4 CEO Sambangi Telkom University Demi Berbagi Perihal Entrepreneurship

“Untuk menjadi negara besar indonesia butuh setidaknya 2% dari jumlah penduduk berprofesi sebagai entrepreneur. Entrepreneur bisa menjadi salah satu jalan untuk menggapai kesuksesan dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik untuk bangsa. Dan dari acara yang mengundang para CEO dari berbagai latar belakang, ini kesempatan bagi kita untuk belajar banyak dari mereka”, adalah pesan yang disampaikan oleh Miftahuddin Usman Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2010 saat membuka acara Meet The CEO 2014. Acara tersebut berlangsung Kamis 27 November 2014 lalu di Aula Fakultas Ilmu Terapan (FIT) Telkom University.

Iswandi Umar dari Bagian Kemahasiswaan Telkom University yang memberikan sambutan kemudian menambahkan bahwa pihaknya berharap ilmu yang diberikan dapat memotivasi mahasiswa Tel-U, agar bisa berpikir lebih maju terutama terkait entrepreneurship dan leadership.

Acara tersebut sebenarnya mengundang 6 CEO sekaligus. Namun, Bapak Irwan Hidayat dari Sidomuncul dan Bapak Wishnutama selaku pimpinan NET Mediatama berhalangan hadir. Walaupun, nama yang disebut terakhir juga dikenal sebagai anggota senat luar biasa di Telkom University.

Pada acara tersebut, keempat pembicara yang akhirnya dapat memenuhi undangan dari pihak panitia diantaranya: Henry Husada (CEO Kagum Grup), Ishak Surya (CEO Anata Salon), Perry Tristianto (Big Cut Price Group), dan yang terakhir Nanda Persada (CEO PM Artist).

Pada sesi pertama, Pak Henry Husada didapuk sebagai pembicara pembuka. Materi yang disampaikan oleh beliau lebih merujuk pada kristalisasi pengalamannya sedari awal membangun bisnis di tahun 1989.

“Saya mulai bisnis di tahun 1989, pertama saya bikin bisnis pertokoan di jalan cihampelas. Awalnya kami mulai dengan 19 toko. Itulah awal dari kagum group”, ungkapnya memulai sesi sharing.

“Di 2005 kami mulai bangun hotel. Karena Bu Megawati presiden RI waktu itu mencanangkan akan membangun tol Cipularang. Saya melihat peluang bahwa walau jaraknya dekat, orang Jakarta akan banyak menginap di Bandung. Atmosfernya berbeda. Dan semenjak itu saya memutuskan untuk memulai bisnis hotel. Agustus lalu, kagum grup meresmikan 15 hotel dalam satu hari”, katanya.

“Pangsa pasar kami adalah tourist. Turis butuh tempat menginap, kita bikin hotel. Turis butuh tempat makan kita punya resto, mereka butuh transportasi kita juga punya bisnis di sana” bebernya saat ditanya mengenai inti bisnis yang dijalankan oleh kagum grup.

Beliau sangat antusias bercerita mengenai perjalanan bisnisnya. Ketika ditanya apa rahasia bisnis yang beraneka ragam dan sebesar kagum grup itu mampu bertahan, beliau menjawab bahwa walaupun bisnisnya beraneka ragam, rahasia kagum grup mampu bertahan adalah mereka tidak pernah keluar dari core businessnya.

Apabila pada sesi pertama audiens banyak mendengarkan lika-liku perjalanan bisnis dan wisdom didapat dari itu semua, pada sesi kedua audiens diajak untuk mengenal bisnis dari sudut pandang praktikal.

Ishak Surya, CEO anata salon membeberkan bahwa dalam mengembangkan sebuah bisnis perlu blueprint yang jelas.

“Pertanyaan yang umum diajukkan kepada saya saat ada orang yang berkonsultasi ingin membuka salon baru adalah: Kalau mau buka salon, modalnya berapa ya?”, curhatnya.

“Jawabannya? Tergantung. Kalau Anda punya alokasi modal 100 juta maka model bisnis yang saya sarankan seperti ini, kalau 200 juta seperti ini, 500 juta seperti ini, dan seterusnya” bebernya kemudian.

Kesulitasn terbesar di bisnis salon menurut Ishak adalah sang pemilik menggantungkan rejekinya di tangan-tangan para stylish yang langsung berhubungan dengan pelanggan. Maka dari itu, dalam bisnis salon, seyogyanya pemilik memprioritaskan kesejahteraan pegawai terlebih dahulu.

“Dalam berbisnis, keluarga saya mengajarkan gaya hidup orang kaya: gaya hidup yang memahami detail, paham proses, paham action. Bukan gaya hidup mewah!  Semua bisnis itu dirapiin dulu, karyawan makmur dulu, kita owner dapat berkat belakangan” ujarnya menekankan.

