Penelitian Tentang Rumah Tradisional Jawa

Oleh: Djono*, Tri Prasetyo Utomo*, * Slamet Subiyantoro***

Jawa memiliki nilai-nilai sarat dengan nilai etika dan estetika. Salah satu bentuk nilai-nilai tersebut adalah joglo yang memiliki pengetahuan lokal budaya Jawa.
Model pendekatan dalam penelitian ini mengarah ke etnografi deskriptif kualitatif. Realitas empiris diperoleh peneliti langsung ke lokasi penelitian, untuk mendapatkan gambaran tentang kehidupan sesuai dengan tradisi mereka, dan gejala kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kearifan lokal.
Penelitian ini merupakan studi kasus tunggal terpancang. Dalam konteks studi kasus ini, rumah tradisional Jawa sebagai sub unit analisis, namun keberadaannya masih dipandang sebagai bagian dari sistem sosial masyarakat yang lebih luas di sekitar Surakarta.
Struktur bangunan rumah tradisional Jawa mencerminkan komposisi ruang bangunan khas seperti: pendhapa, pringgitan, dalem, dapur, atau gadri gandhok. Hubungan antara struktur ini sangat dipengaruhi oleh mitologi proses manifestasi dan kosmologi Jawa. Ini berarti bahwa rumah Jawa tradisional tidak hanya sebuah tempat untuk berlindung (fungsi praktis), tetapi juga dipahami sebagai manifestasi dari cita-cita dan pandangan hidup atau fungsi simbolis. Dalam hal ini rumah-rumah tradisional Jawa tidak hanya ditempatkan sebagai unsur otonom, berdiri terpisah saja, tetapi dilihat dalam konteks, sangat relevan dengan kesatuan kosmologi Jawa yang mendasari pandangan filosofi hidup orang Jawa.
Kata Kunci: kearifan lokal, joglo, budaya Jawa.
Pengantar 

Bangunan fisik selalu menandai tingkat perkembangan kehidupan manusia sehingga setiap bangunan sarat dengan nilai instrinsik tentang kearifan lokal (Ahimsa-Putra, 2008:7). Dari masa prasejarah dapat dijumpai beberapa artefak, seperti yupa, lingga, hingga cat-cat tangan di dinding-dinding gua di Kalimantan yang mampu merekonstruksi kehidupan mentalitas manusia waktu itu. Ketika mengamati Candi Sukuh lalu didapati arca Nandi di pelatarannya, mampu ditafsirkan bahwa agama yang dianut masyarakat waktu itu adalah Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan-bangunan fisik yang sampai di masa sekarang merupakan representasi kehidupan manusia yang membuatnya. 

Semangat orientalisme telah membawa arus untuk mendekonstruksi nilai-nilai yang telah dimiliki bangsa kita jauh sebelum masuknya orientasi Eropa sehingga nilai-nilai kearifan lokal merupakan penanda peradaban Jawa telah tumbuh sejak masa lampau.

Salah satu nilai kearifan lokal ditemukan dalam rumah tradisional Jawa. Jawa memiliki berbagai keindahan budaya dan seni yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakatnya. Berbagai seni tradisi dan budaya tertuang dalam karya karya pusaka masyarakat Jawa, seperti batik, rumah joglo, keris, dan gamelan. 

Joglo sebenarnya hanya merupakan salah satu bentuk rumah tradisional Jawa, tetapi joglo merupakan tipe rumah Jawa yang paling lengkap susunannya sehingga nilai kearifan yang terkandung dalam rumah ini pun juga tidak habis diuraikan hingga sekarang.
Tulisan ini mengungkap konstruksi rumah tradisi Jawa secara fisik dan meninjaunya dari segi filosofis masyarakat Jawa. 

Bangunan atau rumah tradisi tidak hanya dibangun sebagai tempat tinggal, tetapi juga diharapkan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi penghuninya melalui pernggabungan unsur makrokosmos dan mikrokosmos di dalam rumah tersebut. 

Dengan demikian, diharapkan keseimbangan hidup tercapai dan membawa dampak positif bagi penghuninya. Mendalami unsur filosofi dalam rumah tradisi Jawa membuka kemungkinan usaha generasi muda sebagai pewaris kebudayaan di masa yang akan datang untuk memelihara dan melestarikan warisan generasi pendahulunya.
Model pendekatan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang mengarah pada etnografis, yaitu dalam menggambarkan suatu kenyataan empirik hasil penelitian, peneliti dituntut terjun langsung ke lokasi penelitian agar dapat menghayati adat istiadat dan gejala-gejala kehidupan sehari-hari yang sarat dengan fenomena sosial budaya setempat. 

Selama penelitian, peneliti lebih banyak terlibat dan berusaha menghayati sistem sosial-budaya masyarakat setempat, khususnya dalam kaitannya dengan konteks rumah sebagai perwujudan pandangan hidup orang Jawa yang bersifat kosmologis.
Strategi pendekatan ini dipilih atas dasar pertimbangan bahwa (1) pendekatan kualitatif meskipun hanya mencakup skala lokasi penelitian yang kecil/terbatas, mampu mengembangkan pada kerangka konsepsual yang lebih luas, (2) model pendekatan ini tidak semata-mata hanya mementingkan hasil saja, melainkan aspek proses adalah sesuatu yang lebih utama, bahkan (3) pendekatan kualitatif yang bersifat etnografis ini sangat baik apabila suatu penelitian ingin menjelaskan suatu fenomena secara mendalam dan menyeluruh sehingga hasil penelitiannya merupakan deskripsi detil yang tidak kaku tetapi juga mendalam (Bogdan & Tylor, 1982:35-37).

Pada dasarnya bentuk penelitian ini merupakan penelitian kasus tunggal terpancang. Pada konteks penelitian kasus ini, rumah tradisional Jawa dilihat sebagai subunit analisis, namun keberadaannya tetap dilihat/dikaji sebagai tempat yang merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat yang lebih besar di sekitar Surakarta (Abdullah, 1995:57). 

Dengan demikian, kerterkaitan antara tempat penelitian dan keberadaan rumah tradisional Jawa merupakan bagian integratif yang perlu diperhatikan dalam menggambarkan suatu fenomena dalam suatu wilayah fokus kajian.
Joglo dan Konstruks Kebudyaan Jawa
Perkembangan sejarah joglo tidak terlepas dari bangunan purba yang disebut punden berundak, sebuah bangunan suci (Hedi, 2005:28- 38), struktur dan bentuk bersusun memusat semakin ke atas semakin kecil (Sunarningsih, 1999:32). Susunan atas bagian luar pendhapa joglo ditutup atap menjulang ke atas berbentuk seperti gunungan yang bagian puncaknya terhubung mala yang membujur, biasa orang Jawa menyebut penuwun. Pada bagian tengah joglo terdapat struktur penyangga bagian atas, namanya saka guru, berupa bahan kayu berjumlah empat dengan formasi persegi. Bagian bawah saka guru ditopang umpak atau bebatur dari bahan batu. Apabila dicermati, struktur dan bentuk rumah joglo sama dengan struktur dan bentuk candi Hindu. Oleh karena itu, dapat diduga bahwa rumah joglo adalah bentuk transformasi bentuk candi.

