About Friendship and Some of What I Learned This Month

Berangkat tidur sekitar pukul 7.15 pm sehabis isya. Sempat beberapa kali terganggu oleh whatsapp dari beberapa contact, dan alhasil total terbangun, jam segini.

Waktu-waktu seperti ini adalah detik-detik yang tepat untuk self-reflection. Menuliskan hal penting selagi ingat saya pandang perlu. Sebagai bahan pembelajaran, siapa tau suatu ketika nanti dibutuhkan lagi.

 Before we start to write it down….

Sumber Gambar: Internet | Credit: To its creator. Thank dude! You rock!
 
Hahaha

entah kenapa, belakangan ini selalu berhasil dibuat tertawa oleh gambar itu. Walau sudah berulang kali melihatnya.

Hm….

Bulan ini adalah bulan-bulan yang penuh pembelajaran bagi saya. 

Sungguh berat, setelah beberapa waktu sebelumnya keluar dari zona nyaman. Plan berubah, drastis. Dan plan tersebut sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya. 

I am totally out of what I expect, What I’ve founded. I am totally out from my “baby girl” and it circumstances. My plan crashed! 

Seminggu yang lalu, teman saya yang juga salah satu founder tertawa terbahak-bahak.  

“Sob, dimana-mana yang namanya founder itu always gain priority access.”, tawa temanku yang juga salah satu manager di Astra itu mengejek.

“Yes, I tried to trust someone else more than ever before. Mungkin nasib.”, jawabku klise.

(“Ah, sudahlah. Toh sahabat akan menghina di depan mukamu ! Tapi membicarakan hal baik di belakangmu.”), Batinku sembari tersenyum. –Draft–

“I am not as expert as you are ! Kalau njenengan kan memang orang HRD!”, jawabku kemudian. –Sent: Apa yang pada akhirnya terucap.–

“Sabar, mungkin Tuhan punya rencana lain.”, nada tenangnya mencoba menetralkan situasi.

Alhamdulillah, bulan ini perlahan tapi pasti, saya sudah mulai bisa memaafkan masa lalu saya. 
Begitupun dengan orang-orang yang: baik sengaja maupun tidak, pernah punya salah.

Sudah saya maafkan. 

Walau mungkin saya belum mengatakannya langsung kepada mereka. Tapi suatu saat saya pasti akan mengatakannya. Mei tahun ini menjadi: A month of forgiveness

Saya pun menyadari, bahwa diri ini pun tak luput dari keselahan pada mereka jua.

Perilaku tak menyenangkan, penyampaian yang kurang baik. Pasti ada. 

Lesson Number One: The power of forgiveness 

Ternyata, memaafkan itu berguna pula bagi si pemberi maaf. Tenang. Lega.

Lesson number 2: Trust No One 

Kepercayaan bukanlah suatu hal yang sewajarnya cepat terbangun. Percaya kata-kata? boleh saja. Tapi rendahkanlah ekspektasi yang biasanya berawal dari kata-kata manis itu. 

Ingat selalu untuk mencocokkan keserasian kata-kata dengan tindakkan yang diperbuat. Integritas. Keserasian perbuatan. Makin sesuai, tambah kepercayaan. Sesuai lagi tambah lagi. But please remember, jangan pernah terlalu mempercayai seseorang. 

Durasi pertemanan tidak menentukkan derajat kepercayaan yang mesti kita berikan. Lalu apa? Frekuensi kesesuaian ucapan dengan tindakkan.

Kehati-hatian. Mutlak perlu. Always bring to a default settings.

Barangkali, kita memang tiada bermaksud jahat. Iya kita memegang teguh kejujuran. 

Mereka? belum tentu. Isi hati seseorang tiada yang tahu, bukan? 

Lesson number 3: Do not expect much from other people

Ekspektasi yang tidak sesuai dengan kenyataan seringkali berujung pada kekecewaan. 

Itulah yang saya noted betul di bulan Mei ini. Give someone what they deserve

Salah satu ciri true friends adalah mereka datang saat engkau terbaring di rumah sakit. 

Teman-teman yang datang saat diri tak berdaya adalah mereka yang loyal merapatkan barisan. Noted their face and never take their care for granted.

Sedangkan, mereka cuma mendekat kalau ada perlunya? So, treat them like that as well then. Jaga jarak saja.

Lesson number 4: On Stage vs Backstage

Di depan panggung, mendapat atensi dari banyak orang. Menjadi pemuncak terdengar menyenangkan. Praise, fun, (few of fake) kindness. 

Tapi seringkali, mereka yang hanya melihat kilau sepatu seperti lupa dengan robek sana-sini pada kaus kaki.

Wanna be onstage? 

Please remember that: 

Menjadi penentu kebijakkan adalah soal memberikan perlindungan terbaik. Menanggung risiko kolektif. Bertanggung jawab atas kemakmuran dan kemajuan yang dicapai bersama.

Backstage:

Menjadi orang belakang layar akan membuat segala sesuatunya lebih tenang, aman dan nyaman. Lebih mudah menemukkan teman beneran di backstage daripada on stage. 

Tempat tertentu mampu menghadirkan suasana yang tak bising. Membantu kita berpikir lebih jernih. Lebih tenang dalam mengambil keputusan dan arah gerak selanjutnya. Backstage cenderung tak terburu-buru.

Belakang layar juga tak membuat kita terganggu dengan segala desas desus, kebaikkan palsu dan tentu saja kabar atau gossip tak sedap yang terus mengalir di belakang muka sana.

Choose, wisely.

Ah thanks God!

A useful selfnote, I guess.

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s