Tulisan dikala Nocturnal

Malam ini saya sulit tidur.
Di pikiran penuh dengan:

Skripsi, bagaimana besok segera peroleh laptop kembali, bimbingan, wisuda, secepatnya dan bekerja di mana jikalau harus bekerja.

Kemarin, dapat saran dari ibu. Terkait idealisme dan prinsip. Bahwa kalaupun harus bekerja (bukan menciptakan pekerjaan), ingin sekali bisa bekerja di perusahaan lokal dan ikut menjadikannya raksasa.

Terus terang, jika harus bekerja, ikut dengan orang lain dan belajar. Maka pilihan pertama saya sebuah perusahaan lokal. Yang CEOnya saya kenal.

Alasannya?

Pertama,

Kami memiliki banyak kesamaan. Hobi menulis sejak muda, mencari tambahan membuat berita feature, pilar ke empat di lingkup kami berada.

Kedua,

Perusahaan ini punya potensi untuk meraksasa. Lebih besar lagi. Jauh lebih besar dari sekadar nilai jualnya yang kabarnya ratusan Milyar hingga Triliun itu.

Aku tau bagaimana dan.. aku ingin menjadikannya raksasa.

Ketiga,

Kami berdua adalah founder. Yang saya pahami dan kemungkinan besar ia alami adalah Founder Syndrom (Baca lebih lanjut dengan klik di sini)

Saya merasa punya suatu kemiripan latar belakang dengannya. Dan yang pasti kami mencintai apa yang kami ciptakan. Tidak semua orang memahami perasaan itu.

Namun…

Ibu saya, seorang yang selalu saya hormati dan saya dengar memberikan pertimbangan lain.

Beliau menganggap saya mampu menembus perusahaan teknologi asing yang jauh lebih populer. Dan lebih besar. Akan ada kebanggaan orang tua tersendiri jikalau saya mampu berada di balik meja kantor pencakar langit itu.

Sekantor dengan segudang orang-orang wahid bidang marketing di negara ini. Mereka berdagang teknologi beserta gadgetnya.

Mengumpulkan penghasilan dan kawan di tempar yang dirasa lebih baik. Baru setelah siap, kembalilah ke idealismemu.

Ingin rasanya berteriak. Sungguh. Keheningan ini belum sepenuhnya saya kuasai.

Sementara realita..

Masih berproses pada lembaran skripsi yang waktunya terus berjalan. Rasa-rasanya ini memang salah satu momentum terberat hidup saya. Tapi, yakinlah. Saya pasti lolos.

Sebagai penutup, di tengah kegalauan ini saya berdoa:

1. benar-benar ingin menjadi man of value sebelum meraih man of success.

2. Semoga tuhan menuntun saya menuju tempat terbaik menurutnya.

3. Saya benar-benar ingin berarti positif untuk masyarakat luas. Seluas-luasnya masyarakat. Bintang kejora yang pergi berbekal kebanggaan dan kecintaan yang begitu besar oleh semesta.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s