Bangunan tradisi atau rumah adat merupakan salah satu wujud budaya yang bersifat konkret. Dalam kontruksinya, setiap bagian/ruang dalam rumah adat sarat dengan nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Begitu juga dengan joglo, konstruksi bangunan yang khas dengan fungsi setiap bagian yang berbeda satu sama lain mengandung unsur filosofis yang sarat dengan nilai-nilai religi, kepercayaan, norma, dan nilai budaya adat etnis Jawa. Selain itu, joglo juga memiliki makna historis yang perlu dipelihara dan dilestarikan.
Rumah tradisi Jawa masih dapat ditemukan pada Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta, berciri tropis sebagai upaya penyesuaian terhadap kondisi lingkungan yang beriklim tropis. 

Salah satu bentuk penyesuaian terhadap kondisi tersebut adalah dengan membuat teras depan yang luas, terlindung dari panas matahari oleh atap gantung yang lebar, mengembang ke segala sudut yang terdapat pada atap joglo. 

Menurut Rahmanu Widayat (2004:2) rumah tradisi Jawa yang bentuknya beraneka ragam mempunyai pembagian ruang yang khas, yaitu terdiri atas pendhapa, pringgitan, dan dalem.

Terjadi penerapan prinsip hierarki dalam pola penataan ruangnya. Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan bersifat umum (publik), dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat).

 Uniknya, setiap ruangan dari bagian teras, pendhapa sampai bagian belakang (pawon dan pekiwan) tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga sarat dengan unsur filosofi hidup etnis Jawa. Unsur religi/kepercayaan terhadap dewa diwujudkan dengan ruang pemujaan terhadap Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga) sesuai dengan mata pencaharian masyarakat Jawa (petani- agraris). 

Ruang tersebut disebut krobongan, yaitu kamar yang selalu kosong, namun lengkap dengan ranjang, kasur, bantal, dan guling, dan dapat juga digunakan untuk malam pertama bagi pengantin baru (Widayat, 2004:7). Krobongan merupakan ruang khusus yang 

dibuat sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri yang dianggap sangat berperan dalam semua sendi kehidupan masyarakat Jawa.
Rumah tradisi Jawa banyak memengaruhi rumah tradisi lainnya, di antaranya rumah abu (bangunan yang didirikan oleh keluarga semarga dan digunakan sebagai rumah sembahyang dan rumah tinggal untuk menghormati leluhur etnis Cina). Oleh karena itu, struktur rumah abu memiliki banyak persamaan dengan rumah tradisi Jawa dalam berbagai segi.

Kehidupan bagi orang Jawa adalah sesuatu yang dicari bukan dihindari atau belakangi. Bangunan rumah sendiri sesungguhnya merupakan tiruan gunung. Dengan demikian, antara gunung dan samudra sebenarnya adalah gambaran dunia atau kosmos yang saling berhadapan, dan bahkan keduanya keberadaan disakralkan atau disucikan.

Bangunan rumah tradisional dapat dilihat dalam dua skala, yaitu skala horisontal dan vertikal. Skala horisontal membicarakan perihal ruang dan pembagiannya, sedangkan skala vertikal membicarakan pembagian bangunan rumah yang terdiri atas lantai dasar yang disebut kaki (umpak, bebatur), tubuh (tiang, dinding) dan bagian atas yaitu kepala atau atab. 

Skala vertikal pada rumah merupakan struktur tegak yang berupa oposisi antara dunia transenden (immaterial) dengan dunia imanen (material). Dalam konteks mistik kejawen, struktur atas adalah bagian puncak yang merepresentasikan kegaiban, sedangkan struktur horisontal atau bagian bawah adalah tempat manusia melakukan kehidupan.

Pandangan hidup orang Jawa ini tidak terlepas dengan peran Raja dan kekuasaan dalam Keraton. Mengingat kedudukan Keraton sebagai pusat jagad raya, maka pengaturan bangunan di dalam Keraton tidak terlepas dari usaha Raja untuk menyelaraskan kehidupan warga komunitas Keraton dengan jagad raya itu. Kedudukan Raja tidak lepas dari otoritas kekuasan yang dimiliki, kaitannya pula dengan konsep spiritual yang diduga akibat pengaruh kultur India (Darsiti, 1989: 3). 

Pengaruh konsep spiritual tercermin pada bangunan yang didasarkan pada pola tengah atau pusat yang bermakna sakral. Pola itu juga termanifestasi dalam struktur satu di tengah diapit dua lainnya, atau pola struktur di depan dan belakangnya, atau di kiri dan kanannya, seperti tercermin dalam pola papat kiblat lima pancer (Darsiti, 1989: 40).

Struktur vertikal dalam pandangan hidup orang Jawa secara alamiah (kosmologis) disarikan dari kundalini yoga, juga pada serat wirid hidayat jati. 

Tataran tujuh dari bawah ke atas seperti tercermin dalam struktur alam yaitu: tanah, air, api, udara, ether, ajna, dan roh. Tataran serat wirid hidayat jati yang menggambarkan proses tahapan kesempurnaan dumadining dzat dari bawah ke atas terdiri atas kijab atau dinding jalal, darah, dammar, roh, kaca, nur, dan yang paling atas kaju. 

Skala vertikal dalam konteks pembahasan terdiri tujuh tataran mulai dari kongkrit ke abstrak, atau susunan dari bawah ke atas. Skala tersebut tersusun dalam tiga struktur yaitu atas, tengah, dan bawah. Masing-masing struktur, baik yang atas maupun bawah adalah berpasangan, sedangkan struktur tengah terdiri struktur tiga, di mana di tengahnya terdapat struktur pembatas dari kedua struktur lainnya.
Unsur budaya seperti rumah tradisional Jawa tersusun dalam tiga struktur secara vertikal, yaitu atas, tengah, dan bawah. Keduanya terdiri atas tujuh tataran dari bawah ke atas mencerminkan sifat dari kongkret menuju ke abstrak. Tataran tujuh pada rumah tradisional Jawa dari bawah ke atas berturut-turut sebagai berikut: pondasi, bebatur, saka guru, sunduk kili, tumpangsari, ander, dan mala. Skala yang terdiri atas tujuh tataran juga ditemukan pada ruang dalem, selain pendhapa.
Dalam skala horisontal pembagian ruang rumah terdiri lima ruang. Ruang dalem posisinya tepat di tengah, diapit bagian depan oleh ruang pendhapa-pringgitan, dan diapit bagian belakang oleh ruang gadri–pawon. Sementara bagian kiri dan bagian kanan ruang dalem terdiri ruang gandhok kiri dan gandhok kanan. Struktur ini merupakan transformasi dari struktur alam (kosmologi) berupa empat arah mata angin, yaitu: (U) utara, (S) selatan, (T) timur dan (B) barat, dan satu titik pusat di tengah, yang merupakan persinggungan ke empat arah mata angin tersebut. Dalam terminologi Jawa struktur ini disebut papat kiblat lima pancer.

Struktur ruang pokok Keraton yang merupakan tempat Ratu itu adalah manifestasi bentuk kosmologi. Keraton juga merupakan tiruan kosmos (Suhardi, 2004: 18). 

Kedudukannya yang di tengah dipercaya sebagai pancer atau pusat dari kosmos, menjadi rujukan dari unsur di sekitar yang mengelilinginya. Struktur ruang rumah tradisional Jawa sama dengan rumah Raja (Keraton). 

Indikasi ini menegaskan bahwa rumah tradisional Jawa adalah replika struktur Keraton. Rumah tradisional Jawa dengan demikian juga merupakan manifestasi kosmologi Jawa.

