Catatan Natal: Tentang asal muasal lakuum dinnukum waliyyaddin.

Kontroversi jelang hari raya natal. Selalu sama.

Sudah beberapa tahun punya twitter, jelang natal selalu diwarnai dengan perlu tidaknya mengucapkan selamat natal bagi mereka yang merayakan.

Terutama dari sudut pandang islam. Beberapa dari mereka berpendapat dan mengambil sikap untuk tidak ikut mengucap selamat natal.

Ada yang berpegang pada HR. Thabrani yang kurang lebih intinya: “Barangsiapa bertindak menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk ke dalamnya.”

Ada pula berpegang pada salah satu surat alkafiruun yang pokok bahasannya berkutat pada : “..Untukkmu agamamu, untukku agamaku.”

Terkait hadist yang saya maksud di atas. Sejarah serta relevansi keluarnya hadist tersebut adalah terkait dengan anjuran memotong kumis dan memanjangkan jenggot.

Nabi menyunnahkan ummat untuk memanjangkan jenggot dan mencukur kumis. Dan memilih jumat sebagai hari besar. Karena di sisi lain, ummat yahudi saat itu memiliki hari sabbath (sabtu) dan berkebiasaan memanjangkan kumis serta jenggot.

Maka bersabdalah rasulullah saw “Barangsiapa bertindak menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk ke dalamnya.”

Sedangkan sejarah turunnya surat al-kafiruun adalah berawal dari ajakkan dari kaum kafir quraish, paman nabi abu lahab yang menawarkan perdamaian pada muhammad.

“Wahai muhammad, bagaimana jika kita berdamai saja. Di hari tertentu kami akan mengikuti caramu beribadah. Dan di hari yang lain (masuklah engkau ke dalam ka’bah) beribadahlah pada lata, mannath, dan uzza!.”

Maka turunlah surrah alkafiruun dan penegasan bahwa ” Bagimu Agamamu, agamamu, Bagiku agamaku.” Bantahan keras menolak untuk ikut melaksanakan ritual tata cara peribadatan.

Ada peristiwa lain yang juga terkait hal aqidah. Pernah suatu kali sahabat datang ke rasulullah dengan menangis. Ia menangis karena telah berucap secara lisan mengakui latta, manath dan uzza sebagai Tuhannya.

Hal ini terpaksa ia lakukan agar lolos dari siksaan dan maut.

Peristiwa tersebut terjadi di tahun kesedihan. Dimana rasul kehilangan khatidjah dan ummatnya mengalami embargo serta penyiksaan.

“Ya rasulullah, aku telah berucap (yang demikian itu), adakah aku keluar dari keimananku?”

“Tidak.”, jawab beliau. “Selama engkau tak meyakininya dalam hati.”

Ditambah lagi, rasulullah saw memang terkenal sangat toleran. Terbukti dengan dibuatnya piagam madinah. Dimana umat muslim, muhajirin, anshar. Nasrani dan yahudi dapat hidup damai berdampingan di dalamnya.

Meminjam istilah steve jobs, -connecting the dots-penulis kemudian mencoba berpendapat berdasar hasil olah pikir dari apa yang sudah dipelajari. Sesuai dengan pokok bahasan yang sudah penulis singgung sebelumnya.

“Tak masalah ikut mengucapkan selamat natal atau selamat bagi hari besar umat lain. Selama tak sepenuh hati beriman dan mengikuti peribadatan.

Tak perlu terlalu kaku. Apalagi sampai bermuka masam terhadap sesama (Surrah an-naba). Alangkah indahnya bila kita meneladani sikap beliau yang tegas namun tetap lemah lembut pada sesama.

Wallahu’alam

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s