saja di kantornya. Paklikku ini staff IT. 

Ndak mungkin komputernya setengah hati. Apalagi agak anu. Sekalian, bisa nanya-nanya kira-kira ini nggak bisa dibuka emang faktor HP ku elek atau dari penyedia layanan sana.

Ketemu paklik jam 11 pagi. 

“Dhel … (Bergedhel)”, kata dia.

“Opo lik?” jawabku woles

“Habis nginput itu, Kowe apik-an tho? sekalian yo lik-nya dianter. Meh nggenahke internet rumahmu. Mosok iyo wis larang diragati malah ora iso.”

“Oh siap, woles…”, jawabku nyantai.

Selang beberapa menit kemudian memang proses input ke sistem gagal terus. Padahal koneksi inet ada di 8 Mbps. 

Ternyata, memang server imigrasi sedang ada kendala. 

Mampir ke plasa telkom. Antrian cukup lama. Ada lah 2 jam kami di sana ngantri dan ngurus segala sesuatunya. 

Sepulang dari sana, lapar perut tentu jadi sesuatu yang wajar.

Meluncurlah kami ke warung Bakmi Jawa di kawasan kota lama Semarang.

Bakmi jawa ini bisa kubilang tedjo. (Istilah yang biasa  kupakai untuk menjelaskan ketidak jelasan akan suatu hal.)

Merujuk ke istilah yang pernah dipakai (mantan) menteri Tedjo, yang sempat ngatain rakyat yang demo di KPK itu adalah: rakyat ndak jelas

Terinspirasi oleh ucapan Pak mantan menteri, maka sekarang aku lebih sering mengganti kata: “ndak jelas” dengan satu kata saja: Tedjo. Why? Lebih pendek pengucapannya. Lebih bersahabat intonasinya.

Kembali ke bakmi mas Hendro tadi. Warungnya ndak jelas memang. Lha kok bisa? Ya iyalah! Bukan tanpa alasan aku ngatain kayak begitu tadi. 

Bakmi jowo jualnya siang hari. Yang lain mana ada?! Biasanya bakmi jawa ideal dijajakan pada sore hingga malam hari. 

Nggak cuma itu, lokasinya nylempit jalan kecil di kawasan kota lama. Jalan kepodang.

    
Warungnya kecil. Letaknya di sebelah Bank Mandiri kota lama. Persis di depan pintu kantor sebuah perusahaan bernama Rajawali Nusindo.

  
Terkesan ndak niat jualan. Mejanya cuma tiga buah. Kursi yang tersedia pun, seadanya. 

Nggak kebayang andai kata tempat ini nanti terkenal bak martabak pecenongan 65A. Kalau antrinya segitu banyak, berapa jumlah orang yang bakal berbaris mengular mengantri hanya demi semangkuk mie?

Tapi, saya yakin. Bahwa hal itu bukan mustahil bakalan terjadi.

Kenapa?

Salah besar kalau meremehkan mie jowo bikinan mas Indro! 

Rasanya khas. Satu dua suap pertama langsung mampu membawa kami ke memori masa kecil. Masa kecil diantara tahun 1980-1990an.  

Saya ndak berani bilang bahwa bikinan dia adalah yang paling enak di Semarang. Tapi, citarasa yang ditawarkan racikan mas Indro ini begitu khas. Sekaligus jadul.

“Kayaknya sudah lama nggak makan mie jowo yang rasanya kayak begini.” , gumam saya saat lidah ini pertama kali berkenalan dengan mie Jowo racikan beliau.

Ini bukan soal balapan porsi, ini juga bukan soal balapan rasa. Tapi ini soal keotentikan cita rasa. Rasa yang sama,  yang lazim dikenal orang-orang di masa kecil mereka.

Rasanya sederhana. Tidak rumit. Tidak bombastis. Tapi pas. 

Dan mampu membangkitkan memori lama masa kecil. Sesuatu yang sudah mulai hilang dari mie jawa kebanyakkan.

 
 

Mie Jawa Godhog Mas Indro Kota lama Semarang
 
Harga seporsi masih terjangkau. Mie jawa pakai telor Rp 12.000,00 seporsi. Belum termasuk tambahan sate, sayap, kepala, dan yang lainnya. Itupun sesuai selera alias kalau nambah. 

Di sana, saya kebetulan ketemu pelanggan lama. Ibu-ibu. Ibu ini bercerita kalau dia sudah jadi langganan sejak harga seporsi masih Rp 3000,00 di tahun 1995.

Sambil menunggu pesanan matang sambil ngobrol ngalor ngidul. Menurut pengakuan pelanggan lama, mas Indro sudah jualan bakmi jowo sejak tahun 1980 an, alias 35 tahun yang lalu! 

Awalnya gerobak dorong. Dari rumah ke rumah. Pantas saja, makanya, nggak heran kalau citarasanya jadul begitu!

Paklik saya, sambil makan, lahap, sambil bercerita. Begini bunyinya:

“Pas aku mulai nyantap ini, langsung teringat, masa kecil. Di pertengahan tahun 1980-an, waktu itu masih kecil, masih bocah. Diajak makan mie jawa di dekat rumah, ya akurasi rasanya kira-kira kayak begini.”

Pun dengan saya, yang nulis cerita di blog ini.

“Persis paklik. Rasanya kayak mie jawa pinggir jalan tapi beberapa tahun yang lalu. Dulu… dulu sekali. Rasanya memang kayak begini.”, jawabku sambil mengingat-ingat.

 

Mie Goreng Mas Hendro Kota Lama
 
Terkadang, begitulah semestinya kuliner itu. 

Kuliner bukan sekadar cerita tentang balapan enaknya rasa, perlombaan bagusnya tempat, perlombaan cari untung kalahkan saingan bisnis, apalagi balapan gengsi bisa beli makanan yang jarang bisa terbeli.

Bagi yang mengerti, kuliner justru jadi wadah untuk membangkitkan rasa persaudaraan, brother-food. Sekaligus sebagai sarana berbagi kebahagiaan, makan bersama (bahkan dengan orang yang barun saja kita kenal) sembari nostalgia, memutar kembali rangkaian memori akan kenangan lama.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

4 thoughts on “Bakmi Jowo Mas Hendro, Citarasa Jadulnya Mampu Bangkitkan Memori Kenangan Lama”

  1. jadi pengen kesitu ntar kalo pas mudik ke Semarang. nyobain bakmi jowonya hehe….. ada cerita, dulu waktu saya kelas 3 SMP (1990-1991) saya pernah di ajak makan Tahu Gimbal sama teman sekelas saya yang bapaknya kerja di kantoran di daerah itu. hahaha…. memang bener mas, makanan bukan sekedar enak tapi mampu membawa kenangan masa silam. kenangan tentang kebaikan teman saya dan bapaknya sungguh tak terlupa. dan itu adalah saat-saat paling berkesan buat saya.

    1. Leres pak, setuju.

      Aspek histori, pengalaman berkesan, kenangan, tak kalah penting daripada citarasa makanan itu sendiri 👍🏻

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s