Kearifan Lokal Budaya Jawa

Kosmologi adalah konsep yang sudah dikenal orang Jawa sebelum datangnya pengaruh agama Hindu. Namun, dengan datangnya pengaruh Hindu India, konsep tersebut nuansa luarnya semakin disempurnakan meskipun isinya sama, atau ibaratnya ganti pakaian baru meskipun tubuhnya tetap yang lama (Sunarningsih 1999: 31). 

Oleh karena itu, rumah bagi orang Jawa tidak cukup hanya sekedar sebagai tempat tinggal. Rumah adalah satuan simbolik bagi pemiliknya sehingga kedudukan rumah adalah cerminan kepribadian dan kehidupan penghuninya. 

Dengan demikian, menganalisis rumah tradisional Jawa sama halnya membahas manusia Jawa dan kebudayaannya secara utuh (Tjahjono dalam Santosa, 2000:ix).
Struktur vertikal rumah terdiri atas tiga tingkat. Pada bagian atas disebut kepala, bagian tengah disebut badan, sedangkan bagian bawah diumpamakan kaki (Yudaseputra, 1993:118). Rumah Jawa adalah tiruan gunungan yang puncaknya menjulang tinggi ke atas. 

Meru merupakan nama gunung yang dipercaya sebagai tempat para Dewa bersemayam (Prijatama, 1992: 41, 54). Umumnya rumah tradisional Jawa bentuknya menyerupai Meru. Tidak aneh apabila dalam mistik kejawen, gunungan yang diimajinasikan Meru itu diwujudkan dalam bentuk gunungan wayang kulit purwa yang disebut sebagai kaju yang artinya pohon kehidupan.
Sebagai ilustrasi dapat ditunjukkan ketika dalang wayang kulit purwa menancapkan gunungan dengan posisi tepat di tengah-tengah kelir sebelum pertunjukan wayang dimulai. Gunungan atau kayon tersebut menggambarkan alam pikiran orang Jawa bahwa pada mulanya belum ada kelahiran masih awang-uwung, yang ada pertama hanya kaju. Tak lama kemudian gunungan itu pun ditarik ke bawah oleh sang dalang, melambangkan adanya penjilmaan zat pertama (gesang tumitis). Bahkan, kemudian yang menarik adalah gunungan tersebut ditarik ke bawah berhenti sampai tiga kali. Bisa jadi itu merupakan lambang tiga tataran pembukaan tata maligai yang letaknya di kepala sebagai sumber cipta atau baitalmakmur. Tataran kedua tempatnya di dada merupakan sumber rasa yang dalam serat wirid hidayat jati disebut baital-mukaram. Tataran ketiga ada di bagian bawah, tempat kemaluan, tempat ini adalah sumber dari karsa atau baitalmukadas (Ranggawarsita dalam Tanojo, 1954:14). Gunungan itu pun kemudian pindah, bergerak sehingga tidak lagi di tengah. Hal demikian menyiratkan makna yang mendalam setelah adanya gerak kayon (gunungan) di tengah kelir tadi, menandakan ada kehidupan atau kaju, yaitu bayi akan lahir (Mulyono, 1983: 109).
Kayon atau gunungan yang esensinya adalah perwujudan rumah tradisional Jawa itu merupakan simbol hidup atau kehidupan itu sendiri. 

Oleh karena itu, rumah dalam pandangan hidup orang Jawa dipercaya sebagai penghubung bumi (dunia bawah) dan langit (dunia atas). Struktur ketinggiannya itu menjadi media dan axis mundi yang menghubungkan dunia manusia yang bersifat imanen dengan dunia gaib yang bersifat transenden.
Puncak dari struktur rumah adalah tempat keberadaan metakosmos, dunia rohani yang gaib serba tidak tampak. Atap rumah yang menjulang ke atas adalah simbol tunas yang siap menguncup, awal dari yang tunggal. Pada bagian atas puncak atap yang ada hanya awang-uwung yang dalam pandangan lahiriah fenomena ini menggambarkan alam tunggal yang kosong, namun secara batiniah alam tersebut tidak hanya bermakna kosong tetapi sekaligus berisi segalanya. Inilah pandangan orang Jawa dalam memaknai rumah sebagai media komunikasi ke yang kosong-paradoks,yakni Yang Maha Ada sekaligus Yang Tiada. Sang Ada tidak terjangkau oleh pengalaman manusia di dunia ini. 

Dia Tiada, kosong namun sekaligus segalanya yang Ada, dan yang mungkin Ada, kosong namun isi sepenuhnya manusia, dunia dan semesta berasal dari sana (Sumarjo, 2006:202-204).

