Polemik Twit Ustadz Felix Tentang Istri Bekerja, Ini Penjelasan Quraish Shihab

Twitter mendadak dihebohkan dengan salah satu statement ustadz mualaf Felix Siaw.

Ustadz yang terkenal karena dakwahnya lewat jejaring sosial itu membuat pernyataan yang dinilai kontroversial. Pernyataan tersebut keluar terkait pembahasan peran suami dan istri dalam berumah tangga.

image
Pernyataan Ustadz Felixsiauw

Hal tersebut ternyata memicu pro dan kontra. Hal itu bisa dilihat dari berbagai tanggapan terkait pernyataan tersebut. Berikut beberapa tanggapan yang juga terlampir sebagai balasan dari twit tersebut.

image
Respon Beberapa Twips

Terkait peran pria dan wanita dalam islam, saya menemukan penjelasan salah seorang ulama senior di sebuah artikel online.

Adalah M.Quraish Shihab yang memberikan penjelasan terkait peran suami dan istri dalam artikel yang dimuat Alifmagz per tanggal 14 September 2011.

Berikut kutipannya,

Tanya:Apakah dalam Islam ada pemilahan tugas yang jelas antara suami-istri dan apakah istri boleh bekerja? Kalau boleh bekerja, jenis pekerjaan apa saja yang dapat dikerjakannya?[Ny. Herman via surel]

Jawab:

Sebelum menjawab pertanyaan Anda, perlu digarisbawahi dua hal terlebih dahulu, pertama, terdapat perbedaan antara pria dan wanita, tidak pada bentuk fisiknya saja, tetapi juga dalam bidang psikis.

Pembagian kerja, hak, dan kewajiban, yang ditetapkan agama terhadap masing-masing, didasarkan pada perbedaan itu.

Kedua, pola pembagian kerja yang ditetapkan agama tidak menjadikan salah satu pihak bebas dari tuntunan dan tuntutan—minimal dari segi moral—untuk membantu pasangannya.Islam meletakkan kewajiban mencari nafkah untuk menafkahi keluarga di pundak suami. Sedangkan istri—seperti sabda Rasul saw.— “memimpin rumah tangga dan bertanggung jawab atas keuangan suami.” Pertanggungjawaban tersebut tergambar dalam tugas-tugas yang harus dipenuhinya, serta peran yang diembannya, dalam memelihara rumah tangga, baik dari segi kebersihan, keserasian tata ruang, pengaturan menu makanan, sampai pada keseimbangan anggaran.

Bahkan seorang istri ikut bertanggung jawab, bersama suami, untuk menciptakan ketenangan bagi seluruh anggota keluarga.

Sebagai ibu, seorang istri adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, khususnya pada masa-masa balita.

Memang, sifat keibuan adalah rasa yang dimiliki oleh setiap wanita; karena itu, wanita selalu mendambakan adanya anak untuk menyalurkan rasa itu.

Mengabaikan potensi ini berarti mengabaikan jati diri wanita.Pakar-pakar ilmu jiwa menekankan bahwa anak, pada periode pertama kelahirannya, sangat membutuhkan ibu-bapaknya. Anak yang merasa kehilangan perhatian—misalnya dengan kelahiran adiknya, atau merasa diperlakukan tidak wajar—dengan dalih apa pun, dapat mengalami ketimpangan dalam kepribadiannya.

Dari sini dibutuhkan seorang penanggung jawab utama terhadap perkembangan jiwa dan mental anak, khususnya dalam usia dini. Dan di sini, agama menoleh kepada ibu yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki sang ayah dalam bidang tersebut.

Bahkan, hal seperti itu tidak dimiliki oleh wanita-wanita selain ibu kandung seorang anak. Akan tetapi, perlulah diperhatikan, ini tidak berarti bahwa suami tidak berkewajiban mendidik anak.

Bahwa istri bertugas memelihara rumah tangga bukan berarti wanita tidak boleh bekerja. Islam tidak melarang wanita bekerja, tetapi Islam tidak mendorong hal tersebut.

Dalam bukunya, Syubuhât Haula al-Islâm, Muhammad Quthb menjelaskan, “Perempuan pada zaman Nabi pun bekerja, ketika kondisi menuntut mereka untuk bekerja.

Masalahnya bukan terletak pada ada atau tidaknya hak mereka untuk bekerja.

Masalahnya adalah bahwa Islam tidak cenderung mendorong wanita keluar rumah kecuali untuk pekerjaan-pekerjaan yang sangat perlu, yang dibutuhkan oleh masyarakat, atau atas dasar kebutuhan wanita tertentu.

Misalnya, kebutuhan untuk bekerja karena tidak ada yang membiayai hidupnya, atau karena yang menanggung hidupnya tidak mampu mencukupi kebutuhannya.”Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa Islam membenarkan kaum wanita aktif dalam berbagai aktivitas, atau bekerja dalam berbagai bidang di dalam ataupun di luar rumahnya.

Cara bekerjanya itu dapat dilakukan baik secara mandiri, bersama orang lain, dengan lembaga pemerintah maupun swasta—selama pekerjaan tersebut dibutuhkan olehnya dan selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, terhindar dari dampak-dampak negatif pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya. Seorang istri dapat melakukan hal di atas selama tugas pokoknya sebagai istri tidak terabaikan. Demikian, wallâhu a‘lam.

sumber

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

2 thoughts on “Polemik Twit Ustadz Felix Tentang Istri Bekerja, Ini Penjelasan Quraish Shihab”

  1. saya yakin surga ada di telapak kaki ibu saya yang sering bengkak itu..

    beliau bekerja, membantu perekonomian keluarga, juga beribadah karena yakin bahwa berbagi ilmu dengan mahasiswa di kampus adalah hal baik yang insha allah diridhai.
    tapi ibu juga memasak, menyetrika, kadang bebersih rumah demi mengajarkan ttg tanggungjawab dan kemandirian pada anak-anaknya.

    memang, kita harus berhati-hati dalam hal yang multitafsir, dan yang terpenting selain membuka pikiran adalah tetap tenang dan dewasa dalam merespon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s