Surat Al Alaq dan Dynamic (Artificial) Intellegence

Iqra ! Bacalah! Dengan seruan itulah alquran pertama kali diturunkan. Menurut saya, ayat itu menandakan berdirinya tonggak kecerdasan peradaban baru di zamannya.

Membaca. [mem·ba·ca] Menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
 v 1 melihat serta memahami isi dr apa yg tertulis (dng melisankan atau hanya dl hati): dia jangan diganggu, krn sedang – buku; 2 mengeja atau melafalkan apa yg tertulis; 3 mengucapkan: – doa, – mantra; 4mengetahui; meramalkan: ia dapat – suratan tangan (garis-garis pd telapak tangan); 5 memperhitungkan; memahami ….

Di sini tersirat pesan bahwa aktivitas membaca takkan lepas dari memahami sesuatu kemudian menuliskannya. Kumpulan dari apa yang dibaca dan dipelajari kemudian.

Kemudian dengan hadist rasulullah saw bersabda yang kurang lebih artinya: “Belajarlah engkau semenjak dalam (naungan) ibumu hingga akhir hayat.” Menandakan bahwa potensi kecerdasan manusia begitu dinamis. Seakan tak terbatas. Mampu mempelajari, membaca dan menyimpan hampir setiap hal baru yang ia temui.

Kedua hal tersebut menjadi sebuah clue bahwa kecerdasan dinamis memang ada di dunia ini. Dan tentu saja: memungkinkan untuk dibuat.

Sementara itu,

Dalam dunia teknologi, era selanjutnya setelah wearable technology adalah era Kecerdasan mesin. Kecerdasan buatan/artificial intellegence (untuk berinteraksi dengan manusia).

Gejala ke arah sana menurut saya sudah mulai terlihat. Orang-orang di jaman tulisan ini dibuat mulai dapat berinteraksi dengan ponsel cerdas mereka melalui perintah suara. Apple dengan siri. Atau perangkat berbasis android seperti Samsung dengan S Voice.

Saya belum begitu mendalami sejauh apa kecerdasan sebuah mesin mencapai titik akhir. Namun, dijaman saya, kecerdasan mesin ini masih asa dalam tahap kecerdasan statis.

Menurut pengamatan saya, kecerdasan buatan statis adalah kecerdasan yang dibuat dan diprogram untuk tidak berkembang secara otomatis. Perintah interaksi dengan manusia terbatas pada input yang sejak awal ditentukan.

image

Bukan tidak mungkin, suatu saat kecerdasan itu akan meningkat ke tahap lebih lanjut: Kecerdasan dinamis layaknya manusia.

Setidaknya gejala itu dapat mulai kita lihat dari mesin pencari google yang seakan tahu semuanya. “Tanya saja ke google!”

Menurut saya, google bukan hanya sekedar mesin pencari namun juga sebuah mesin pengumpul pengetahuan/kecerdasan.

Google akan terus mengumpulkan berbagai hal baru yang ada di internet dan “bertambah cerdas”. Mengerti lebih cepat dan lebih banyak bisa dikategorikan lebih cerdas, bukan?

Bisakah kita membayakan apa yang terjadi jika suatu ketika sebuah robot dengan kecerdasan “search engine” google tercipta?

Jika itu terjadi, maka yang perlu manusia siapkan untuk mengantisipasi hal buruk dari kemungkinan tersebut adalah: Menciptakan formula invert yang mengembalikan kecerdasan dinamis buatan itu ke tahap awal penciptaan.

Karena bagaimanapun, manusia memiliki satu keunggulan mutlak dibandingkan segala ciptaan dan kreasi mereka. Manusia memiliki emosi, qalbu yang tak dimiliki oleh satu ciptaan lainpun di dunia.

Apa jadinya dunia yang penuh dengan ciptaan cerdas namun tak memiliki nurani?

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s