Oleh: Djono*, Tri Prasetyo Utomo*, * Slamet Subiyantoro***
 
Abstract
Java has the values that can be taken in relation to the value of the benefits of ethics and aesthetics. One form of those values are joglo art that have the local knowledge of Javanese culture. Model approach in this research is leading to a descriptive qualitative ethnographic, in which the empirical reality a result, demanding researchers go directly to the location of the study, to be able to live up to their tradition, and the symptoms of everyday life that is full of social phenomena local culture. This research forms a single case study stuck. In the context of this case study, a traditional Javanese home visits as a sub unit of analysis, but its existence still viewed/reviewed as a place that is part of the social system of the larger society around Surakarta. Java house building structure is one that reflects the composition of space like typical building pendhapa, pringgitan, dalem, kitchen, or gadri gandhok. The relation between this structure is a structure which is strongly influenced by the manifestation process mythology and cosmology Java). This means that the traditional Javanese house is not just a place to shelter (practical function), but also understood as a manifestation of the ideals and outlook on life or a symbolic function. In this case the traditional Javanese houses are not only placed as an autonomous element, a separate stand alone, but being seen in context, particularly relevant to the context of allied Javanese cosmology that underlie the view that the Javanese philosophy of life.
Keywords: local wisdom, joglo, Javanese culture
Abstrak
Jawa memiliki nilai-nilai sarat dengan nilai etika dan estetika. Salah satu bentuk nilai-nilai tersebut adalah joglo yang memiliki pengetahuan lokal budaya Jawa. Model pendekatan dalam penelitian ini mengarah ke etnografi deskriptif kualitatif. Realitas empiris diperoleh peneliti langsung ke lokasi penelitian, untuk mendapatkan gambaran tentang kehidupan sesuai dengan tradisi mereka, dan gejala kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kearifan lokal. Penelitian ini merupakan studi kasus tunggal terpancang. Dalam konteks studi kasus ini, rumah tradisional Jawa sebagai sub unit analisis, namun keberadaannya masih dipandang sebagai bagian dari sistem sosial masyarakat yang lebih luas di sekitar Surakarta. Struktur bangunan rumah tradisional Jawa mencerminkan komposisi ruang bangunan khas seperti: pendhapa, pringgitan, dalem, dapur, atau gadri gandhok. Hubungan antara struktur ini sangat dipengaruhi oleh mitologi proses manifestasi dan kosmologi Jawa. Ini berarti bahwa rumah Jawa tradisional tidak hanya sebuah tempat untuk berlindung (fungsi praktis), tetapi juga dipahami sebagai manifestasi dari cita-cita dan pandangan hidup atau fungsi simbolis. Dalam hal ini rumah-rumah tradisional Jawa tidak hanya ditempatkan sebagai unsur otonom, berdiri terpisah saja, tetapi dilihat dalam konteks, sangat relevan dengan kesatuan kosmologi Jawa yang mendasari pandangan filosofi hidup orang Jawa.
Kata Kunci: kearifan lokal, joglo, budaya Jawa.
Pengantar 
Bangunan fisik selalu menandai tingkat perkembangan kehidupan manusia sehingga setiap bangunan sarat dengan nilai instrinsik tentang kearifan lokal (Ahimsa-Putra, 2008:7). Dari masa prasejarah dapat dijumpai beberapa artefak, seperti yupa, lingga, hingga cat-cat tangan di dinding-dinding gua di Kalimantan yang mampu merekonstruksi kehidupan mentalitas manusia waktu itu. Ketika mengamati Candi Sukuh lalu didapati arca Nandi di pelatarannya, mampu ditafsirkan bahwa agama yang dianut masyarakat waktu itu adalah Hindu. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan-bangunan fisik yang sampai di masa sekarang merupakan representasi kehidupan manusia yang membuatnya. Semangat orientalisme telah membawa arus untuk mendekonstruksi nilai-nilai yang telah dimiliki bangsa kita jauh sebelum masuknya orientasi Eropa sehingga nilai-nilai kearifan lokal merupakan penanda peradaban Jawa telah tumbuh sejak masa lampau.
Salah satu nilai kearifan lokal ditemukan dalam rumah tradisional Jawa. Jawa memiliki berbagai keindahan budaya dan seni yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakatnya. Berbagai seni tradisi dan budaya tertuang dalam karya karya pusaka masyarakat Jawa, seperti batik, rumah joglo, keris, dan gamelan. Joglo sebenarnya hanya merupakan salah satu bentuk rumah tradisional Jawa, tetapi joglo merupakan tipe rumah Jawa yang paling lengkap susunannya sehingga nilai kearifan yang terkandung dalam rumah ini pun juga tidak habis diuraikan hingga sekarang.
Tulisan ini mengungkap konstruksi rumah tradisi Jawa secara fisik dan meninjaunya dari segi filosofis masyarakat Jawa. Bangunan atau rumah tradisi tidak hanya dibangun sebagai tempat tinggal, tetapi juga diharapkan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi penghuninya melalui pernggabungan unsur makrokosmos dan mikrokosmos di dalam rumah tersebut. Dengan demikian, diharapkan keseimbangan hidup tercapai dan membawa dampak positif bagi penghuninya. Mendalami unsur filosofi dalam rumah tradisi Jawa membuka kemungkinan usaha generasi muda sebagai pewaris kebudayaan di masa yang akan datang untuk memelihara dan melestarikan warisan generasi pendahulunya.
Model pendekatan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang mengarah pada etnografis, yaitu dalam menggambarkan suatu kenyataan empirik hasil penelitian, peneliti dituntut terjun langsung ke lokasi penelitian agar dapat menghayati adat istiadat dan gejala-gejala kehidupan sehari-hari yang sarat dengan fenomena sosial budaya setempat. Selama penelitian, peneliti lebih banyak terlibat dan berusaha menghayati sistem sosial-budaya masyarakat setempat, khususnya dalam kaitannya dengan konteks rumah sebagai perwujudan pandangan hidup orang Jawa yang bersifat kosmologis.
Strategi pendekatan ini dipilih atas dasar pertimbangan bahwa (1) pendekatan kualitatif meskipun hanya mencakup skala lokasi penelitian yang kecil/terbatas, mampu mengembangkan pada kerangka konsepsual yang lebih luas, (2) model pendekatan ini tidak semata-mata hanya mementingkan hasil saja, melainkan aspek proses adalah sesuatu yang lebih utama, bahkan (3) pendekatan kualitatif yang bersifat etnografis ini sangat baik apabila suatu penelitian ingin menjelaskan suatu fenomena secara mendalam dan menyeluruh sehingga hasil penelitiannya merupakan deskripsi detil yang tidak kaku tetapi juga mendalam (Bogdan & Tylor, 1982:35-37).
Pada dasarnya bentuk penelitian ini merupakan penelitian kasus tunggal terpancang. Pada konteks penelitian kasus ini, rumah tradisional Jawa dilihat sebagai subunit analisis, namun keberadaannya tetap dilihat/dikaji sebagai tempat yang merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat yang lebih besar di sekitar Surakarta (Abdullah, 1995:57). Dengan demikian, kerterkaitan antara tempat penelitian dan keberadaan rumah tradisional Jawa merupakan bagian integratif yang perlu diperhatikan dalam menggambarkan suatu fenomena dalam suatu wilayah fokus kajian.
