Kisah Biola Tua 50 Sen di Pelelangan

Hari ini, saya sedih luar biasa. Penyebabnya merasa sia-sia. Belum berhasil. Merasa terbuang. Merasa tidak berharga. Letih berujung tak peduli.

TA Tentang infoIMTelkom berulang kali diganti. Students yang dulu dijadikan tugas akhir tak pernah di acc. Tugas yang sekarang, sama sekali hal baru. Mulai dari awal. Nyaris letih mencoba menyelesaikannya.

Belum pernah seperti ini sebelumnya. Males ngapa-ngapain. Pernahkah kalian merasakan hal yang sama?

Inilah kondisi tugas akhir apapun versinya.

Sampai akhirnya, aku keluar cari angin sekaligus cari makan. Enak. Lele goreng. Tapi percuma. Nafsu makanku hilang. Kunikmati seadanya berbumbu rasa syukur. Karena masih bisa makan.

Pulang dengan muka terlusuh dipantulan cermin. Senyum yang hanya sedikit ke tukang parkir apotek medika Antapani. Berniat beli obat, berujung sayang ginjal. Batal.

Gas dipacu perlahan. Ditengah hiruk pikuk kemacetan persimpangan Jl.Jakarta. Mencoba tersenyum seperti biasa, susah.

Radio perlahan dinyalakan. Di sana turunlah kisah yang sangat mengena dari apa yang kurasakan sekarang. Apa yang dialami mahasiswa kelewat tua ini.

**
Kisah Biola Tua Setengah Dollar Di Pelelangan

image
ilustrasi

Suatu ketika, ditempat pelelangan barang-barang bekas. Begitu ramai. Bapak-bapak, ibu-ibu yang rata-rata sudah setengah baya. Di tempat itu berkumpulah orang dengan tujuan yang sama. Berebut barang terbaik.

Sampai akhirnya, tibalah giliran sebuah biola tua. Lusuh. Kondisinya didapati tanpa senar.

Harga pelelangan dimulai dari… 50 sen, alias setengah dollar.

“1 dollar!” , Teriak kakek berkemeja diujung sebelah kanan.

“1.5 dollar! “, seru pria plontos dengan cerutu di genggaman mulutnya di baris depan.

“3 dollar.”, Ucap wanita bertopi merah dengan tenang di hadapan kanan Master of Ceremony.

“Sudah? Ada yang menawar (lebih tinggi) lagi?”, seru pembawa acara memastikan.

Jarum jam bergerak dari angka 6 hingga 3. Maju perlahan. Pertanyaan yang sama diulang. Dilanjutkan dengan kalimat pernyataan: “Kalau tidak ada, biola tua ini akan menjadi milik nyonya bertopi merah dengan tawaran tertinggi.”

“Tunggu sebentar !” , Seru pemuda tanggung usia nyaris kepala 3 menyita perhatian.

Ia melangkah depan panggung. Meraih sebuah kotak kulit kecil dari dalam sakunya. Yang ternyata berisi dawai biola tua itu.

Dipasangkan dawai itu perlahan. Dari ujung satu ke ujung lain dengan teliti.

Tak lama setelahnya. Gesekan itu mengeluarkan suara lembut. Selembut belaian ibu di atas kepala bayinya yang hendak tidur.

Apa yang dimainkan? Lawas namun familiar. Canon in D mengalun dengan anggun. Sangat indah. Hadirin terdiam seperti tertenung. Tapi, setiap orang di acara itu pun tau. Tak ada hal yang terasa magis. Kecuali suara biola tua itu.

Tiba-tiba..

“Seratus dolar !” , teriak hadirin di baris belakang.

“Dua ratus lima puluh !” , seru bapak bercerutu tadi.

Tawaran bermunculan.

“Lima ratus!” , tawaran dari seorang konduktor musik.

Hening sejenak. Ada hati seseorang yang sudah merasa menang. Sampai akhirnya….

“Sepuluh ribu.”, Ucap sang kolektor biola klasik.

Terjual sudah..

Diantara keramaian itu ada seorang bapak pengamen tua yang menangis terharu. Dialah pemilik biola yang sebenarnya.

Penyiar radio itu berkata begini di akhir cerita.

“Barangkali, ada diantara kita yang merasa tak berharga. Teman-teman seusia sudah lebih dulu sukses. Dihargai orang. Itu terjadi karena mereka yang dihargai itu sudah mampu menunjukkan manfaat lebih dibanding yang lain.”

“Setiap manusia ibarat biola tua itu. Yang membedakan adalah sejauh mana mereka bermanfaat untuk sesamanya. Keluarkanlah segenap potensimu. Biola tadi dihargai lebih karena manfaatnya terdengar. Semoga Tuhan memenuhi harapan mu dan dengan itu kamu membantu memenuhi harapan orang-orang yang ada disekelilingmu.”

Sambil terdiam sebelum turun dari kendaraan. Hatiku berbisik Aamin…

dan akhirnya aku tersenyum. Itulah senyuman lebar pertamaku hari ini.

Terima kasih, biola tua.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s