Filsafat di Balik Aksara Hanacaraka

image
Hanacaraka

(1) HA NA CA RA KA:

Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan.

HA NA CA RA KA bisa ditafsirkan bahwa manusia “dihidupkan” atau dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan “telanjang”.

Telanjang di sini dalam artian tidak mempunyai apa-apa selain potensi.

Oleh karena itulah manusia harus dapat mengembangkan potensi bawaan tersebut dengan cipta-rasa-karsa.

Cipta-rasa-karsa merupakan suatu konsep segitiga kesinambungan antara otak yang mengkreasi cipta, kemudian kalbu yang melakukan fungsi kontrol atau pengawasan dan filter (dalam bentuk rasa) atas segala ide-pemikiran dan kreatifitas yang dicetuskan otak, yang ketiga adalah raga/tubuh/badan yang bertindak sebagai pelaksana semua hasil olah pikir tersebut (setelah sebelumnya difilter oleh kalbu).

Secara ideal memang semua perbuatan (karya) yang dilakukan oleh manusia tidak hanya semata hasil kerja otak tetapi juga “kelayakannya” sudah diuji oleh rasa/kalbu.

Rasa idealnya hanya meloloskan ide-kreatifitas yang sesuai dengan norma.

Norma di sini memiliki arti yang cukup luas, yaitu meliputi norma internal (perasaan manusia itu sendiri atau istilah lazimnya kata hati atau suara hati).

Norma bisa juga berasal dari luar entitas kesadaran manusia. Contohnya? Norma yang berasal dari Tuhan lewat agama dan aturannya atau juga norma dari masyarakat yang berupa aturan hukum dll).

(2) DA TA SA WA LA

Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.

DA TA SA WA LA (versi kedua):

Da-Ta (digabung): dzat = dzat
Sa: Satunggal = satu, Esa
Wa: Wigati = baik
La: Ala = buruk

DA TA SA WA LA berarti dadane ditoto men iso ngadeg jejeg (koyo soko) lan iso weruh (mangerteni) lakuning urip.

Dengarkanlah suara hati (nurani) yang ada di dalam dada, agar kamu bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga dan kita diharapkan kemudian mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.

(3) PA DHA JA YA NYA:

PA DHA JA YA NYA =Sama kuatnya (tidak diartikan per huruf).

Pada dasarnya/awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama (kuat), yaitu potensi untuk melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan.  

Mengingat adanya dua potensi yang sama kuat tersebut maka selanjutnya tugas manusialah untuk memilih potensi mana yang akan dikembangkan.

Sangat manusiawi dan lumrah jika manusia melakukan kesalahan, tetapi apakah dia akan terus memelihara dan mengembangkan kesalahannya tersebut?

(4) MA GA BA THA NGA :

Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi

Secara singkat MA GA BA THA NGA artinya bahwa pada akhirnya manusia akan menjadi mayat ketika sukma atau ruh kita meninggalkan raga/jasmani kita.

Sesungguhnya kita tidak akan hidup selamanya. Pada akhirnya, mana kala tugas di alam dunia sudah usai, kita semua akan kembali ke haribaan-NYA.

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

2 thoughts on “Filsafat di Balik Aksara Hanacaraka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s