Joglo dan Konstruks Kebudyaan Jawa
Perkembangan sejarah joglo tidak terlepas dari bangunan purba yang disebut punden berundak, sebuah bangunan suci (Hedi, 2005:28- 38), struktur dan bentuk bersusun memusat semakin ke atas semakin kecil (Sunarningsih, 1999:32). Susunan atas bagian luar pendhapa joglo ditutup atap menjulang ke atas berbentuk seperti gunungan yang bagian puncaknya terhubung mala yang membujur, biasa orang Jawa menyebut penuwun. Pada bagian tengah joglo terdapat struktur penyangga bagian atas, namanya saka guru, berupa bahan kayu berjumlah empat dengan formasi persegi. Bagian bawah saka guru ditopang umpak atau bebatur dari bahan batu. Apabila dicermati, struktur dan bentuk rumah joglo sama dengan struktur dan bentuk candi Hindu. Oleh karena itu, dapat diduga bahwa rumah joglo adalah bentuk transformasi bentuk candi.
Bangunan tradisi atau rumah adat merupakan salah satu wujud budaya yang bersifat konkret. Dalam kontruksinya, setiap bagian/ruang dalam rumah adat sarat dengan nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Begitu juga dengan joglo, konstruksi bangunan yang khas dengan fungsi setiap bagian yang berbeda satu sama lain mengandung unsur filosofis yang sarat dengan nilai-nilai religi, kepercayaan, norma, dan nilai budaya adat etnis Jawa. Selain itu, joglo juga memiliki makna historis yang perlu dipelihara dan dilestarikan.
Rumah tradisi Jawa masih dapat ditemukan pada Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta, berciri tropis sebagai upaya penyesuaian terhadap kondisi lingkungan yang beriklim tropis. Salah satu bentuk penyesuaian terhadap kondisi tersebut adalah dengan membuat teras depan yang luas, terlindung dari panas matahari oleh atap gantung yang lebar, mengembang ke segala sudut yang terdapat pada atap joglo. Menurut Rahmanu Widayat (2004:2) rumah tradisi Jawa yang bentuknya beraneka ragam mempunyai pembagian ruang yang khas, yaitu terdiri atas pendhapa, pringgitan, dan dalem.
Terjadi penerapan prinsip hierarki dalam pola penataan ruangnya. Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan bersifat umum (publik), dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat). Uniknya, setiap ruangan dari bagian teras, pendhapa sampai bagian belakang (pawon dan pekiwan) tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga sarat dengan unsur filosofi hidup etnis Jawa. Unsur religi/kepercayaan terhadap dewa diwujudkan dengan ruang pemujaan terhadap Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga) sesuai dengan mata pencaharian masyarakat Jawa (petani- agraris). Ruang tersebut disebut krobongan, yaitu kamar yang selalu kosong, namun lengkap dengan ranjang, kasur, bantal, dan guling, dan dapat juga digunakan untuk malam pertama bagi pengantin baru (Widayat, 2004:7). Krobongan merupakan ruang khusus yang dibuat sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri yang dianggap sangat berperan dalam semua sendi kehidupan masyarakat Jawa.
Rumah tradisi Jawa banyak memengaruhi rumah tradisi lainnya, di antaranya rumah abu (bangunan yang didirikan oleh keluarga semarga dan digunakan sebagai rumah sembahyang dan rumah tinggal untuk menghormati leluhur etnis Cina). Oleh karena itu, struktur rumah abu memiliki banyak persamaan dengan rumah tradisi Jawa dalam berbagai segi.
Kehidupan bagi orang Jawa adalah sesuatu yang dicari bukan dihindari atau belakangi. Bangunan rumah sendiri sesungguhnya merupakan tiruan gunung. Dengan demikian, antara gunung dan samudra sebenarnya adalah gambaran dunia atau kosmos yang saling berhadapan, dan bahkan keduanya keberadaan disakralkan atau disucikan.
Bangunan rumah tradisional dapat dilihat dalam dua skala, yaitu skala horisontal dan vertikal. Skala horisontal membicarakan perihal ruang dan pembagiannya, sedangkan skala vertikal membicarakan pembagian bangunan rumah yang terdiri atas lantai dasar yang disebut kaki (umpak, bebatur), tubuh (tiang, dinding) dan bagian atas yaitu kepala atau atab. Skala vertikal pada rumah merupakan struktur tegak yang berupa oposisi antara dunia transenden (immaterial) dengan dunia imanen (material). Dalam konteks mistik kejawen, struktur atas adalah bagian puncak yang merepresentasikan kegaiban, sedangkan struktur horisontal atau bagian bawah adalah tempat manusia melakukan kehidupan.
Pandangan hidup orang Jawa ini tidak terlepas dengan peran Raja dan kekuasaan dalam Keraton. Mengingat kedudukan Keraton sebagai pusat jagad raya, maka pengaturan bangunan di dalam Keraton tidak terlepas dari usaha Raja untuk menyelaraskan kehidupan warga komunitas Keraton dengan jagad raya itu. Kedudukan Raja tidak lepas dari otoritas kekuasan yang dimiliki, kaitannya pula dengan konsep spiritual yang diduga akibat pengaruh kultur India (Darsiti, 1989: 3). Pengaruh konsep spiritual tercermin pada bangunan yang didasarkan pada pola tengah atau pusat yang bermakna sakral. Pola itu juga termanifestasi dalam struktur satu di tengah diapit dua lainnya, atau pola struktur di depan dan belakangnya, atau di kiri dan kanannya, seperti tercermin dalam pola papat kiblat lima pancer (Darsiti, 1989: 40).
Struktur vertikal dalam pandangan hidup orang Jawa secara alamiah (kosmologis) disarikan dari kundalini yoga, juga pada serat wirid hidayat jati. Tataran tujuh dari bawah ke atas seperti tercermin dalam struktur alam yaitu: tanah, air, api, udara, ether, ajna, dan roh. Tataran serat wirid hidayat jati yang menggambarkan proses tahapan kesempurnaan dumadining dzat dari bawah ke atas terdiri atas kijab atau dinding jalal, darah, dammar, roh, kaca, nur, dan yang paling atas kaju. Skala vertikal dalam konteks pembahasan terdiri tujuh tataran mulai dari kongkrit ke abstrak, atau susunan dari bawah ke atas. Skala tersebut tersusun dalam tiga struktur yaitu atas, tengah, dan bawah. Masing-masing struktur, baik yang atas maupun bawah adalah berpasangan, sedangkan struktur tengah terdiri struktur tiga, di mana di tengahnya terdapat struktur pembatas dari kedua struktur lainnya.
Unsur budaya seperti rumah tradisional Jawa tersusun dalam tiga struktur secara vertikal, yaitu atas, tengah, dan bawah. Keduanya terdiri atas tujuh tataran dari bawah ke atas mencerminkan sifat dari kongkret menuju ke abstrak. Tataran tujuh pada rumah tradisional Jawa dari bawah ke atas berturut-turut sebagai berikut: pondasi, bebatur, saka guru, sunduk kili, tumpangsari, ander, dan mala. Skala yang terdiri atas tujuh tataran juga ditemukan pada ruang dalem, selain pendhapa.
Dalam skala horisontal pembagian ruang rumah terdiri lima ruang. Ruang dalem posisinya tepat di tengah, diapit bagian depan oleh ruang pendhapa-pringgitan, dan diapit bagian belakang oleh ruang gadri–pawon. Sementara bagian kiri dan bagian kanan ruang dalem terdiri ruang gandhok kiri dan gandhok kanan. Struktur ini merupakan transformasi dari struktur alam (kosmologi) berupa empat arah mata angin, yaitu: (U) utara, (S) selatan, (T) timur dan (B) barat, dan satu titik pusat di tengah, yang merupakan persinggungan ke empat arah mata angin tersebut. Dalam terminologi Jawa struktur ini disebut papat kiblat lima pancer.
