3 Ciri Founder Syndrom: “Penyakit” Para Pendiri atau Founder

Selalu ada awal dari segala sesuatu. Entah itu organisasi, produk, atau.. perusahaan.

Sejauh hidup saya yang sudah sepanjang 24 keliling rotasi bumi terhadap matahari, ada hal yang menarik 1-6 tahun belakangan. Hidupku memiliki kesempatan belajar dari beberapa pendiri.

Di lingkup kampus misalnya. Kampus tempatku belajar ini sedang dalam masa pertumbuhan. Banyak transisi, banyak transformasi. Banyak kesempatan menanam.

Hidupku selewat dengan beberapa organisasi kampus yang didirikan.

Search yang berbuah dari harapan pemuda asal kebumen , agar kampusnya bertarung di berbagai kompetisi.

Atau SEF yang berdirinya bermula dari kelas bahasa inggris rutin yang digagas pak Agung Risakna. Sempat redup lalu diperjuangkan lagi oleh galih hardjanto yang anak konsulat beserta teman-temannya.

Madalkatiri, irsal, mega, lira, kembar manda mira dengan tunas bengkel seni embun berasaskan kecintaan mereka terhadap seni, budaya dan indonesia.

Atau IM Radio, yang ditahun pertama antena dan seantero perangkatnya itu suatu ketika tersambar petir dan dicarikan penggantinya di toko elektronik bekas oleh seorang mahasiswa china sukabumi.

Magaz.inc yang lahir dari idealisme Bang aul yang kerap diejek Gocok, alias gorilla coklat. Namun ia tetap teguh dan berdiri walau berulang kali ditampar kegagalan.

Juga LKKD yang lahir dari gagasan trio tetua aditian, ajib, dan galih.

(Termasuk) saya sendiri sebagai penggagas students news portal.

Dan masih banyak lagi. Maaf, mendadak etc (End of my Thinking Capacity).

Satu kesamaan dari para founder-founder itu, saudara!

“Mereka mencintai apa yang sudah didirikannya. Dirawat semenjak kecil hingga tumbuh dewasa. Satu level di bawah mencintai anaknya sendiri. Mirip seperti itu.”

Nah, founder ini bukannya tanpa kelemahan. Tak bisa digeneralisir memang. Untuk itu, mari kita batasi dalam koridor sejauh pengalaman saya sebagai tukang cerita Anda kali ini.

Apa saja “penyakit” para pendiri itu?

Pertama, Founder ini Sulit Untuk Tidak posesif.

Para pendiri ini, punya kencenderungan rasa memiliki yang begitu besar terhadap apa yang ia dirikan. Sesuatu yang ia mulai, ia rawat.

Dari saat-saat susah, banting tulang, berdarah-darah hingga stabil kemudian memperoleh masa kejayaan.

Karena? Sejarah mencatat dan mereka mutlak terlibat tdi dalamnya.

Kedua, Founder Ini Lebih Sulit Diyakinkan

Akibat dari rasa memiliki yang begitu besar. Founder ini kerap kali kesusahan menemukan orang yang bisa ia percaya. Kaderisasi kerap berjalan lebih lambat selama founder masih terlibat.

Ibarat seorang ayah, yang tak mau anak perempuannya jatuh ke tangan laki-laki yang salah.

Ketiga, Sulit Bagi Founder Untuk Mengikhlaskan

Sulit bagi seorang founder untuk mengikhlaskan:

– apa yang ia dirikan, sepenuhnya dikelola oleh orang lain.

– apa yang ia dirikan, menemui kehancuran. Apalagi di tangan generasi penerus.

Itulah sekiranya 3 hal penyakit yang bisa saja diderita para founders. Setidaknya, menurut kacamata saya. Bener kan? Seperti ayah ke anak perempuan? Ha ha ha

Menyodorkan masalah tanpa sediakan solusi rasanya tak arif.

Lalu apa solusinya? Coret saja setiap kata sulit pada 3 sub judul permasalahan di atas. Sudah? Jangan lupa untuk menggantinya dengan kata mudah.

Bagaimana menurut Anda?

Ps: Btw, saya sudah sembuh.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s