Inilah Alasan Ada Lelaki yang Bekerja Sangat Keras Sehingga Ia Kadang Nampaknya Seperti Lupa Waktu dan Lupa Kamu

Selamat malam,  Apa kabar? Baik?

Saya berharap, anda yang membaca postingan blog saya ini baik-baik saja. Sehat walafiat tak kurang sesuatu apapun. 

Ya, malam ini dibuka dengan artikel blog dengan judul yang menye-menye. Terlihat cengeng penuh drama bak sinetron. 

Tapi, sebaiknya teman-teman yang membaca postingan ini tidak buru-buru mengambil kesimpulan apalagi menghakimi. 

Sebelum saya mulai bercerita, mari kita sepakati dulu bahwa postingan ini bertujuan untuk media berbagi pengalaman. 

Waktu adalah sumber daya yang sangat terbatas. Sekaligus berharga. 

Kalau bisa belajar dari pengalaman orang lain, mengapa tidak?

Ok, sebelum saya berbagi cerita lebih jauh, mari kita bolak-balik kalender sejenak. 

Flashback ke belakang, April-Maret-Februari-Januari-Desember. Stop. 

Ya, beberapa bulan yang lalu saya sempat mengalami kejadian yang menurut saya kurang mengenakkan. 

Tapi ada hikmah yang bisa diambil dari peristiwa itu.Hal itu terjadi ketika saya masih menjadi bagian dari public relation sebuah institusi pendidikan di Bandung. 

Saya mengambil inisiatif tersebut setelah izin dengan atasan saya di bagian Public Relations (PR). Sekaligus saya mengejar berita momen pertama penyambutan kedatangan rombongan pertukaran pelajar. 

Karena, sejauh yang saya pelajari di konten web memang sebelumnya belum pernah ada konten berita terkait penyambutan rombongan mahasiswa pertukaran pelajar.

Alasan lain? Dari divisi international office, berdasarkan informasi yang saya himpun memang tidak memiliki rencana untuk menyambut kedatangan rombongan mahasiswa pertukaran pelajar tersebut.

Lagipula, salah satu anggota rombongan yang datang ada teman saya yang saya kenal cukup baik. Sikapnya koorporatif dan menyenangkan. Informasi yang dia bagikan banyak membantu saya dan teman-teman di tim portal berita kampus. 

Saya datang dengan dandanan yang sangat rapi. Celana panjang kain, jam tangan, sepatu, kemeja, lengkap dengan vestnya, serapi mungkin yang saya mampu. 

Karena saya sadar, di situ saya bekerja sebagai representasi dari institusi di mana saya bekerja waktu itu. 

Pukul 3 sore, berbekal ijin dari atasan, saya datang dari Bandung menggunakan transportasi umum bus primajasa. 

Enam jam lebih awal dari waktu kedatangan mendarat pesawat yang tertulis di jadwal: 20.30 malam.

Perjalanan dari Bandung menuju Bandara internasional Soekarno Hatta Cengkareng saat itu lebih lama dari biasanya. Lalu lintas yang cukup padat, memasuki ibukota di saat jam orang pulang kerja membuat bus yang saya tumpangi harus cukup lama tertahan di tol dalam kota. Satu jam sendiri. Di dalam perjalanan saya tak henti-hentinya berdoa: Semoga saya tidak datang terlambat. 

Sesampainya di terminal kedatangan internasional. Waktu itu saya tidak melihat ada spanduk, baligho, dan embel-embel lain yang biasa digunakan untuk sesi penyambutan. 

Tak juga nampak rekan-rekan saya sekantor waktu itu. Setelah beberapa kali mencari informasi. Bertanya ke petugas keamanan, menanyakan jam kedatangan pesawat ke lokat informasi, mengecek kembali di papan informasi elektronik berisi jadwal kedatangan pesawat.

Akhirnya saya yakin, rombongan akan tiba melalui terminal 2D.

Sesampainya di terminal 2D, tugas saya belum selesai. Karena ternyata, terminal kedatangan 2D terbagi ke dalam dua bagian. Bagian barat dan timur. Rombongan bisa saja datang dari salah satu gate yang letaknya cukup jauh itu.

Setelah mempelajari situasi, saya mencoba membuka obrolan dengan salah satu ibu-ibu yang sepertinya juga menunggu penumpang pesawat datang. 

 “Tante, permisi, apa tante juga sedang menunggu pesawat anu?” 

 “Wah! iya, saya juga sedang nunggu pesawat anu mas, memang mas dari mana?”

 “Saya dari *saya menyebut tempat institusi tempat saya bekerja dulu* oh iya tante, kenalkan saya Nando.” 

 “Sebentar? Kamu Nando dari *xxxxx* oooo… kayaknya si (peeep) pernah cerita tentang kamu.” 

 “Wah ! betul bu ! saya temennya si Anu!”

“Baru aja tante ngebatin, ini nggak ada apa ya dari institusinya yang menyambut rombongan?, eh mas Nando dateng.” 

Di satu sisi: Saya lega. Saya bertemu orang yang tepat. Namun, di sisi lain prediksi skenario terburuk yang saya takutkan terjadi: tidak ada perwakilan institusi yang menyambut rombongan mahasiswa pertukaran pelajar yang dimaksud. 

Kami pun mengobrol panjang lebar. Tante yang ramah dan (sepertinya) berkarakter sanguinis ini memang suka melempar candaan. 

