Pentingnya Kemampuan Membaca, Menulis, dan Berorasi

Kebiasaan membaca, menulis, dan berorasi. Ketiga kebiasaan ini penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin.

Mengapa Soekarno memiliki kharisma yang begitu hebat? Karena ia menguasai betul ketiganya.

Pertama, semuanya harus dimulai dari kegemaran membaca.

Soekarno kecil adalah seseorang yang “kuper”. Kuper dalam pergaulannya yang dahulu banyak diisi orang-orang Belanda dan sedikit inlander.

Kusno Sosrodihardjo adalah seorang anak yang segala daya-upaya-dan-biaya diusahakan oleh orang tuanya demi meraih pendidikan tinggi. Pendidikan terbaik.

Ayahnya -Raden Soekemi- seorang guru, teman ayahnya seorang kepala perpustakaan.

Soekarno, pemuda kulit berwarna dengan gaya parlente. Namun kuper. Kuper diantara teman-temannya yang orang Belanda. Kuper karena kekecewaan pasca mendapat perlakuan rasial ketika bermain sepakbola.

Soekarno yang “kuper” itu lebih banyak bergaul dengan buku. Lewat buku, ia mengenal George Washington, Napoleon, Karl Marx, Gandhi, Jenghis Khan dan segenap tokoh besar lainnya.

Soekarno tumbuh bersama buku. Soekarno tumbuh bersama kebiasaannya membaca.

Membaca memperkaya khasanahnya. Kebiasaan yang sama pula memperkaya pilihan katanya.

Yang kedua, Kebiasaan menulis. Mencatat apa yang sudah di”baca”. Mencatat apa yang dialami, mengumpulkan pengalaman. Menulis adalah proses mengkomunikasikan lagi gagasan dan ide-ide. Yang diperoleh dari banyak sumber.

Soekarno adalah orang yang terbiasa bertukar gagasan lewat tulisan. Ia kerap menulis. Dari tangannya lahir suluh indonesia muda. Dari pena di ujung jemarinya lahir puluhan, bahkan ratusan kumpulan surat pembaca yang ia kirimkan ke berbagai media.

Surat pembaca ia gunakan sebagai sarana diskusi dengan sesama intelektual. Diskusi hijab dengan Agus salim atau diskusi imperialisme dengan hatta.

Bagi saya, menulis adalah salah satu perwujudan orasi pasif. Berorasi di atas kertas. Selama kertas itu dibaca, orasi dari dalam kepala kita akan terbaca.

Menulis adalah sebuah kemampuan untuk menyampaikan gagasan secara terstruktur, runtut, sehingga enak dibaca. Menulis: Berbicara-pada-khalayak-yang-tidak-secara langsung-kita-lihat.

Kebiasaan berorasi adalah kebiasaan mengungkapkan gagasan, ide, pola pikir yang biasanya hanya kita tulis.

Orasi adalah sebuah kemampuan untuk menyampaikan apa yang ada di dalam kepala. Mirip dengan menulis. Namun, sifat orasi adalah irreversible. Setiap kata yang sudah terucap tidak dapat ditarik kembali.

Orasi yang hidup adalah orasi yang juga persuasi. Mengajak untuk mengikuti gagasan, pikiran, paham dsn ide-ide baru yang lebih segar.

Berorasi membutuhkan intonasi, permainan emosi, nada yang naik turun, vokal yang bulat, dan penyampaian yang bervariasi.

Apa kaitan dari kebiasaan itu semua?

Kebiasaan membaca memperkuat kebiasaan menulis. Dan kebiasaan menulis memperkuat kebiasaan berorasi.

Dengan terbiasa membaca, maka kita akan mampu mengambil banyak sudut pandang, kosakata, gaya, dan diksi saat menulis.

Dengan terbiasa menulis kita akan terbiasa untuk berbicara (berorasi, red) dengan lebih terstruktur.

Dengan terbiasa berorasi maka kita akan mampu menanamkan emosi yang lebih kuat dalam setiap jengkal kata yang kita tulis.

Dan pemimpin yang tidak memiliki ketiganya, adalah pemimpin yang pincang.Pincang dalam olah kata, rasa, dan makna.

Follow twitter penulis di @nando_nurhadi

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s