Rahasia Leadership dari Para Penggembala

Malam ini, dapat curhatan yang cukup menarik. Tentang kepemimpinan. Tentang pengelolaan tim.

Intermezzo sedikit: Saya menulis ini sambil mendengarkan lagu instrumental piano Kpop rekaman. My destiny. Ternyata lagu yang kita dengar punya dampak signifikan terhadap mood. 

Ngomong-ngomong soal leadership jadi ingat sesuatu. 

Beberapa pemimpin atau tokoh besar punya kemiripan periode kehidupan. Beberapa diantara mereka dikisahkan pernah menjadi penggembala sebelum menjalankan tugas besarnya.

Mau contoh?

Muhammad kecil adalah seorang penggembala kambing. Sebelum akhirnya ia didatangi malaikat untuk dibelah dadanya dan dicuci qalbunya.

Begitu juga dengan musa. Saat mengungsi dari mesir dan bertemu Yaqub di madyan ia sempat menjadi penggembala.

Yesus? Senada. Bahkan di alkitab tertulis: Akulah penggembala bagi domba-domba tersesat dari kalangan bani israil.

Alexander agung pun juga Soeharto saat masih belia di Wonogiri. Pak Harto pun pernah menjadi seorang penggembala

Lalu, 

Apa keistimewaaan penggembala?

1. Menggembala adalah sarana latihan mengarahkan

Directing skill atau kemampuan mengarahkan penting untuk dimiliki oleh seorang penggembala. Begitu pula oleh seorang pemimpin.

Menggembala adalah membimbing. Menentukkan arah. Mencapai visi.

2. Menggembala melatih kemampuan komunikasi non verbal

Loh kok bisa? Bukannya binatang kebanyakkan tak bisa bicara dengan bahasa manusia. Justru itu! 

Penggembala mampu memimpin dan mengarahkan segerombolan hewan tanpa perlu berbicara dengan bahasa mereka.

Berbicara? Iya! Tapi tidak sering. Seperlunya.

Lalu? Yang penggembala lakukan adalah menyatu secara emosional dengan ternak-ternak mereka. Mereka tidak hanya memberi instruksi namun mereka berada di tengah-tengah rombongan.

Membangun komunikasi tanpa mengandalkan instruksi. Pemimpin yang efektif ialah mereka yang mampu menggerakkan anak buah tanpa bergatung pada instruksi semata. Irit instruksi, menguasai emosi.

3. Komunikasi Budaya dan Food Diplomacy

Lalu jikalau irit instruksi bagaimana komunikasi tersebut dapat dijalankan? 

Kuncinya ada pada pembangunan budaya. Lihatlah peternak bebek. Tanpa banyak berkata-kata bebek sudah hapal kemana perginya rombongan hanya dengan ayunan tongkat maupun cambuk. 

Ini karena kebiasaan dan budaya yang dibangun si pemimpin. Sehingga pengikut hapal dengan ritme kerja yang dibagikan.

Peran makanan juga penting. Seperti pemberian ikan saat lumba-lumba sukses melakukan atraksi.

Ilustrasi menggembala sumber: sangkarkambing.com

4. Penggembala memastikan semua anggota utuh dan selamat

Menggembala mampu menjadi sarana pembiasaan diri untuk melakukan evaluasi. Menghitung jumlah ternak saat semua kegiatan usai di sore hari.

Penekanan nilai bahwa setiap anggota adalah penting. Ia pun harus menghitung dengan jujur berapa jumlah ternak yang ada dan ia gembalakan. Diperiksa satu per satu. Memastikkan semua baik-baik saja.

Sudahkah kita belajar kepemimpinan dari para pengembala?

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s