Catatan Pemikiran: Citizen Journalism Perlu Standar

Citizen journalism perlu standar. Setidaknya itu pemikiran saya saat ini.

Menurut saya, sejak era social conputing “meledak” beberapa tahun terakhir (akibat social media) citizen journalism begitu seksi.

Mengapa? Fenomena baru terjadi. Setiap orang punya pengikutnya masing-masing, setiap orang punya pasarnya sendiri, dan setiap orang kini leluasa menyebarkan informasinya sendiri di ranah social network.

Semenjak saya berkeyakinan bahwa setiap orang punya karakter berbeda, gaya berbeda, variasi berbeda, maka disaat yang sama saya tak bosan-bosannya meyakinkan anda bahwa: Informasi yang diberikan melalui kanal “milik bersama”/citizen jurnalism memerlukan standar.

Terlebih dengan bergesernya peran para jurnalis dalam mengelola wadah citizen journalism yang “hanya” sebatas gate keeper.

Mari kita sederhanakan pembahasannya.

Betapa kesalnya saya sebagai pendatang di sebuah kota. Saat saya mencari info di akun kota terkait. Yang saya dapati informasi tersebut disampaikan mayoritas dalam bahasa lokal, yang susah saya mengerti.

Atau betapa percumanya sebuah informasi lalu lintas yang disampaikan terlalu pendek.

“Antapani macet banget, ada apa ya?” lah? antapani kan luas, di mananya? macet jam berapa? twit 30 menit yang lalu masih saja diangkat. Rute lain dipilih, rute semula yang menjadi objek sudah normal kembali.

Itu contoh kecil. Contoh lain? Format penulisan.

Citizen jurnalism yang dilaporkan dengan bahasa sehari-hari. Gaya penulisan disingkat-singkat. Bahasa lokal campur bahasa Inggris. Memusingkan.

Atau citizen jurnalism yang mengabaikan aspek visual. Meliput dalam format video dengan dandanan seadanya. Ada yang tak rapi, tak menarik.

Atau ukuran file multimedia yang terlalu besar sebagai attachment pada email. File ukuran asli memang bagus, tapi file yang optimal untuk ditampilkan di web, mobile web atau apss paling-paling hanya 300-500px. (Sungguh tak ramah bagi server storage. Menurut saya.).

Contoh-contoh sepele yang saya tuliskan tadi semakin memperkuat opini saya bahwa Citizen jurnalism perlu ada standar.

Bahwa informasi yang disampaikan mesti memuat keterangan waktu dan tempat.

Bahwa mesti ada ukuran file multimedia baku yang menjadikan file tetap dapat dinikmati namun ramah bagi tempat penyimpanan data.

Bahwa dalam jurnalisme warga yang ditayangkan dalam format video mesti tampil dengan tetap memperdulikan aspek fisik.

Saya berharap, tak lama lagi liputan jurnalisme warga memiliki standar baku terntentu yang menjadikan informasi yang disampaikan bisa lebih baik dinikmati.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s