Priority, Respect, and Social Circle

Tahun 2015 adalah tahun yang efisien. Banyak peristiwa yang mengubah berbagai pandangan hidup saya. So, many major changes.

Tahun 2015 dibuka dengan pembelajaran berharga. 

Di awal tahun, Ayah saya sempat berkata: 

“Emang, kamu digaji berapa di sana? kok kasihan, lebih kecil dari tukang bangunan yang biasa kusuruh.” , katanya setengah bercanda.

“Tapi, pa…. aku mencintai pekerjaan itu…. “, jawabku dengan nada yang agak melankolis.

“Kamu itu lulusan S1, kalau aku jadi kamu, aku memilih bekerja di tempat lain, daripada tidak dihargai seperti itu.”, kata ayah suatu ketika itu.

Akupun bergumam, pengalaman orang tua layak dijadikan pertimbangan. Mereka sudah banyak makan asam garam. Mengecap hidup lebih dulu dan tentu saja, lebih lama.

Tahun ini, adalah tahun pembelajaran tentang kesepadanan. Salah satunya adalah sepadan dalam hubungan sosial. Hargai mereka yang menghargaimu, vice versa.

Kuliah 7 tahun membuatku “tertampar!” bahwa waktu adalah komoditi yang sangat berharga. Berharga sekali. Jadi luangkanlah waktumu dengan mereka yang pantas.ad

Di tahun 2015, salah satu pembelajaran penting adalah tentang prioritas lingkar sosial.

Seseorang pernah berkata begini:
“Abang itu, terlalu baik sama orang, terlalu open sama orang kadang. Sehingga orang kadang suka salah menerjemahkan kebaikkan abang.”

“ooo… gitu ya.”, jawabku setengah menerawang ketika itu.

Ironisnya, ketika aku mulai membuat prioritas yang lebih ketat, eh orang itu kena getahnya.

Membuat prioritas dalam lingkar sosial sangat penting. Memang, kita wajib memperlakukan setiap orang dengan baik. Tapi hendaknya, sesuaikan takarannya. Tidak setiap pesan harus dijawab cepat, sesuaikan tingkat urgensi dan kepentingannya.

Never give up untuk beberapa kasus adalah hal yang bagus, dalam meraih cita-cita misalnya. Atau keuletan dalam membangun usaha.

Tapi di kasus tertentu, nasehat yang sama belum tentu bisa jadi nasehat yang baik. Kadang, di hal-hal tertentu harus tahu kapan berhenti. Or just simply: don’t waste your time on something unimportant.

Apalagi jika mereka tidak menghargai waktu (yang sudah di)luangkan, upaya yang sudah dikerahkan, doa yang sudah dipanjatkan atau dengan perumpamaan yang lebih ekstrim, usia yang sudah engkau habiskan.

Hargai dirimu sendiri, jangan engkau biarkan orang lain berbuat seenaknya atas usiamu. 

Dari situ, kita akan mampu untuk bersikap lebih tegas dan berkata tidak. Ability to say “No” is also an important skill, too.

Yes, this year I might be have a much smaller of social circle. But it doesn’t really matter. 

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

One thought on “Priority, Respect, and Social Circle”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s