Ide dan Eksekusi. Mahal Mana?

Sepuluh acak orang yang aku temui pernah kusodori pertanyaan yang sama:

“Mana yang lebih penting? Ide? Atau eksekusi?”

Beberapa diantara mereka ada yang menjawab:

“Ah, kalau sekedar punya ide mah, aku juga bisa kali! Mahal eksekusinya dong!”

Ada juga yang menjawab:

“Ide lebih mahal! Ga semua orang bisa menemukan pencerahan.”

Sebelum kita berebut menjawabnya. Mari sejenak kuajak melintas ke masa lalu. Tidak jauh. Tidak begitu jauh.

Sekitar 2 tahun lalu, ada sebuah peristiwa yang bagiku cukup memberikanku pelajaran berarti.

Pembelajaran itu dimulai dari kebaikkan seorang kolegaku yang bekerja di Jakarta, mengenalkanku ke temannya yang saat itu sedang melakukan studi di sebuah negara maju di Asia.

Sebut saja R. Dia berinisiatif mengenalkan kami karena dia melihat ada sebuah kesamaan diantara kami berdua.

“Kami, bermimpi dan bertindak memajukkan negeri ini melalui kancah teknologi.”

Menciptakan teknologi bukan hal yang asing bagiku. Bersama teman tugas kelompok kuliah membuat mediakampusimt.wordpress.com hingga aku bersama teman-teman di Central Computer Improvement menciptakan portal berita @StudentsUnitel.

Di sana, kami belajar banyak.

Bagaimana distribusi informasi di kampus kami kini berubah. Dari mading mendominasi hingga kini informasi digital jadi budaya. Muncul sebagai sebuah kebutuhan baru, dari yang tadinya tidak ada sama sekali.

Kembali ke topik utama.

Singkat cerita, aku berkenalan via twitter dengan orang yang kami maksud. Sebut saja A. Tak lama kami kenal,  berlanjut bertukar nomor mobile.

Itu membuat kami kini terhubung ke hampir semua akun sosial media. Terutama applikasi chat.

Walaupun berjauhan, kedua anak muda dengan semangat idealisme itu berkomunikasi cukup intens.

Skype jadi andalan. Maklum, biaya komunikasi Bandung-Korea Selatan cukup mahal bila ditempuh dengan telepon biasa. Saat itu, skype menjadi pilihan masuk akal bagi kami berdua. Aku dan si A itu.

Kedekatan yang makin intens menumbuhkan kepercayaan yang makin baik dari hari ke hari.

Tak terasa, bertukar ide pun jadi hal biasa diantara kami berdua. Bedanya? Ide yang kuberikan memang berujung moneytize.

Sementara ide yang ia berikan lebih terkait pada cara kami memajukan bidang keilmuan.

Segala bujuk rayu ia lancarkan agar saya, bersama teman-teman lain yang juga diajak segera mengirimkan foto kopi KTP dan segala prasyarat untuk mendirikan badan usaha (PT).

Waktu itu, entah mengapa rasa-rasanya intuisi ini tak sebegitu mantab. Setiap kali mau mengurus berkas yang dimaksud halangannya ada saja.

Hikmahnya, baru kuketahui di kemudian hari. Sekitar 6 bulan pasca perkenalan kami. Si A mengajakku untuk kopi darat. Tapi, dengan berbagai alasannya dia meyakinkan pertemuan kami berlangsung di Depok, dekat UI. Walau sebenarnya, aku sempat mengusulkan: Kenapa tidak di Bandung saja?

Bandung kupilih bukan tanpa alasan yang jelas. Di sini, ada inkubator bisnis. Selain itu, kaya akan komunitas. Termasuk programmer, desainer, dan segala resource yang dibutuhkan.

Waktu itu, dengan mempertimbangkan itikad baik. Maka diputuskanlah aku mengalah pergi ke Depok.

Perasaan tidak enak semakin kuat. Tempat yang dipilih di depok pun terasa sangat menyulitkan.

Sampai akhirnya, aku bagai tersambar petir di siang bolong. Ide yang kami bahas selama kurang lebih 6 bulan itu dipatenkan oleh Si A tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu.

Tak tanggung-tanggung. Paten itu dibeli salah satu raksasa elektronik di negeri gingseng sana. Dan berlaku 20 tahun.

Tak bisa kuceritakan sekarang mengenai bagaimana detailnya.
Teknologinya memang baru akan terlihat 5-10 tahun ke depan.

Sejak itu, aku menyadari bahwa ide saja ternyata semahal nilai eksekusinya. Bisa jadi lebih mahal bahkan!

Sejak itu, aku lebih berhati-hati lagi apabila di dalam karya yang kukerjakan terdapat ide atau sumbangsih pemikiran orang lain.

Setidaknya, mereka berhak mendapatkan kredit, portofolio, pengakuan dan sejenisnya. Ide adalah kekayaan. Kekayaan yang hanya mampu dihasilkan para intelektual.

Kadang, dengan sinisme aku seringkali bergumam. Gumam yang spontan. Tanpa ada maksud merendahkan pihak tertentu.

“Kalau eksekusi itu mahal, Mengapa jumlah karyawan banyak, sementara founder/CEO hanya satu?”

“Bahkan, pemikiran founder/CEO yang diwujudkan itu, mampu membuka lapangan kerja baru. Membuka-lapangan-kerja-baru. Suatu hal, yang tidak mampu dilakukan para penerima gaji.”

Sejak saat itu aku sangat berhati-hati dalam mengeluarkan gagasan. Bertukar gagasan dengan orang lain.

Tidak pernah lagi kuungkapkan secara bebas luas walau dalam diskusi sekalipun.

Mengapa? Karena ide bisa saja semahal eksekusinya. Bahkan, jikalau dilihat dari kacamata potensi, sebuah ide memiliki potensi yang lebih besar.

Ide harus dikeluarkan di saat yang tepat. Didiskusikan bersama orang yang tepat. Dan dieksekusi oleh orang yang tepat pula.

Setidaknya, itulah apa yang sejauh ini aku rasakan sendiri. Sehingga itu tumbuh menjadi sebuah keyakinan. Bukan sembarang keyakinan. Namun, keyakinan yang terpatri kuat.

Ada yang mau berpendapat?

Follow twitter penulis di @nando_nurhadi

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s