Struktur ruang pokok Keraton yang merupakan tempat Ratu itu adalah manifestasi bentuk kosmologi. Keraton juga merupakan tiruan kosmos (Suhardi, 2004: 18). Kedudukannya yang di tengah dipercaya sebagai pancer atau pusat dari kosmos, menjadi rujukan dari unsur di sekitar yang mengelilinginya. Struktur ruang rumah tradisional Jawa sama dengan rumah Raja (Keraton). Indikasi ini menegaskan bahwa rumah tradisional Jawa adalah replika struktur Keraton. Rumah tradisional Jawa dengan demikian juga merupakan manifestasi kosmologi Jawa.
Kearifan Lokal Budaya Jawa
Kosmologi adalah konsep yang sudah dikenal orang Jawa sebelum datangnya pengaruh agama Hindu. Namun, dengan datangnya pengaruh Hindu India, konsep tersebut nuansa luarnya semakin disempurnakan meskipun isinya sama, atau ibaratnya ganti pakaian baru meskipun tubuhnya tetap yang lama (Sunarningsih 1999: 31). Oleh karena itu, rumah bagi orang Jawa tidak cukup hanya sekedar sebagai tempat tinggal. Rumah adalah satuan simbolik bagi pemiliknya sehingga kedudukan rumah adalah cerminan kepribadian dan kehidupan penghuninya. Dengan demikian, menganalisis rumah tradisional Jawa sama halnya membahas manusia Jawa dan kebudayaannya secara utuh (Tjahjono dalam Santosa, 2000:ix).
Struktur vertikal rumah terdiri atas tiga tingkat. Pada bagian atas disebut kepala, bagian tengah disebut badan, sedangkan bagian bawah diumpamakan kaki (Yudaseputra, 1993:118). Rumah Jawa adalah tiruan gunungan yang puncaknya menjulang tinggi ke atas. Meru merupakan nama gunung yang dipercaya sebagai tempat para Dewa bersemayam (Prijatama, 1992: 41, 54). Umumnya rumah tradisional Jawa bentuknya menyerupai Meru. Tidak aneh apabila dalam mistik kejawen, gunungan yang diimajinasikan Meru itu diwujudkan dalam bentuk gunungan wayang kulit purwa yang disebut sebagai kaju yang artinya pohon kehidupan.
Sebagai ilustrasi dapat ditunjukkan ketika dalang wayang kulit purwa menancapkan gunungan dengan posisi tepat di tengah-tengah kelir sebelum pertunjukan wayang dimulai. Gunungan atau kayon tersebut menggambarkan alam pikiran orang Jawa bahwa pada mulanya belum ada kelahiran masih awang-uwung, yang ada pertama hanya kaju. Tak lama kemudian gunungan itu pun ditarik ke bawah oleh sang dalang, melambangkan adanya penjilmaan zat pertama (gesang tumitis). Bahkan, kemudian yang menarik adalah gunungan tersebut ditarik ke bawah berhenti sampai tiga kali. Bisa jadi itu merupakan lambang tiga tataran pembukaan tata maligai yang letaknya di kepala sebagai sumber cipta atau baitalmakmur. Tataran kedua tempatnya di dada merupakan sumber rasa yang dalam serat wirid hidayat jati disebut baital-mukaram. Tataran ketiga ada di bagian bawah, tempat kemaluan, tempat ini adalah sumber dari karsa atau baitalmukadas (Ranggawarsita dalam Tanojo, 1954:14). Gunungan itu pun kemudian pindah, bergerak sehingga tidak lagi di tengah. Hal demikian menyiratkan makna yang mendalam setelah adanya gerak kayon (gunungan) di tengah kelir tadi, menandakan ada kehidupan atau kaju, yaitu bayi akan lahir (Mulyono, 1983: 109).
Kayon atau gunungan yang esensinya adalah perwujudan rumah tradisional Jawa itu merupakan simbol hidup atau kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, rumah dalam pandangan hidup orang Jawa dipercaya sebagai penghubung bumi (dunia bawah) dan langit (dunia atas). Struktur ketinggiannya itu menjadi media dan axis mundi yang menghubungkan dunia manusia yang bersifat imanen dengan dunia gaib yang bersifat transenden.
Puncak dari struktur rumah adalah tempat keberadaan metakosmos, dunia rohani yang gaib serba tidak tampak. Atap rumah yang menjulang ke atas adalah simbol tunas yang siap menguncup, awal dari yang tunggal. Pada bagian atas puncak atap yang ada hanya awang-uwung yang dalam pandangan lahiriah fenomena ini menggambarkan alam tunggal yang kosong, namun secara batiniah alam tersebut tidak hanya bermakna kosong tetapi sekaligus berisi segalanya. Inilah pandangan orang Jawa dalam memaknai rumah sebagai media komunikasi ke yang kosong-paradoks,yakniYangMahaAda sekaligusYangTiada.SangAdatidakterjangkauoleh pengalaman manusia di dunia ini. DiaTiada, kosong namun sekaligus segalanya yang Ada, dan yang mungkin Ada, kosong namun isi sepenuhnya manusia, dunia dan semesta berasal dari sana (Sumarjo, 2006:202-204).
Kearifan Lokal Joglo
Struktur bangunan rumah Jawa merupakan susunan ruang yang mencerminkan satu bangunan khas seperti pendhapa, pringgitan, dalem, dapur, gandhok, dan gadri. Relasi antar susunan ini merupakan struktur yang proses perwujudannya sangat dipengaruhi oleh mitologi dan kosmologi Jawa (Suhardi, 2004:28). Ini berarti bahwa rumah tradisional Jawa bukan sekedar tempat untuk berteduh (fungsi praktis), melainkan juga dimaknai sebagai bentuk perwujudan dari cita-cita dan pandangan hidupnya atau fungsi simbolis (Santosa, 2000:68).
Dalam konsepsi joglo yang memiliki empat saka guru atau tiang utama, dalam konsep Jawa susunan memusat yang kelilingi empat elemen yang bertalian dalam satu kesatuan struktur merupakan bentuk konkret pandangan orang Jawa tentang papat kiblat lima pancer. Struktur tersebut menggambarkan mandala yang susunannya meliputi empat anasir yang di tengahnya terdapat pancer sebagaimana dikatakan orang ahli bangunan Jawa:
Bahwa semua yang diciptakan Tuhan Yang Esa selalu bermula dari empat sudut dan satu yang berasal dari tengah yang orang Jawa menyebut empat kiblat lima pancer. Semua kejadian berasal dari lima penjuru tersebut. Rumah joglo adalah merupakan wujud yang dianggap mikro tetapi juga makro bagi alam raya. Ia merupakan peniruan alam, maka harus berpijak pada pedoman pajupat dimana dalem adalah titik pusatnya yang dikelilingi bangunan lainnya.
Rumah tradisi Jawa memiliki beberapa ruangan yang simetris dan terdapat hierarki ruang di dalamnya. Dari luar terdapat ruang publik yang bersifat umum, semakin ke dalam ruangan yang ada bersifat pribadi (private). Bagian luar yang disebut teras merupakan ruangan terbuka tanpa atap. Teras juga merupakan ruang publik sebagai area peralihan dari luar ke dalam rumah.
Ruangan selanjutnya, yaitu Pendhapa, masih berfungsi sebagai ruang public; di ruangan inilah biasanya tuan rumah menerima tamu-tamunya. Pendhapa memiliki bentuk ruangan persegi dan memiliki empat tiang (soko guru) yang terdapat di tengah-tengah pendhapa. Ruangan ini tidak memiliki pembatas pada keempat sisinya. Hal ini melambangkan keterbukaan pemiliknya terhadap siapa saja yang datang. Pendhapamenggambarkan gaya hidup masyarakat Jawa yang rukun. Bentuk salah satu ruang dalam rumah tradisi Jawa tersebut memperlihatkan adanya konsep filosofis tentang makna ruang yang dalam dengan keberadaan pendhapa sebagai perwujudan konsep kerukunan dalam gaya hidup masyarakat Jawa. Pendhapa tidak hanya sekadar sebuah tempat, tetapi mempunyai makna filosofis yang lebih mendalam, yaitu sebagai tempat untuk mengaktualisasi suatu bentuk/konsep kerukunan antara penghuni dengan kerabat dan masyarakat sekitarnya (Hidayatun, 1999:7). Pendhapa merupakan aplikasi sebuah ruang publik dalam masyarakat Jawa.
