Menyepi: Tahapan Pertama Menemukan Kembali Guru Sejati

Barangkali, setahun terakhir termasuk episode paling “ngawur” dalam hidup. 

Memutuskan untuk mengosongkan gelas dogma, ayat-ayat, dan segala hal yang berkaitan dengan itu semua. Dampaknya? Jelas membawa banyak perubahan dalam hidup saya.

Langkah yang barangkali tergolong nekat, kalau tak mau disebut berani. 

Sedari kecil, diri ini sudah memeluk agama islam. 

Tapi, seakan agama islam itu datang bagai air yang ditumpahkan ke dalam gelas. Bukan sebagai oase yang ditemukan.

Setahun ini, saya mendapatkan konsep diri yang baru saat berani melepaskan segala macam dogma yang sudah diterima, diajarkan, bahkan cenderung dipaksakan sejak kecil.

Semua ini berasal dari suatu rasa gelisah yang datang dari dalam lubuk terdalam qalbu saya. 
Saya merasa, ada yang tidak pas dengan agama yang selama ini saya kenal. Agama saya, islam, seakan hanyalah agama nenek moyang. 

Yang disampaikan dan diwajibkan untuk dipeluk turun temurun. Agama saya, islam seakan tidak membawa kedamaian bagi diri dan qalbu saya.

Saya pun memutuskan untuk memulai lagi perjalanan sedari awal. 

Mengamati apa yang sudah dilakukan oleh Ibrahim, Siddharta, Muhammad, dan orang-orang lain yang berhasil menemukkan pencerahan. Mereka semua memulainya dengan langkah pertama yang serupa: Menyepi.

Berdiam diri sejenak, mengambil jarak dari perputaran dunia yang sebegitu dinamis dan cepat. 

Mengurangi gairah, memperbanyak perenungan. Mengosongkan segala macam ajaran, dogma dan hal-hal lain yang menyertainya.

Beberapa bulan terakhir, saya merunut kembali jalan keyakinan yang dianut oleh para leluhur saya. Leluhur bangsa nusantara. Napak tilas. Batiniah.

Memperbanyak perspektif, kanan kiri. Menghilangkan anggapan, bahwa ajaran yang selama ini saya pegang ialah yang paling sempurna dan kunci mutlak untuk masuk surga.

Karena saya merasa, ada sesuatu yang menarik untuk digali lebih dalam lagi.

1. Mempelajari animisme dinamisme.
Mempelajari bagaimana bangsa-bangsa nusantara berusaha mencari Tuhan dalam diri mereka. Tuhan dalam berbagai benda-benda mati, tuhan dalam berbagai rupa, tuhan dalam simbol-simbol kuno.

Bagaimana Qabil, hanya mengenal satu wujud peribadatan. Menaruh persembahan/sesaji di puncak gunung yang sudah ditentukan, untuk kemudian sesaji tersebut diterima/ditolak oleh Tuhan yang Maha Kuasa.

Bahwa sesajen adalah bukti kerendahan hati manusia. Memimpin dengan menyelaraskan diri bersama alam sekitarnya. Menghormati mereka yang ada disekelilingnya.

2. Bertemu ajaran tua negeri tataran Sunda

Bagaimana leluhur berjalan selaras dengan alam. Menunjukkan sedemikian pentingnya penjagaan hutan, alam dan ekosistem yang ada disekeliling keberadaan manusia.

Bagaimana tiap kali raja menemui permasalahan, ia semadi. 

Menyepi. Bersama para mantri. Hanya berbekal 3 ruas temulawak dan seperiuk pari (pare/nasi) yang dimakan di waktu-waktu tertentu.

Jaya baya, menang dari segala mara bahaya. Kehendaknya ora keno disuwowo. Kehendaknya menjadi wakil Yang Maha kuasa di muka bumi. Sabdo Pandhito Ratu.

Pengetahuannya menembus batasan ruang dan waktu. Segala ucapnya terbukti. Ia memerintah dan berkuasa di nagari kediri.

Ke: going into

diri: Self, inner self.

Prabu Jaya Baya adalah ia yang berhasil menemukan guru sejati dalam dirinya sendiri. 

3. Bertemu Ajaran Shiva-Buddha

Seusai bertemu spirit Jaya Baya, perjalanan dilanjutkan dengan bertemu leluhur mataram lama. The ancient spirit of java, Medang kingdom.

Bagaimana manusia menemukan Tuhan melalui mawujudnya dalam berbagai dewa-dewi.

Bagaimana manusia terbagi-bagi menurut tingkat kesadaran (ketaqwaan)nya masing-masing.

Ada sudra: yang hanya mementingkan kebahagiaan dirinya sendiri.

Ada waisya: yang mulai memikirkan bagaimana ia berbahagia dengan memenuhi kebutuhan orang lain.

Ada ksatria: Adalah kesadaran di mana hidupnya tak semata-mata untuk dirinya maupun kebahagiaan orang lain. Namun, bagaimana mereka dapat membawa kemakmuran bagi segenap bangsa dan negaranya.

Ada Brahma: ialah orang-orang yang mampu mencapai kesadaran, kebijaksanaan dan pengetahuan. Ia menjadi guru dari golongan yang sudah disebutkan sebelumnya. Bagaimana nuraninya mampu selalu menuntun mereka dalam kebaikkan sehingga mereka layak dijadikan panutan.

Shiva-buddha tak selamanya berjalan dalam kedamaian. Keduanya, pernah bersaing sebegitu sengit. Namun, persaingan itu tidak menghasilkan apapun, kecuali pertumpahan darah, kesedihan dan migrasi besar-besaran.

4. To be continue ….

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s