The Art Of Joking dan Gunanya dalam Berorganisasi

Halo,
Selamat malam,
Adakah yang juga belum tidur?

Kalau jawabanmu iya, barangkali itulah yang mendorong kamu untuk sampai ke tulisan ini.

Tidak apa-apa. Takkan rugi kok. Serius!
Karena apa yang bakal ane bagi setelah ini, tidak diajarkan di sekolah-sekolah, ruang kelas saat kamu kuliah, bimbel, mimbar suci para penceramah. Tapi… murni berasal dari orang yang kepingin berbagi.

Sebelum lanjut, kalau setelah ini mayoritas deret kata tersusun jadi rangkaian cerita tentang pengalaman organisasi penulis… ingat, itu bukan narsis. Apalagi riya. Bukan!

Tapi, cobalah pandang ini tulisan sebagai wujud empati sekaligus proses negosiasi penawaran sudut pandang baru ke dalam kepalamu. Terutama sudut pandang dalam pengelolaan sebuah organisasi

Suka? Silakan ambil. Tidak suka? Tinggalkan saja.

Yap! Tema kita malam ini sesuai judul di atas.

Latihlah kemampuan melucu!

Nando, you gonna be kidding me?!
Nope.

Kemampuan melucu adalah kemampuan yang sangat penting dalam berorganisasi.

Apalagi di jaman sekarang, ketika kita bisa lebih mudah menemukan orang yang belajar memimpin daripada belajar melucu.

Soekarno, singa podium itu pernah berkelakar. Kelakar ini soal hatta dan sumpahnya. Sumpah apa? Sumpah bahwa lulusan Belanda itu takkan menikah sebelum Indonesia merdeka.

Penulis lupa detailnya, tapi inti dari candaan itu begini:

“Kau tau beda kentara antara Soekarno dan hatta? Hatta jikalau duduk bersama seorang wanita di dalam sebuah mobil, yakinlah.. tidak akan terjadi apa-apa. Sebab, sahabatku itu sudah bersumpah takkan menikah sebelum Indonesia merdeka.”

Candaan tak kalah penting dari hal yang serius sekalipun. Seriously! 5 in 6 CEO’s that I’ve ever met, they are seriously funny! (Iya, cuma pak Joseph Bataona yang punya pembawaan melankolis dan wise).

Pak handryGE? Garing! Tapi dia lucu. Humornya cerdas.

Pak Budi detik, pernah berseloroh akan kawin lagi saat uang venture capital tiger sekian milliar tiba di rekening perusahaan mereka beberapa tahun silam.

Pak Hasnul? Ah beliau tak malu mengakui kalau ia dulu telat 1 jam waktu pertama kali interview.

Takut? Tidak! Malah sempat mlipir ke kamar mandi untuk sisiran dulu.

Selera humor yang bagus dapat membantu seseorang dalam menyampaikan essensi.

Contohnya pak hasnul tadi. Humor itu ia sampaikan saat membahas pentingnya persiapan. Esensinya masih saya ingat sampai sekarang.

Apalagi? Apalagi?

Menciptakan suasana santai di sekeliling. Mencairkan ketegangan

Berguna saat pertama kali kenal dengan seseorang/sekolompok orang baru.

“Mas, iki yo.. Kopine wis tak gawekke. Nek (merasa) kurang pait, liatlah foto mantan!”, kata penjaga angkringan Permata Buah Batu waktu pertama kali kenalan semalam.

Oiya, ngomong-ngomong…
Ga kerasa ya…

Gara-gara asik menulis, lupa no bra day sudah selesai. Akhirnya, 13 oktober usai sudah. Para perempuan di seluruh dunia boleh ngutang lagi.

Ok, back to topic.

See? Siapa diantara kalian yang mau nguap tapi batal barusan? Itu guna lain dari lelucon. Mencegah kantuk. Sekaligus sarana jeda saat kehabisan tema.

Pemimpin yang tak lucu, lebih mungkin ditakuti daripada dicintai. Hidupnya penuh ambisi, kurang cinta.

Sometimes, for some people… use a dirty jokes! Talk dirty and influnce them!

Tidak semua orang bisa mendapatkan perlakuan ini. Hanya bagi mereka yang sudah kau rasa dekat. Dan… dengan cara yang sama pula, kita dapat mengukur tingkat kedekatan terhadap seseorang.

Believe it or not. Makin merasa dekat makin berani menghina, memaki or in other terms: Talk dirty!

Tentu, pilihlah diksi yang sekiranya takkan membuat ia tersinggung. Caranya? Mudah saja. Amati dan gunakan kata yang mereka gunakan.

Selengkapnya: coba baca buku ini http://www.amazon.com/gp/aw/d/0671751085?pc_redir=1412329733&robot_redir=1

Right MAS: Moments, Audiences & Style

Dalam memahami sebuah lelucon, apakah cocok atau tidak untuk dilontarkan… maka ada 3 parameter. Momen, audiens, dan style atau tipe candaan.

Misalnya begini,

Tidak mungkin kita melontarkan candaan terkait kematian seorang tokoh di sebuah acara pemakaman.

Humor sufi ala Nasruddin Hoja tentu tepat dilayangkan pada komunitas dengan ketaatan ibadah islam yang kuat.

Dan sebaliknya, humor dengan menyebut kata pelacur tidak bisa dipakai saat pengajian. Tabu.

Hal sepele memang…
Tapi tak banyak dibagi, dibahas, apalagi diajarkan di sekolah.

Dare to try?

Follow twitter penulis di @nando_nurhadi

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s