Pringgitan merupakan ruang peralihan antara area publik dan privat yang terletak di antara pendhapa dan dalem ageng. Pringgitan juga berfungsi sebagai tempat pertunjukan wayang kulit apabila ada acara khitanan, ruwatan, perkawinan, dan sebagainya. Ruangan yang disebut dalem ageng merupakan ruang privat (pribadi), yang salah satu fungsinya adalah sebagai ruang berkumpul seluruh anggota keluarga. Bentuk ruangan ini persegi dengan dilingkupi dinding pada setiap sisinya. Di dalam ruangan dalem ageng terdapat tiga petak ruangan yang berukuran sama besar yang disebut senthong. Senthong kiwa dan senthong tengen di sisi kanan dan kiri merupakan tempat tidur anggota keluarga pria dan wanita, sedangkan senthong tengah merupakan senthong paling sakral/suci. Senthong tengah atau krobongan merupakan tempat pemujaan kepada Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga. Senthong tengah merupakan area paling privat (pribadi) bagi pemilik rumah tradisi Jawa.
Bagian rumah lain yang bersifat privat adalah gandhok, pawon, dan pekiwan. Gandhok merupakan ruangan belakang yang memanjang di sisi dalem ageng dan pringgitan. Pawon merupakan bangunan di belakang dalem ageng dan terletak jauh dari tempat paling suci (senthong tengah/ krobongan) yang berfungsi sebagai dapur. Ruangan yang berfungsi sebagai WC adalah pekiwan. Ruangan-ruangan yang dianggap “kotor” ini diletakkan jauh-jauh dari ruanganruangan utama sebelumnya, seperti dalem ageng atau krobongan sebagai tempat suci pemujaan Dewi Sri.
Krobongan sebagai tempat suci bagi para penghuni rumah tradisi Jawa berkaitan erat dengan mitos dan kepercayaan masyarakat agraris Jawa terhadap Dewi Sri. Dewi Sri yang melambangkan kesuburan dan kebahagiaan dalam rumah tangga sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Di ruangan sakral tersebut tersimpan benda-benda pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan magis yang juga disertai dengan alat-alat penuh makna mistis yang dikaitkan dengan paham Hindu dan zaman neolitikum. Keberadaan krobongan dalam rumah tardisi Jawa menggambarkan dunia orang Jawa yang tidak dapat dipisahkan dari pemahaman tentang keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos. Segala sesuatunya selalu dikaitkan dengan kekuatan-kekuatan alam, sesuatu yang metafisik sebagaimana orang Jawa memahami rumah Jawanya. Keseimbangan kosmologi tersebut dibangun di atas pemahaman yang selalu dalam bentuk dualitas, seperti adanya siang- malam, panas-dingin, utara-selatan, dan laki-laki- perempuan; selain itu juga adanya makna simbolik yang mengacu pada tiga, empat, atau lima kutub.
Krobongan sebagai ruangan khusus sebagai bentuk penghormatan terhadap Dewi Sri memiliki makna yang terdapat pada setiap benda yang ada di dalamnya. Pertama, padi: Dewi Sri merupakan Dewi Kesuburan dan dilambangkan oleh abdi di dalam krobongan. Kedua, patung Loro-Blonyo: patung mempelai pria dan wanita adat Jawa ini diletakkan di depan krobongan yang melambangkan kegahagiaan suami istri dan lambang kesuburan. Ketiga, pusaka/keris: pusaka/keris yang merupakan benda suci maka akan diletakkan di tempat suci pula seperti krobongan. Keempat, kain Cindai/patola India: penutup tempat tidur dan bantal serta guling di dalam krobongan merupakan kain cindai/patola India. Karena memiliki pola yang sarat dengan makna Hindu (pola jlamprang dan cakra-senjata Dewa Wisnu dan delapan tataran yoga), kain ini dianggap memiliki kesaktian dan keberadaannya pun dikeramatkan. Kelima, hiasan gaga: hiasan naga pada krobongan muncul setelah mendapat pengaruh Hindu. Cerita Amertamanthana (dalam cerita Mahabarata) yang menceritakan sewaktu ular Basuki melilit pada pinggang gunung Mandara yang membantu untuk keluarnya air amerta (abadi) yang dibutuhkan para dewa untuk diminum (Wibowo dkk., 1987:157). Sebelum datangnya Hindu ke Nusantara (zaman Neolitikum), dunia dianggap memiliki dua bagian yaitu dunia atas dan dunia bawah yang memiliki sifat- sifat bertentangan. Dunia atas dilambangkan dengan matahari, terang, atas, rajawali, kuda sedangkan dunia bawah dilambangkan dengan gelap, bumi, bulan, gelap, air, ular, kura-kura, dan buaya (Soegeng, 1957:11). Berdasarkan kepercayaan neolitikum dan cerita Mahabarata, ular selalu dikaitkan dengan air. Makna hiasan ular pada krobongan merupakan simbol agar dalam bertani tidak akan kekurangan air (Widayat, 2004:17). Keenam, hiasan burung: Garuda; hiasan garuda pada krobongan merupakan simbol penyeimbang dari hiasan naga atau ular yang melambangkan dunia bawah, sedangkan garuda melambangkan dunia atas. Selain itu, burung garuda mengingatkan pada cerita Gurudeya. Burung garuda yang merupakan anak Winata menyelamatkan ibunya dari perbudakan dan menjadikan para dewa tidak mati. Dalam cerita tersebut, burung garuda menjadi sosok pemberantas kejahatan dan hal inilah yang diharapkan sehingga hiasan burung garuda diletakkan pada krobongan (Widayat, 2004:17).
Arus globalisasi bukanlah faktor tunggal penyebab degradasi moral dan degradasi budaya yang terjadi pada akhir-akhir ini. Faktor-faktor yang menyebabkan kebudayaan Jawa tidak tampil dalam kehidupan sehari-hari, antara lain karena beberapa alasan. Pertama, kebudayaan Jawa dianggap kurang praktis. Mengapa orang lebih suka memakai blus, rok, kaos, kemeja, celana panjang daripada memakai sarung, beskap, kain, kebayak, tentu saja karena alasan kepraktisan. Kedua, kebudayaan Jawa memberlakukan banyak aturan dan ritual yang memang mahal. Dalam fase-fase kehidupan manusia Jawa dari kelahiran, pernikahan, kehamilan, dan kematian selalu diwarnai upacara- upacara ritual yang dianggap rumit dan mahal. Ketiga, kebudayaan Jawa memberlakukan unggah-ungguh yang terlalu tinggi untuk dipahami oleh remaja-remaja zaman sekarang. Ditambah lagi ada sinyal bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai budaya masih rendah. Keempat, kebudayaan Jawa belum mendarah daging di kalangan masyarakat Jawa karena tingkat kehidupan masyarakat masih pada kebutuhan primer. Misalnya rakyat biasa kecil kemungkinan dapat membangun rumah mewah berbentuk joglo yang membutuhkan biaya besar.
Simpulan
Nilai-nilai kearifan lokal bukanlah nilai usang yang harus dimatikan, tetapi dapat bersinergi dengan nilai-nilai universal dan nilai-nilai modern yang dibawa globalisasi. Dunia internasional sangat menuntut demokrasi, hak asasi manusia, lingkungan hidup menjadi agenda pembangunan di setiap negara. Isu-isu tersebut dapat bersinergi dengan aktualisasi dari filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, masyarakat harus bersikap dan berperilaku yang selalu mengutamakan harmoni, keselarasan, keserasian dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan Allah SWT dalam melaksanakan hidup dan kehidupan agar negara menjadi panjang, punjung, gemah ripah loh jinawi, karta tur raharja.
