Berbagai tingkat kesadaran manusia dan essensi puasa sebagai sarana untuk mencapainya

Beberapa hari yang lalu saya menemukan gambar mengenai tingkatan pencerahan yang dialami hampir setiap manusia.

Sesuatu yang mirip ketika saya suatu hari membaca buku hasil riset tentang stupa. Saya lupa judulnya, harganya mahal sekali sehingga saya urung membelinya waktu itu.

Mandala adalah bahasa sanskrit, yang artinya secara harafiah adalah lingkaran.

Tapi, pemaknaan sesungguhnya terkait hal yang lebih filosofis.

Mandala adalah essensi jiwa dan tingkatkan kesadaran manusia.

Ilustrasinya begini:

Hidup itu tidaklah linier, tidak berupa perjalanan yang lurus menuju ke suatu tempat lalu selesai dan tercapailah tujuan.

Sering diilustrasikan seperti lingkaran yang tak terputus. Selalu berulang. Bangun pagi, mandi, sarapan, pergi bekerja, lalu pulang kerja, tidur, dan seterusnya. Tidak linier melainkan berulang. Demikian juga dalam retret, bangun pagi, meditasi pagi, siang, malam, lalu tidur dan seterusnya.

Dalam siklus berulang, tidak ada upaya yang berakhir tapi berulang. Kebahagiaan dan kedamaian bukan diujung perjalanan, tapi di setiap langkah perjalanan. Metodenya adalah justru dengan melepas adanya asumsi/anggapan bahwa kebahagiaan itu diujung perjalanan. 

Ilustrasi lingkaran dalam kaligrafi Zen mengingatkan agar melepas asumsi linier ini. Dalam kedamaian dan kebahagiaan, tidak ada upaya pencapaian. Inilah simple wisdom. Menjaga bathin tetap sederhana (simple), tidak terusik pada kompleksitas.

Siklus berulang berarti memang tidak pernah berujung. Pengakuan diri akan siklus tak berujung, maka bathin akan melepas. 

Dalam tradisi India, siklus ini disebut samsara. Dalam Jawa di sebut cokro manggilingan, roda yang selalu berputar.

Dalam memahami ilustrasi Zen ini, kita akan paham bahwa itu semua tentang psikologi diri. Beberapa orang menyebutnya psikologi samsara.

image

Nah, Mandala ini memiliki beberapa tingkatan tersendiri. Sesuai dengan tingkat kesadaran dan pencerahan yang sudah dicapai tiap-tiap manusia.

image

Pentingnya keselarasan dengan semesta (kosmos) , memicu keaktifan Mandala Hyang. Puncak dari semua kesadaran.

Bahwa manusia bagian dari kosmos dan berperan menjaga keselarasannya.

Untuk dapat mencapai tahapan Mandala Hyang, manusia harus melalui berbagai tahapan mendasar terlebih dahulu.

Terpenuhinya aspek kebutuhan lahiriah dan bathiniah. Setelah itu terpenuhi maka terpenuhilah kebutuhan dirinya sendiri. Tapi kesadarannya tidak hanya terhenti di situ saja.

Puasa sebagai momentum pencapaian Kesadaran

Menurut kepercayaan Islam, di agama yang saya anut, salah satu anjuran bagi mereka yang belum mampu menikah adalah dengan berpuasa.

Bahkan dalam beberapa kepercayaan lain, puasa adalah salah satu media untuk dapat mendekatkan diri kepada Tuhan.

Puasa kamis putih sebelum jumat Agung misalnya, ada pula puasa di momentum hari nyepi, atau puasa ramadhan seperti yang sekarang secara kolektif dilaksanakan oleh ummat islam.

Nah, dari anjuran itu, ternyata terdapat makna tersirat.

Puasa adalah perihal mengendalikan diri, melatih kejujuran dan kesadaran.

Puasa melatih semua aspek kesadaran manusia.

Melatih pengendalian nafsu seksual (Mandala kasungka) yang erat kaitannya dengan hal hal duniawi lainnya seperti gaya hidup dan kekuasaan.

Puasa juga sebagai sarana latihan menahan ego diri.  Dilatih lewat apa? Lewat merasakan rasa lapar.

Dengan pernah rasakan kelaparan akan timbul dorongan untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri. Meningkatkan kepedulian terhadap orang lain yang lebih kekurangan. Melatih Mandala Seba.

Dengan tidak memikirkan diri sendiri, manusia hidup berlaras dengan orang lain.

Untuk mampu hidup bersama orang lain, perlu adanya kebijakan yang mengatur dan senantiasa mengutamakan kebajikan demi berlangsungnya kebersamaan. Melatih Mandala raja.

Hidup dengan kebijakan dan kebajikkan diharapkan mampu memupuk rasa kasih dan sayang dengan sesamanya.

Di lingkup kehidupan personal, pemenuhan kebutuhan ini didapat dengan menikah. Menikah pun adalah perjalanan tentang menyayangi orang lain. Kedua hal tersebut adalah sarana melatih Mandala wening.

Manakala tahapan sebelumnya sudah tercapai dan menitipkan legacy ke keturunannya, barulah seseorang bisa mengembangkan diri memperjuangkan idealisme kebenaran. Kesadaran Mandala wangi.

Mandala wangi, pemahaman dan konsistensi berpihak pada kebenaran itulah yang menjadi bekal penting agar seseorang yang kemudian bisa berkontribusi memikirkan bangsa dan negara. Atau yang dikenal dengan istilah Mandala Agung, sebuah tingkatan kesadaran dan kemampuan untuk berkontribusi bagi society yang lebih besar.

Dengan jadi pelayan negara ia melayani masyarakat, makluk lainnya, maka ia berjalan beriringan dengan semesta alias Mandala Hyang.

Kesadaran Mandala Hyang adalah kesadaran tertinggi manakala manusia berada di posisi terdekat dengan Tuhannya.

Manakala semesta dan Tuhannya meridhoi apa yang ia perbuat. Manunggal bersama semesta dan kehendakNya, mampu menjadi wakil-Nya di muka bumi. Berjalan beriringan bersama semesta menjaga keseimbangan sesama makhluk dan keberlangsungannya.

Tingkatkan Mandala Hyang adalah ketika seorang manusia mampu menjadi pelita.

Membawa sebanyak-banyaknya manfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia, sebanyak-banyaknya makluk, alias semesta dan seisinya.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s