Me in a word: Perfectionist

“Coba deskripsikan dirimu sendiri dalam satu kata!”

Jika pertanyaan itu ditujukkan kepada saya, alih-alih memilih kata yang “ramah” didengar seperti periang, baik hati, atau kata-kata lain yang populer -yang biasa dipilih seseorang agar disukai orang lain- saya sendiri malah memilih sebuah kata yang terkesan sangat arogan. Apa itu? Ya, kata itu adalah Perfeksionis.

Di blog ini saja, saat Anda membaca tulisan ini. Tulisan ini adalah tulisan yang ke 385 sepanjang blog ini mengudara di internet. Entah berapa kali draft yang saya coret, berapa kali pemikiran yang saya beri penekanan berulang-ulang, atau runtutan kata yang saya ganti sampai akhirnya tombol di halaman sebelah kanan dashboard admin bertuliskan “publish” akhirnya saya tekan.

Saya tidak mau menghasilkan sesuatu yang biasa-biasa saja, Sesimpel ketidak mauan menjadi biasa-biasa saja pula. Saya bisa sangat marah dengan sesuatu yang dikerjakan seadanya, sekenanya. Saya takkan kalah jengkel dengan suatu rumusan atau persamaan yang hanya diajarkan untuk dihapal tapi dikatakan tidak perlu sampai dimengerti.

Seperti rumusan satu ini misalnya:

 Centrality degree node n(i)

Persamaan di atas adalah persamaan yang menjelaskan bagaimana cara kita menghitung degree centrality dari suatu node dalam sebuah network graph. Persamaan ini penting, karena terkait skripsi saya. Betapa jengkelnya saya ketika mendapat penjelasan yang sama sekali tidak memuaskan tentang apa itu degree centrality dan bagaimana cara menghitungnya.

Cari-cari sendiri, akhirnya saya temukan di buku Stanley Wasserman dan Kartz terbitan tahun 1994 halaman 179. Buku ini menjelaskan secara lengkap dan mendasar bagaimana tingkat pengaruh seseorang dalam lingkungan pergaulannya biasa dihitung secara matematis.

CD atau Centrality Degree dari suatu node i disimbolkan dengan (ni) dapat dihitung dari membagi nilai degree node tersebut d(ni)  dengan  jumlah total node dalam sebuah graf (g) setelah dikurangi satu.

Lah kok n-1? Kok bukan n-2? Mengapa bukan n-3?

Kalau ingin menghitung seberapa central suatu node terhadap node lain tentu harus membagi node tersebut dengan jumlah keseluruhan anggota dalam sebuah network, selain node itu sendiri.

Nah, bagi saya, pemahaman seperti ini jauh lebih penting dari sekadar penghafalan. Satu hal lagi yang saya sukai dari buku yang dirampungkan Wasserman di bulan Agustus 1993 itu, ada list dari arti notasi atau simbol-simbol yang ditulis lengkap di halaman khusus sebelum bagian daftar isi.

Well, saya adalah tipikal orang yang apabila diberi waktu 5 jam untuk menebang pohon dengan kapak, maka 4 jamnya akan saya gunakan untuk mengasah kapak tersebut. Pemahaman jauh lebih berarti daripada hanya sekadar pengafalan dan penghafalan.

Perfeksionis, memang.

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s