Hamemayu Hayuning Bawana dapat direalisasikan dengan Hamemasuh Memalaning Bumi, yaitu membersihkan atau mengamankan tindakan-tindakan yang melanggar hak-hak asasi manusia. Memalaning Bumi itu dapat berupa peperangan, penghapusan etnis, penyalahgunaan obat bius, penggunaan senjata pemusnah masal, terorisme, wabah penyakit, pembakaran hutan, dan lain-lain yang membahayakan kehidupan manusia dan alam lingkungan. Rasio dan kreatifitas Barat dapat bersinergi dengan Hangengasah Mingising Budi, yang menggambarkan upaya yang tidak berhenti untuk mempertajam budi/manusia sehingga semakin tajam dari waktu ke waktu. Budi manusia yang terasah akan selalu menghasilkan hal-hal yang bersifat baik bahkan luhur dalam wujud hasrat sampai dengan perbuatan atau karya-karyanya.
Dalam hal ini diharapkan manusia dapat melahirkan pemikiran-pemikiran atau hasrat baik atau luhur secara terus menerus guna disumbangkan bagi kepentingan manusia atau bebrayan agung termasuk untuk melindungi atau melestarikan dunia seisinya. Etos kerja dan profesionalisme dapat sinergi dengan filosofi Sepi ing pamrih rame ing gawe ’giat bekerja tanpa memikirkan diri sendiri’.
Akibat perubahan masyarakat dewasa ini, tradisi-tradisi lama cenderung ditinggalkan. Hal ini terjadi akibat perubahan pola pikir yang didukung oleh perubahan sosial dan lingkungan masyarakat. Begitu pula dengan rumah tradisi yang semakin jarang ditemukan. Di perkotaan pada umumnya, masyarakat lebih nyaman membangun rumah dengan konsep modern atau tinggal di perumahan dan apartemen. Tidak hanya di kota, masyarakat pedesaan pun mulai merubah tempat tinggalnya menjadi bangunan modern.
Perubahan tersebut tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Maka tidak mengherankan apabila generasi muda etnis Jawa sendiri tidak mengenal secara mendalam tentang rumah adat Jawa. Selain sulit untuk menemukan rumah tersebut di lingkungan tempat tinggalnya, sedikit sekali sumber informasi yang dapat mereka peroleh. Banyak bangunan bernilai historis berarsitektur Jawa maupun etnis lain yang tidak terpelihara atau bahkan dibongkar karena tidak dapat difungsikan lagi dan diganti dengan gedung/bangunan modern. Dengan realitas demikian, yang tidak dapat dinafikan, masih pula terlihat keseriusan Pemerintah untuk melestarikan dan juga membiasakan joglo dalam keseharian masyarakat, seperti terlihat salahsatunya dari beberpa perkantoram yang memiliki akses publik langsung, berbentuk joglo, seperti pada kantor kelurahan, kecamatan, kabupaten, dan lainnya, khususnya di ekskarisidenan Surakarta, semuanya dibangun berbentuk joglo. Silain itu, tidak sedikit papan nama di depan gedung, di banyak perkantoran milik pemerintah juga mengingatkan kembali bentuk joglo. Melalui usaha yang demikian setidaknya menjadi pemelihara salah satu kearifan lokal budaya Jawa.
Daftar Rujukan
Abdullah, I. 1991.”Kraton, Upacara dan Politik Simbol: Kosmologi dan Sinkretisme di Jawa”. Humaniora. 2 : 87-100.
Abdullah, I. 2002. Simbol, Makna dan Pandangan Hidup Jawa Analisis Gunungan pada Upacara Garebeg.Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Ahimsa-Putra, H.S. 2008. Ilmuwan Budaya dan Revitalisasi Kearifan Lokal: Tantangan Teoritis dan Metodologis.DisampaikanpadaRapatSenatTerbuka Dies Natalis ke-62 Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta 3 Maret 2008.
Bogdan & Tylor. 1993. Kualitatif Dasar-Dasar Penelitian. Penerjemah: A. Khozim Affandi. Surabaya: Usaha Nasional.
Darsiti, 1989. Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830- 1939. Yogyakarta: Tamansiswa
Hedy C. Indrani dan Maria Ernawati Prasodjo. 2005. “Tipologi, Organisasi Ruang, dan Elemen Interior Rumah Abu Han di Surabaya”. Dimensi Interior, Vol. 3 No.1, hal-44-65.
Hidayatun, Maria I. 1999. “Pendhapa dalam Era Modernisasi: Bentuk, Fungsi, dan Makna Pendhapa pada Arsitektur Jawa dalam Perubahan Kebudayaan”. Dimensi Teknik Arsitektur, 27, hal. 37-46.
Koentjoro, J. 2003. Tata Ruang Spasial Lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat (Pengetrapan Konsepsual Jawaisme). Makalah Seminar. Surakarta 27 September 2003.
Laksono. 1985. Tradisi dalam Struktur Masyarakat Jawa Kerajaan dan Pedesaan Alih Ubah Model Berpikir Jawa. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Mujitho. 1986/1987. Interior Senthong Tengah Rumah Tinggal Tradisional Yogyakarta. Suatu Hasil Laporan Penelitian. Yogyakatrta: FSDR ISI
Nuryanti, W. 1992. “Concept, Perspective and Challenges” dalam Universal Tourism Enriching Or Degrading culture?. Yogyakarta: Procceedings On The International Conference On Cultural Tourism Gadjah Mada University.
Pitana, T. S. 2001. “Javanese Cosmology and Its Influence on Javanese Architecture” Thesis Submitted for the Research Degree of Master of Tropical Architecture. Australia: James Cook University
Premordia, I. 2005. Kajian Konsep Kosmologi Jawa pada Pola Tatanan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Skripsi S1. Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur. Bandung: Unversitas Parahiyangan
Ronald, A. 1993. “Transformasi Nilai-nilai Mistik dan Simbolik” Dalam Ekspresi Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Yogyakarta: Lembaga Javanologi Panunggalan.
Rosita, M. 1986. “Arsitektur Jawa pada Masa Majapahit” dalam Makna Peninggalan Arkeologi dalam Kebudayan Jawa. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Dirjen Kebud P dan K.
Santosa, R.B. 2000. Omah: Membaca Makna Rumah Jawa. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya
Siswanto, J. 2005. Orientasi Kosmologi . Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.
Soekiman. 1986. “Yang tabu dan yang disenangi dalam pendirian bangunan rumah Jawa” dalam Kesenian, Bahasa dan Foklor Jawa (Sudarsono, ed), Yogya- karta: Departemen Pendidikan dan Kebudayan
Soegeng. 1957. Sedjarah Kesenian Indonesia, Jakarta: Fasco.
Subiyantoro, S. 2007. Struktur Rumah dalem Broto- diningratan. Laporan Penelitian. Surakarta: FKIP UNS
Suhardi. 1986. “ KonsepSangkan Paran dan Upacara Selamatan” dalam Budaya Jawa. Beberapa Aspek Kebudayaan Jawa. (Soedarsono dkk., ed). Yogyakarta: Dep. P & K Dirjen Kebuduyaan Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.
————. 2004. “Rumah Orang Jawa: Konteks Kosmologi Dalam Arsitektur Tradisional”. Dalam Seminar Nasional Kompetensi Sarjana Arsitektur tanggal 25 Juni. Yogyakarta: Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM. h. 61-69.
Sujamto. 1992. Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa. Semarang: Dahara Prize.
Susanto, H. 1987. Mitos Menurut Pemikiran Mircea Eliade. Yogyakarta: Kanisius
Sunarningsih. 1999. “ Pola Memusat: Salah Satu Model Kosmologis Pada Masa Prasejarah Indonesia”. Arkeologi XIX: (2) 30-35
Wiradinata, 2004.”Konsep Disain Interior Tradisional Jawa Dikaji dari Pendekatan Etnologi” dalam 2d 3d Jurnal Ilmiah Disain. Vol 1 no 1 Prosesi Ilmiah
Widayat, Rahmanu. 2004. “Krobongan Ruang Sakral Rumah Tradisi Jawa”. Dimensi Interior, Vol. 2 No. 1, hal. 1-21.
Wibowo, HJ. dkk. 1987. Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta: Depdikbud Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Wibowo & Sadilah, Emiliana. 1990/1991. Sistem Pengetahuan Orang Jawa mengenai Flora dan Fauna dalam kaitannya dengan Rumah Tradisional. Dep P & K Dirjen Kebudayaan Balai Kajian Sejarah & Nilai Tradisional.
 

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s