Warung Sate , Tongseng dan Bistik Kambing Pak Amat & Secret Hints From The Pro

Semarang, nandonurhadi Semarang hari ini terasa lebih dingin dari biasanya di sore hari. 

Barangkali, itu karena ibu kota provinsi Jawa Tengah itu terselimuti mendung semenjak ba’da ashar.

Suasana seperti tadi memang sangat mendukung peningkatan mood akan makanan berkuah. Yang hangat-hangat. Dan yang terpenting tetap masuk kategori nikmat.

Buat apa enak di badan kalau di lidah tidak enak?

Bisik-bisik terdengar dari salah satu sudut di kawasan Jl. Thamrin. Tepatnya Jl.Thamrin No.23.

Ada apa di tempat itu? Di sana bersemayam salah satu resep masakkan yang terjaga baik sejak dulu. 

Saya sudah jadi langganan sejak SMA. Sedari warungnya kecil, nggak jelas, dan seporsi makanan berkuah yang bakal kita bahas nanti masih dijual dengan harga kisaran Rp 20.000,00 -an.

Semasa SMA, kurang lebih 10 tahun yang lalu. Saya biasa datang di hari sabtu. Sepulang les musik atau beberapa minggu diantaranya: kursus menyetir mobil. 

Jalanan di sana dulu masih kumuh, banyak sampah. Sekarang jauh lebih tertata rapi. Lebih banyak gedung pertokoan dan perkantoran. Sejalan dengan rejeki Pak Amat (nama pemilik warung) dan putranya yang semakin baik saja.

Sungguh, sudah lama saya tidak ke sini. Terakhir, bareng dengan alm. Om Heri. Yang selalu memesan tongseng tanpa kol. Iya, dia alergi Kol. 

(Dear Om Heri, terima kasih. Seingatku, dirimulah yang pertama kali mengenalkan tempat makan ini ke keluarga kami. 

Lengkap dengan cuap-cuap panjang lebar tentang betapa enaknya gulai kepala kambing semasa masih hidup dulu). 

Yes, time flies. Poeple changes. Memories not.

Saya berdiri di tempat yang sama, 10 tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Sate Kambing dan Tongseng Pak Amat

  

Daftar Harga Sate dan Tongseng Pak Amat Semarang

 

Mahal ya? Memang. Karena sekarang sudah banyak yang kenal dan paham betapa enaknya masakkan di sini. Masakkan dari orang-orang yang slengek’an. Penuh canda tawa. 

Sepanjang pengalaman jajan di sana, nggak pernah tuh ada kisah galau/sedih dari Pak amat dan gengnya. 

And here is the hint: 

Jangan pasrah memesan sesuai dengan apa yang tertera di menu. Make it spesific. Special part of the lamb when you order.

Dari deretan olahan yang ada. Tongseng memiliki tempat khusus di hati saya. Ijinkan saya menyebutnya lebih lengkap: Tongseng lidah a la Pak Amat Jalan MH.Thamrin.

Mengapa tongseng? Kental kuahnya pas. Manisnya pun. Tipis gurih. Dengan tambahan kentang yang membuat aroma gurihnya makin keluar. Matang berjamaah tepat pada waktunya di atas tungku arang tenaga kipasan manusia.

  

Tongseng a la Pak Amat

No question. No complain. Percaya. Beriman sepenuhnya pada racikkannya.  

Tongseng Lidah a la Pak Amat

Lahap. Kenyang. Di kunyahan tertentu kriuk. Tak ketinggalan kenyal empuk di kunyahan yang lain. Ah, nikmatnya tongseng lidah

Silakan ke sini selain hari kamis legi dan jumat kliwon. Di tanggal itu, warung ini biasa tutup. Rutin adakan pengajian katanya.  Buka sedari pukul 11.00 pagi – 22.00 malam.

Cukup ya? Sudahlah. Saya mesti cerita apalagi. Tugas saya memberikan “hidayah” sudah selesai. Mau beriman atau tidak itu keputusan sampeyan. Mengutip salah satu kutipan favorit pejabat terkemuka: “Bukan urusan saya.”

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

2 thoughts on “Warung Sate , Tongseng dan Bistik Kambing Pak Amat & Secret Hints From The Pro”

  1. Salam kuliner…
    Dulu lokasi sate pak Amat tidak tepat di situ, meskipun masih sama sama di Jalan thamrin.
    Dulu lokasinya aga bergeser ke arah utara sedikit, berdampingan dengan Asrama Polisi Thamrin, yang sudah digusur tahun 80-90an.
    Ssaya paham , karena masa kecil saya tinggal di asrama tersebut, meski kemudian kelas 4 SD pindah ke Semarang Timur / Timur Semarang.
    Alm. bapak langganan warung sate ini, tapi tidak dimakan di tempat. karena deket, biasanya take away pake rantang. menu favoritnya seingat saya adalah tongseng kikil dan cingur (bagian kepalanya). ingat ya karena sayalah yang sering disuruh bapak beli lauk favoritnya tersebut.
    Insyaa Allah tahun ini saya musti mampir ke situ.. nostalgia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s