Diam, Mengamati, Merekam, Tulis

Semarang, nandonurhadi – Semenjak pulang ke Semarang, lingkungan menempa saya untuk menjadi lebih “ngerem”. 

Pertanyaannya, ngerem apa?

Begini …

Bandung dengan segala hiruk pikuknya adalah kota yang memberi Anda begitu banyak keleluasaan.

Keramaian masif yang dimiliki Bandung adalah surga bagi para ekstrovert.

Komunitas apa saja bisa Anda temui di sana. Mulai dari yang solat berjamaah di waktu ayam belum berkokok, Ada! Darut tauhid jawabannya.

Hingga yang dugem berjamaah sampai pagi dengan segala macam night life-nya. Semua ada. 

Yang hobi kulineran ada, hobi kamera ada, modifikasi mobil pun ada, geng motor baik-baik sampai yang menghiasi media nasional karena bukan geng motor biasa pun ada!

Kurang apa Bandung itu?

Di Semarang dan Magelang, saya menemukkan jawabannya.

Kota ini, tak seramai Bandung. Di sana apa-apa ada. Di sini? Jam sebelas malam orang sudah pada tidur!

Dua kota tadi membuat saya menjadi lebih “introvert”. Atau seperti yang sudah saya singgung di paragraf pertama tadi. Di sini adalah tempat yang pas untuk ngerem.

Ngerem apa saja?

Ambisi, ektroversi, hasrat untuk tampil di atas panggung, kenikmatan berorasi, dikelilingi banyak orang, “banyak teman”, berorganisasi, belajar, teknologi, semuanya.

Awalnya, saya sempat kagok dengan ritme baru ini. Di Bandung (dan kadang ke Jakarta) yang serba terburu-buru, kini di Semarang (dan Magelang) yang setel kendor.

Tapi setelah saya banyak merenung, berpikir, banyak bertanya dan kadang menuliskannya di kertas, buku atau bahkan blog. Menyingkir ke tempat yang lebih sunyi tak selamanya buruk.

Ada ketenangan. Ada jeda. Tiada buru-buru. Membuat saya jadi lebih banyak diam, mendengar, mengamati dan merekamnya ke dalam catatan seperti sekarang.

Ada bagusnya keadaan membawa saya menyingkir seperti sekarang. 

Siapa bilang saya tidak sibuk? Kini saya mulai lebih menikmati kesibukkan baru. Sibuk mendengar dan mengamati daripada sibuk berbicara. Lebih sibuk mendapatkan input  daripada sibuk memberi input.

Tenang rasanya. Dan lebih banyak input daripada periode yang saya alami sebelumnya. 

Perlahan-lahan saya menemukkan keseimbangan. 

Mungkin ini salah satu wujud kasih sayangNya. Karena segala sesuatu yang berlebihan pasti kurang baik adanya.

ilustrasi mendengar sumber: digitalforlife.com

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s