Kisah Gus Dur Nongkrong di Warung Pemabuk

Jaman masi SD pernah ketemu Gus Dur di muntilan, di warung Pak tukar. Ngobrol ringan, kadang pada ngakak denger humor dia.
 

Gus Dur
 
Orang baik yang sangat tenang auranya, tiba-tiba ada seorang pelanggan di warung itu pesan minum anggur sejenis kolesom di warung itu.

Seolah kasi kode ke pelanggan, pak tukar si pemilik warung berbisik ke pelanggan 

“Sek, iki ono Gus Dur… ra penak aku!”

Rupanya Gus Dur dengar bisikan itu dan dia ketawa sambil bilang:

“Yo gak opo opo, pelanggane dilayani sek…” , kita rada tegang waktu itu.

Gus Dur kalo ke muntilan sowan ke ponpes darussalam waktu itu untuk ketemu mbah Mad Watucongol, selalu dikawal banser qubro.

Kekmana gak tegang? Ketua PBNU nongkrong di warung yang biasa jualan miras.

Gus Dur bilang kalo intinya adalah jangan pernah merugikan orang lain dan diri sendiri, dalam hal apapun tolong ingat hal itu.

Kemudian Gus Dur bertanya, si pelanggan itu kerjanya apa, udah berkeluarga belum dan sapaan-sapaan pertemanan yang ramah.

Pelanggan itu menjawab:

 “Sampun Gus, sampun keluarga… Kulo namung iseng niki tumbas anggur.”

Dan kita semua ketawa, termasuk Gus Dur.

Gus Dur buka buku yang dibawanya, al hikam. Buku tulisan Ibnu Athailah kalo gak salah, kita juga gatau itu apa.

Gus Dur bercerita, perjalanan dia ke muntilan ini selain sowan mbah Mad juga akan mengadakan longmarch antar agama se Kab Magelang.

Kenapa hal ini penting? Tanya dia.

Kita serempak jawab : “Karena kasus situbondo ya Gus? (Waktu itu tapal kuda jatim ada bakar-bakaran gereja).”

Gus Dur senyum sambil buka buku al hikam itu, baca bentar kemudian dia lanjut bercerita lagi.
“Aku kalo kebanyakan makan sakit perut.”

Kita pasang muka senyum, tapi bingung juga sih… Iki maksude opo Gus Dur cerita tentang makan.

Hidup ini bukan perkara lapar dan kenyang, kadang ada yang lapar terus dan kenyang terus di sekeliling kita, tapi kita ndak tau, lanjut Gus Dur.

Trus Gus Dur bertanya: 

“Kenapa klenteng di muntilan ditutupi gedung bioskop yang biasanya buat judi dadu dan pelacuran?” Kita kaget dan diam.

Gus Dur ketawa malah pas tau kita shock dengan pertanyaan dia… Karenanya, suasana tegang jadi cair pas dia ketawa, kita juga ketawa.
“Kita ini seperti klenteng itu, dibangun dan dibuat baik, tapi sekeliling kadang ndak baik dan pada akhirnya kita ketutupan”, lanjut Gus Dur.
Kondisi klenteng muntilan emang parah sih, ditutup gedung bioskop esek esek yang tiap malam buat judi. Ini beneran.
“Jadi…”, Lanjut Gus Dur, 
“Minum anggur itu bukan masalah utama sorga neraka, minum anggur itu adalah tutup untuk manusia yang nulari ilmu ke anaknya.”
“Sampean gak perlu malu, saya ini bukan siapa siapa kog, cuma mampir warung seperti sampean sampean ini” lanjut Gus Dur.

Renyah sekali Gus Dur saat itu ngobrol, dan ada aura damai orang besar yang merangkul masyarakat (masyarakat pemabuk lebih tepatnya)

Malam itu, Gus Dur pun pamit ke Watucongol.

Kini kami damai Gus.. 
Maturnuwun Gus.. 

Atas ini …

Sumber: https://www.facebook.com/1569665543258265/photos/a.1569773709914115.1073741828.1569665543258265/1586108371613982/?type=1

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

1 thought on “Kisah Gus Dur Nongkrong di Warung Pemabuk”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s