Samsung is the new Nokia

Hp samsungku gangguan. Makanya mati. Sambil menulis ini ( modal minjem smartphone Bapak) sambil berharap: saat sudah menyala lagi, nggak banyak yang marah-marah.

Sudah beberapa hari ini hp samsung mati. Entah kali ke berapa. Ungkapan: “Ah, sudahlah ya.” dirasa pas menanggapi kejadian ini.

Apa yang dialami Samsung, perusahaan asal Korea Selatan beberapa tahun belakangan mengingatkanku pada nokia. Nokia yang mana? Iya nokia asal Finlandia. Mengingatkanku pada nokia di masa jayanya.

Ada beberapa fenomena serupa yang terjadi pada kedua perusahaan teknologi tersebut di era keemasannya masing-masing.

Pertama: Rentang Jangka Waktu Keluarnya Produk Baru Relatif Pendek

Betapa bangganya aku, manakala akhir 2012 lalu berhasil membeli Samsung Galaxy S3. Senang bukan main. Smartphone tercanggih besutan samsung kala itu ada dalam genggaman.

Memilih lagu dengan voice command, pengamanan perangkat menggunakan face recognition dan segenap fitur canggih terdepan membuatku girang bukan kepalang.

Serasa, lompatan teknologi berikutnya bakalan terjadi bukan dalam periode yang relatif singkat.

Tapi, apa mau dikata. Kurang dari setahun kemudian galaxy grand muncul dengan spesifikasi processor yang tak beda jauh. Dengan ram 2x lipat besarnya dari perangkat yang aku punya.

Beberapa bulan setelahnya galaxy S4 meluncur ke pasaran. Dan yak! You know what I feel.

Kelakuan serupa dipraktekkan nokia di masa keemasannya. Belum habis euforia kaum geek akan perangkat tercanggih. Eh produk baru sudah keluar. Ok. Fine enough.

Kedua: Bermain di Semua Lini, Dari Low End Hingga High End

Berbeda dengan apple yang berpikir 2x sebelum turun kasta dari perangkat high end. Samsung malah menyerang semua segmen.

Dari yang low end dual sim gsm-csma tak berkamera, mid end dengan spesifikasi cukup mumpuni baik sisi hardware maupun software hingga kelas “mewah” seri S dengan segala kemampuan mumpuni yang dimiliki.

Strategi yang juga dijalankan nokia di tahun 2000-an. Palugada: Apa lu mau, guwa ada. Mau hp spesifikasi apa aja, kami punya semuanya.

Ketiga: Service Centre Hampir Selalu Ramai Akan Pengunjung

Setidaknya, inilah fenomena yang saya lihat di samsung service centre BEC. Acapkali datang ke sana selalu ramai. Jarang melihat teknisi nganggur.

Sampai akhirnya memindahkan opsi tempat perbaikan ke graha service centre samsung dago. Pada tempat yang kusebut terakhir, relatif lebih sepi.

Fenomena serupa juga dialami nokia di masa jayanya.

So, Samsung is the new Nokia, isn’t it?

Well, ulasan dan kesimpulan tadi sebatas opini dan pengamatan saya saja, sih.

Bagaimana menurut pendapat pembaca?

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s