Kisah Ayah Si Miliader Juragan Bus dan Anaknya Yang Baru Lulus SMA

Malam ini, khusus cerita tentang aunty. Kami memang biasa berbagi cerita.

Saat ini dia bekerja sebagai konsultan perusahaan Bus di daerah Ambal, Kebumen.

Keluarga tempat ia bekerja sungguh sangat berkecukupan. Juragan bus.

Seberapa kaya?

Kerap diundang ke markas besar mercedez di Jerman tiap kali ada lauching. Selain punya ratusan bus, keluarga itu punya salah satu rumah sakit terkemuka di Kebumen. Beberapa toko emas dan usaha lain. Rumah yang pendoponya saja sebesar rumahku. Yang setiap rabu hadir ratusan orang dengan bus bus besar untuk ikut serta dalam pengajian rutin. Berbagi blackberry terbaru untuk setiap karyawan adalah hal biasa. (Sudah cukup, mari berhenti arahkan kepala ke atas.)

Dikisahkan dalam cerita itu, beliau punya satu kegelisahan. Beliau punya seorang putri. Baru saja lulus SMA tahun ini.

Anggap saja si A. Nah si A ini punya satu cita-cita yang berseberangan dengan sang Ayah. Gadis itu ingin sekali menjadi dokter. Dipihak lain, sang ayah menginginkan anak semata wayangnya itulah yang meneruskan estafet usaha keluarga.

Ayah dan anak bagai anjing dan kucing. Hampir selalu bertengkar dan berselisih paham. “Cicak nguntal setriko!”, sebut sang ayah suatu kali gadis seumur jagung itu terang-terangan ungkapkan keinginannya.

“Kenapa sih Ayah tak membiarkan aku jadi diri sendiri?!”, Keluh sang Anak kemudian.

Di kacamata rekan bisnisnya, sang ayah merupakan salah satu pebinis yang disegani. Terhormat. Tak seorangpun meragukan pengaruh dan kepiawaiannya berkiprah di industri autobus.

Seratus delapan puluh derajat di mata sang anak. Si ayah adalah sosok sibuk yang tak punya waktu. Seseorang yang kehadirannya di acara pembagian raport bisa dihitung dengan jari. Nihil di pesta ulang tahun sekolah di mana sang Anak tampil menjadi drummer terbaik.

Yang mengherankan, sang anak justru lebih cs dengan rekan bisnis sang ayah. Berbagi pendapat, ketawa dalam satu ruangan yang sama, saling sharing sudah jadi hal biasa.

Mengamati, ternyata hal semacam itu banyak terjadi di beberapa orang yang saya kenal. Aneh tapi nyata. Jika Anda merasakan hal yang dirasa mirip, tenang, Anda tidak sendiri.

Setidaknya, dari situ saya tahu satu hal bahwa orang tua memiliki kegelisahan sekaligus pengharapan terhadap anaknya. Namun, hal tersebut yang lantas tak selalu lekas menemukan titik temu.

Bagaimana menurut Anda?

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s