Tak jarang saya ketawa dibuatnya. Cekikikan sambil menunggu. Ceplas-ceplos. Emak-emak gaul. 

Berbagai masukkan pun saya peroleh. Saya catat juga, tentu saja. Tak lupa, masukkan-masukkan saya sampaikan ke bagian yang berwenang beberapa hari setelah peristiwa yang sedang saya ceritakkan ini.

Ternyata tante nggak datang sendiri. Tapi mereka datang sekeluarga menjemput teman saya itu.

Nggak cuma ngobrol dengan tante. Tapi juga dengan si Om, suaminya. (yaiyalah). Maksud saya, Bapak temen saya itu. 

Lain dengan tante, si om ini tipikal bapak-bapak protektif. (Emang ada ya bapak-bapak yang nggak protektif? haha) 

 *Nah di sini lah mulai terlihat, kenapa judul artikel blog saya kayak menye-menye begitu*

Setelah sekian lama mengobrol, si kepala keluarga mulai buka suara:

Ilustrasi | sumber: ciricara.com

“Nak nando, kamu kerja di mana?”

“Saya di bagian public relation xxxxx om.” 

“Seharusnya, anak muda itu memulai karirnya dari perusahaan besar. Kayak di ..xxxx..group misalnya “, Kata si om memulai ceramahnya. 

“Wah, iya om? ada saran?”

Iya bla bla bla….

Dia mulai bercerita tentang ilustrasi bekerja di perusahaan besar. Salah satu operator telko.

Sementara, saya hanya terduduk diam, mendengarkan. Yang namanya orang tua, banyak pengalaman, banyak ilmu, banyak pula yang bisa didapat.

Sambil sebisa mungkin untuk tetap bisa tersenyum. Jujur saja, makin ke sini, kata-katanya kok terasa makin pedas. Sudah kayak kripik mak icih saja. Ada level pedesnya.

Dengan orang seperti beliau, saya cenderung untuk menutup diri. Menutup rapat-rapat identitas saya, siapa saya sebenarnya dan apa yang sudah saya lakukan. 

 “Di telko bagus, tapi di perusahaan induk, saya kenal GM Telco ini. Beberapa kali kami golf bareng.”, cetusnya dengan nada yang nampak meremehkan anak muda yang duduk di hadapannya itu. 

Sebenarnya, waktu itu jika anger management saya buruk bisa saja saya menjawab: 

“Saya juga minimal sebulan sekali golf kok om.

Karena golf memang bagus untuk mengenal karakter seseorang, melobi mereka untuk melakukan deal-deal dan keputusan penting. Banyak deal-deal penting terjadi di lapangan golf. 

Contohnya? Deal antara mantan presiden Soeharto dengan Lee Kwan Yew dan beberapa pemimpin negara asia tenggara lainnya pada saat akan mengkonsep berdirinya ASEAN. 

Ya, Menurut kesaksian Marshal Green, ASEAN lahir dari loby lapangan golf. Adam malik pun seringkali menggunakan golf sebagai media lobinya, walau ia memulainya dari poin handicap yang jelek: 36.”

Tenang saja, itu cuma draft. Tak benar-benar terucap. Karena, pada kenyataannya… 

Saya hanya menjawabnya dengan senyum yang seramah mungkin. 

Akal sehat saya berujar dan terus mengingatkan bahwa malam itu saya adalah representasi dari institusi di mana saya bekerja. 

Sekitar setengah jam kemudian, rombongan datang. Saya seperti biasa mengambil gambar dengan kamera, melakukan wawancara singkat, dan mengejar kutipan dari narasumber. 

Selesai bertugas, saya buru-buru pamit. Karena besok paginya saya masih harus bekerja seperti biasa. Tidak ada libur.

Dalam perjalanan pulang, dengan pandangan yang sembari menerawang ke kolong langit saya berpikir sekaligus bertekad. 

Saya harus berusaha lebih keras lagi.Supaya tak lagi diremehkan seperti tadi. 

 Tak lupa, saya pun mencoba untuk tetap berprasangka baik dan menganggap bahwa beliau memberikan nasehat atas dasar kepedulian sebagai generasi yang lebih tua kepada anak muda seperti saya. 

Coba bayangkan? Itu saya padahal datang sebagai teman yang sedang menunaikan tugas institusi di mana ia bekerja. Lha ini? Gimana kalau datang ke calon mertua ya?

Cerita senada juga pernah disampaikan oleh salah seorang sahabat saya yang penggiat startup

Pernah suatu ketika ia bertamu ke rumah orang tua pacarnya. Kata-kata yang merasuk ke telinganya sungguh pedas. 

 “Buat apa kamu sama si Anu? Apa itu startup? masa depannya nggak jelas. Mending kamu sama pegawai negeri yang lebih jelas masa depannya bla bla bla.” 

Dan ia pun mengambil sikap yang serupa dengan apa yang saya ambil. Ia bertekad untuk bekerja dengan sangat keras. Demi masa depannya. 

 Jadi terungkap sudah mengapa judul artikel blog yang diambil seperti itu? 

Well, sebelum saya menutup tulisan kali ini….

Percayalah. Di tengah kesibukkan laki-laki pekerja keras itu, atau di tengah-tengah doanya. Selalu terselip nama orang-orang yang mereka sayangi.

 

 

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s