Rahasia Kebahagiaan Hidup

Plong !

Barangkali itu lah yang saya rasakan sekarang. 

Tapi, plong itu bukan suatu hal yang datang cuma-cuma. Situasi tadi, datang dan berhasil dimengerti setelah melalui proses yang cukup panjang. 

Januari-September? Berapa bulan itu? Berbulan-bulan. 

Begini, 

Di awal tahun, hampir setiap orang yang saya kenal, memiliki resolusi dan keinginan mereka sendiri. 

Termasuk saya dulu:

Pernah punya keinginan apa?

Muluk. Muluk banget. Kalau kata lagu naik ke puncak gunung: “Tinggi… Tinggi sekali.”

Kok bisa? Ya karena memang dalam keluarga kami diterapkan standar yang sedemikian tinggi. 

Apalagi, kehidupan sekarang, di mana persaingan disebut-sebut semakin ketat. Seolah-olah, yang tidak cepat mengambil kesempatan, kemudian segera bertindak, tak bakal kebagian.

Nando versi bulan Januari 2015 adalah nando yang ingin bekerja di perusahaan startup. 

Karena? 

Gaji di tempat kerja sebelumnya dipandang terlalu kecil, walau sejatinya,  saya mencintai pekerjaan saya di sana. 

Gabung di perusahaan startup, waktu itu, dipandang sebagai opsi yang menarik. Mengapa? mampu menyatukan 2 keinginan sekaligus. 

Cita-cita pribadi dan kompensasi yang mencukupi. 

Ya Tuhan ! Saya adalah seorang anak muda yang ingin “naik haji” ke Silicon valley. I used to be. 

Tapi kenyataannya? selama masa percobaan (probation) di perusahaan startup itu, saya nggak diberi kompensasi sepeser pun. Sesuatu yang menyalahi etika pengelolaan sumber daya manusia di negeri ini.

Fucked by life. At that time. 

Sebuah “penghinaan” yang walau sudah saya maafkan, namun tetap akan selalu saya ingat.

Termasuk kejengkelan dalam hati yang sedemikian memuncak manakala saya meninggalkan kantor mereka untuk terakhir kalinya:

“Demi allah, kalian tidak akan pernah, tidak akan pernah menjadi besar! Karena hal yang pernah kalian lakukan terhadap saya! “, gerutuku dalam hati. 

Dengan gerutu yang sedemikian serius. Dan niat. Keyakinan seyakin-yakinnya. Sampai tiap jengkal kalimatnya masih kuingat. Kalimat bertuah, kalau tak ingin disebut sumpah serapah.

Pernah diperlakukan dengan tidak baik saat ikut orang membuatku selalu ingat:

“Suatu saat diikuti orang lain, tidak akan berbuat demikian. Nyaris kehilangan harapan itu… sakit.”

“Perlakukanlah orang lain dengan baik, sebaik yang kamu bisa. Dan sebisa mungkin, jangan menyakitinya. Apalagi mencabut nafkahnya.”


Tapi, perjalanan hidup kemudian mengantarkanku ke tingkatan yang lain. 

Pernah terjatuh sedemikian dalam membuatku mencari-cari di mana sesungguhnya letak kebahagiaan? 

Apa yang salah dengan ekspektasi? Mengapa mimpi yang tak tergapai terasa begitu menyakiti?

Beberapa bulan kemudian, aku mulai mendapat petunjuk. Tak disangka! Petunjuk datang dari seorang tamu, dosen ayahku selama kuliah dulu. 

Orang bule, Pak Larry. Menyarankanku untuk mulai melakukan meditasi. 

Semua bermula saat kami mengobrol panjang lebar. Sampai kemudian aku bertanya padanya:

“Uncle Larry, do you have any advice for a 26 year old young man like me?”, tanyaku ketika itu. Sebuah pertanyaan penting. Yang membawa banyak dampak.

Jawabannya, cukup mengejutkan.

Orang yang saya tanya tadi, bilang begini:

“Tidak semua orang seberuntung adikmu, Angie. Dia bisa lulus, langsung mendapatkan pekerjaan. Pekerjaannya pun sesuai dengan apa yang ia sukai. 

Katanya sambil menghela nafas panjang. Cukup panjang untuk menundanya mengambil kaleng bir bintang kesukaannya  dari atas meja di ruang keluarga.

“Kamu tahu…..?”, tanya pria berumur 73 tahun itu sembari merangkul pundakku.

“Uncle Larry dulu pernah jadi tukang cuci piring di rumah makan. Sekedar untuk menyambung hidup.”, lanjut dia sambil mengenang.

“Kuliah di jurusan teknik, demi mengikuti keinginan ayahku. Sesuatu yang awalnya tidak kusukai.”, jelasnya lagi sambil menatapku dalam-dalam.

“Tapi….. terkadang begitulah hidup! Let your life goes at it is!” kata dia memberi penekanan.

“Jalani saja yang ada. Bagi anak muda, peristiwa jangka pendek mungkin saja terlihat buruk. 

Tapi 20 tahun kemudian, saat mereka menengok ke belakang. Bisa jadi, pilihan yang kita anggap buruk tadi, ternyata adalah pilihan terbaik yang pernah mereka ambil seumur hidup! Surprise !”, katanya.
“Uncle Larry awalnya tak suka kuliah jurusan teknik. Tapi pola pikir Engineering itu ternyata berguna untuk pola hidup yang kutemui selanjutnya. 

Dari situ pula uncle larry pertama kali ketemu dengan computer programming. Dari sana, aku jadi dosen. And I met your father. And now I meet you.”, katanya.

Setelah diam beberapa saat, beliau kemudian menyarankan sesuatu yang sampai saat ini masih kuingat dan kulakukan:

“Nando, you have to try a meditation. It would be nice for your inner peace.”

Mengenal meditasi, mengenal pula hal-hal lain yang berkaitan. 

Sampai akhirnya menyadari pentingnya legowo/plong.

“Kebahagiaan sejati tidak tergantung oleh faktor apapun, melainkan kemampuan seseorang untuk bersyukur. Mensyukuri semua yang terjadi dalam hidup. 

Sambil berusaha mengerjakan setiap kesempatan yang ada, dengan baik.”

Bahagia itu sederhana, sesederhana mensyukuri tiap langkah yang kita lalui, sambil tetap berusaha dengan baik di tiap kesempatan yang kita punya
Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s