Sebuah Cerita Tentang Sebuah Kota Bernama Trang Wulan

Trang wulan, sebuah kota yang tadinya hutan tarikh. Dibuka pertama kali oleh sekelompok orang pelarian.

Perang saudara menyebabkan mereka harus menempuh jalan yang sulit. Piningit, pergi mengasingkan diri. 
Pada perjalanannya, kota yang mayoritas bangunannya terbuat dari batu bata berwarna jingga kemerahan itu didesain sedemikian rupa sehingga, begitu malam tiba, ia kan tetap terang layaknya bermandikkan cahaya rembulan. Penerangannya memakai minyak, minyak dari tanaman jarak.

  
Jikalau dilihat dari atas bukit, bentuknya melingkar, seperti mentari yang bersinar ke 8 arah mata penjuru. 

Pengamanannya berlapis-lapis, dari delapan arah ditambah beberapa titik mengikuti bentuk saluran air yang mengaliri seluruh penjuru kota dan lahan-lahan pertanian tempat para penduduk bercocok tanam. 

Rumah penduduk dan bangunan berderet rapi, tertata berdasar kedudukan dan fungsinya masing-masing.

Adalah lumrah saat orang-orang melihat, anak-anak berlarian ke luar rumah, bahkan sudah biasa, mereka bermain selepas senja tanpa takut adanya marabahaya. Saking amannya, saking makmurnya, waktu itu. 

Apalagi manakala purnama bersinar dengan terangnya. Begitulah kota itu, di masa keemasannya. Anak-anak bermain, berlari, menari. Orang dewasa sesekali menggelar upacara peringatan, sebagai bentuk rasa syukur mereka pada Tuhan dan juga bhakti mereka pada para pendahulu.

Cerita tentang hal tersebut menyebar ke berbagai tempat. Dari mulut para pedagang, kesaksian para pembesar maupun hikayat para pengembara yang pernah mengunjunginya.

Kota di mana terdapat “penerangan” akan ilmu, kemakmuran, dan kemajuan peradaban di masa itu. Lengkap dengan saluran irigasi yang tergolong modern di masanya. Untuk irigasi dipisah, pemandian dipisah, konsumsi dipisah, pembuangan dipisah.
Di akhir-akhir masa kejayaannya, di kota itu berdiam seorang pemimpin, ia tinggal beserta keluarga dan kerabatnya. Gelarnya kerta bhumi, nama kerta berasal dari bahasa sanskrit , yang secara harafiah memiliki arti “pelaku/doers”, dalam konteks ini maksudnya: penguasa. 

Gelarnya kertabumi, atau yang pada naskah kuno/ peninggalan berdialek china (seperti sam poo kong) sering ditulis dengan sebutan: kung ta bu mi.

Runtuhnya trang wulan pun, meninggalkan berkas cahaya yang lebih terang daripada rembulan. Dibakar.

Sinar peradabannya sempat redup, pepohonan rimba sempat membuatnya menjadi kota mati, ratusan tahun lamanya. Desas desus menyeramkan disebar diiring harap agar peradaban itu tak muncul lagi ke permukaan. Walau nyatanya, yang terjadi justru bukan yang demikian itu.

Begitulah seklumit cerita tentang sebuah tempat bernama Trang wulan, terang rembulan. Atau yang kini lebih dikenal oleh masyarakat Jawa Timur dengan sebutan: Trowulan.

Meditasi selesai. 

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s