Saat ditanya mengenail pengaruh sekolah terhadap perjalanan bisnis yang digelutinya, jawaban menarik pun didapatkan oleh audiens.“Ada yang bilang kalau bisnis nggak perlu sekolah. Salah! Justru bisnis perlu berbagai macam ilmu yang baik untuk diterapkan pasca lulus dari sekolah. Bisnis adalah soal ilmu, kerja keras, pengalaman dan ketahanan. Mulai dari jadi karyawan pun tidak masalah. Selalu upayakan kualitas yang terbaik. Kalau kita dipercaya kerjakan usaha orang aja seenaknya, mana mau Tuhan percayakan suatu usaha ke diri kita?”, jelasnya.

Lain Ishak Surya lain pula Perry Tristianto. Pria juga dikenal sebagai si raja FO di Bandung ini terang-terangan menekankan pentingnya aspek marketing dalam bisnis. Bahkan dalam semua aspek profesi.

Apapun profesinya, yang penting marketing. Dokter pun kalau marketingnya jelek dia gak laku. Dia mati. Pria memiliki berbagai macam usaha mulai dari FO, The ranch, floating market, formen hingga tahu susu lembang ini mengungkapkan bahwa apa yang selama ini ia lakukan hanyalah memarketingkan sebuah produk dengan sangat baik.

“Tahu susu lembang contohnya, itu berasal dari pengrajin tahu. Kita rebranding ulang. Kita beri konsep yang benar-benar jelas. Selama ini yang terkenal kan tahu tauhid. Saya punya ide membuat tahu susu lembang. Kenapa kami pakai lembang? Jadi kalau ada orang nanya tahu susu yang terkenal di daerah lembang ya perginya ke tempat kami bukan ke yang lain,”jelasnya.

Pria yang kini memimpin lebih dari 1400 orang karyawan di grup usahanya itu tak segan memberikan contoh lain. Kali ini Ia bercerita tentang asal mula The Ranch. “Bikin The Ranch, kami sama sekali nggak punya kuda! Ngapain. Itu urusan para peternak kuda di sekitar sana. Yang kami lakukan adalah mengemas wisata menunggang kuda dengan konsep yang unik. Menunggang kuda ala koboy, lengkap dengan baju dan topi koboynya”, ucapnya.

Saat disinggung mengenai floating market, pria paruh baya itu pun menjawab bahwa ide awalnya berasal dari pasar apung yang disiarkan di sebuah stasiun televisi swasta ternama. “Idenya dari sebuah stasiun TV, kita kepikiran bagaimana kalau orang-orang datang menikmati sajian kuliner dari pedagang-pedagang yang ada di atas perahu”, terangnya.

Tak lupa pembicara ketiga menjelaskan bahwa untuk mengelola sebuah holding company seseorang perlu melakukan transfer ilmu kepada para karyawannya. Menurutnya, pebisnis tidak perlu takut akan disaingi oleh anak buahnya suatu saat nanti. “Jangan khawatir, ingat bahwa kita hidup dari orang yang lebih kecil dari kita. Saya bisa berdiri di sini juga karena karyawan saya. Ngapain disaingi, daripada disaingi mending diajak kerjasama. Kamu mau apa? Jadi CEO? Share mau berapa persen?”, ungkapnya memberi contoh.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam menjalankan sebuah bisnis adalah sumber daya manusia. Seni mengenai menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat pula. The right man on the right place. Dia mengungkapkan bahwa dari semua usaha yang dikelolanya itu tak semua sukses. Ada juga yang gagal. Sampai sekarang pun, pria yang memimpin sebanyak 22 grup usaha itu pun mengaku masih aktif mengajari karyawannya.

Di sesi terakhir, Nanda Persada CEO PM artist berbagi kiatnya bersama dengan Nycta Gina. Nanda mengaku bahwa potensi bisnis manajemen artis di Indonesia masih sangat besar. Hal itu dikarenakan industri hiburan di Indonesia saat ini sedang berkembang. “Banyak artis yang sedang berkembang dan membutuhkan manajer.”, sebutnya tanpa merinci angka.

4 CEO Sambangi Telkom University Demi Berbagi Perihal Entrepreneurship
4 CEO Dari Berbagai Industri Sambangi Telkom University Sharing Pengalaman Menjalankan Bisnis

Tak ketinggalan, Nycta Gina pun membeberkan bagaimana kiat menjadi seorang artis yang sukses. “Syarat jadi artis yang bagus adalah tetap jadi pembelajar dan bersikap professional. Kita berusaha, berdoa. Ada suatu titik di mana kita akan menemukkan kesuksesan.”, ungkapnya berbagi rahasia.

Memasuki bab permodalan, pria berkulit sawo matang itu mengaku bahwa modalnya tak sebesar yang dibayangkan. Adanya kantor pun untuk memenuhi kebutuhan surat menyurat.

Fee manajemen artis itu ada 10%,15%,20%,40% bahkan 50% durasinya pun bermacam macam. Ada 1 tahun 2 tahun 5 tahun 10 tahun bahkan seumur hidup.”, ungkapnya saat ditanya mengenai biaya yang perlu dirogoh Si artis untuk disisihkan ke pihak manajemen.

Tak lupa, beliau berbagi sedikit tips mengenai proses casting. “Jangan pernah capek ikut casting. Yang ditolak belum tentu jelek. Casting itu pada prinsipnya adalah mencari peran dan karakter yang cocok.”, jelasnya menutup acara meet the CEO.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s