Pemandangan Menakjubkan, Legenda Putri Mandalika dan Arus Laut Tenang Khas Pantai Seger Lombok

Ada pantai yang sangat indah di lombok. Keindahan itu terasa lengkap dengan tenangnya air laut di sekitar sana.

Namanya Pantai Seger. Dari desa sasak sade, masih lurus lagi sekitar 30 menit perjalanan.

Semakin dekat kita dengan tempat ini, semakin kita menjauh dari keramaian.
Belum ada penerangan di sepanjang jalannya.

Jangankan wewangian bau ikan bakar yang panas-panas keluar dari panggangan, panasnya aspal yang seharian mandi sinar mentari saja belum ada. Betul, jalanannya belum beraspal. Belum ada resto, paling-paling cuma pedagang kelapa muda di warung seadanya.

“Kelapa mudanya kak, kelapa mudanya! Sepuluh ribu rupiah! Seger… seger…yang haus yang haus”, Seru mereka menjajakan dagangan

Infrastruktur belum banyak yang bisa diandalkan. Penduduk setempat melihatnya sebagai sebuah kesempatan. Benih mata pencaharian.

Senada dengan kebutuhan para wisatawan. Yang kebanyakkan wisatawan asing.

Sehari-sehari, mereka mengais rejeki dari sepeda motor yang disewakan $30/hari. Maka dari itu, jangan heran banyak orang asing lalu lalang. Naik motor berduaan.

1… 2… 3.. 4.. pernah kuhitung. Paling tidak, sepanjang sekali jalan menghampiri pantai. Sudah 4 sepeda motor kutemui. Mulai dari bule gembel hingga bule rapi.

image
Pemandangan di Bibir Pantai Seger, Lombok

Di daerah sini, dikisahkan pernah hidup seorang putri. Putri Mandalika namanya. Pesonanya disebut-sebut mampu taklukkan 5 raja. Sekaligus. Cantik memang.

Bukannya senang, sang putri malah pusing bukan kepalang. Parasnya nan ayu nyaris memicu peperangan besar. Lima raja, rela beraseteru demi menyanding dirinya sebagai ratu.

Daripada banyak yang mati. Sang putri lebih memilih mengorbankan diri. Terjunlah ia ke laut! Sampai kini, tiada yang tau di mana jenazahnya.

Tiap tahun, bulan Februari. Tempat ini dipenuhi cacing yang dipercaya sebagai jelmaan sang putri. Keluar di sepanjang bibir pantai. Di bulan yang sama pula, digelar upacara khusus untuk mengenang dan menghormati sang putri.

Sudah jadi hal yang lumrah, pada tiap bulan kedua di kalender gregorian warga berbondong-bondong datang untuk “memanen” cacing. Beramai-ramai mereka datang sedari pagi. Pagi betul. Lebih pagi dari datangnya sang surya.

Dari cacing itu ada yang ditangkap untuk dijual. Ada yang dijadikan pakan ternak. Ada pula untuk konsumsi pribadi.

Penduduk setempat memiliki kuliner lokal yang khas. Cacing tangkapan tadi kadang digoreng kadang dipepes.

Bagi yang kerap menikmatinya, cacing diyakini sebagai makanan bergizi tinggi. Kandungan proteinnya dipercaya menyehatkan siapapun yang berani melahapnya.

Pembaca mau coba?

Follow twitter penulis di @nando_nurhadi

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s