Suratku: Kiriman ke lima

Aku tak mau mendahului rahasia Tuhan. Tapi aku merasakan hal berbeda tiap kali kita bertemu.

Aku tau, sejauh kita bertemu sejak pertemuan pertama secara langsung malam itu, sejak kata pertama yang kau ucapkan saat melihatku muncul perlahan dari ujung jalan: “Ah, akhirnya kita ketemu juga ya..”,

Aku sadar betul, sampai detik surat ini ditulis, jumlah jari yang kupunya pun masih lebih banyak dari jumlah pertemuan kita.

Namun, setiap kita bertemu, aku merasakan suatu getaran jiwa, yang sulit kujelaskan dan tak pernah tak terjadi. You are the same menu for my breakfast, lunch, dinner, supper that I never get bored with. Seolah pertemuan kita ini sebuah reuni yang aku tak pernah bosan dengan itu sedikitpun.

Betapa menyebalkannya kamu, dengan segala sikapmu sejauh ini, penyakit yang kamu miliki, resistansimu, alergimu terhadap makanan-makanan yang (sangat) kusukai, kamu yang begitu perhitungan, kamu yang begitu gengsian… kekuranganmu semuanya entah mengapa aku merasa tak masalah dengan itu. Aku menerimanya.

Darimu aku belajar memperhatikan hal-hal kecil. Radang lambung, alergimu terhadap ikan air tawar, hobimu memasak, minum teh atau kopi tiap pagi dan semua tentangmu. Hobi dan pengalamanmu mengelola event, mimpi terbesarmu, ukuran sepatumu, semuanya.

Kalau kuperhatikan, dalam kekuranganmu ada kelebihanku dan sebaliknya.

Entah, aku merasa kita berdua seperti kepingan yang saling melengkapi satu sama lain. Maka tak pernah bosan aku berdoa kepada Tuhan semoga suatu saat nanti kita ditakdirkan menjadi patner hidup yang hebat.

Aku tak ingin mendahului Tuhan, tapi aku percaya bahwa Tuhan maha kuasa. Dan aku sebagai manusia diperkenankan berdoa.

Di dalam doaku, terselip namamu semoga kamu baik-baik saja, senantiasa dijaga olehNya, dimudahkan urusannya dalam kebaikan.

Sambil terus mempersiapkan segalanya dan kualitas diri, hingga suatu saat aku menjadi imammu dalam sholat berjamaah,  bisa bebas merindumu, memelukmu, membuatkan sup saat kamu sakit, menemanimu olahraga, ikut mengantarmu ke dokter untuk checkup rutin, selalu hadir saat persalinanmu, ikut membacakan dongeng untuk anak kita, mencium keningmu saat akan berangkat tidur, dan selalu menjadi orang pertama yang kau lihat saat terbangun.

Menjadi orang yang ikut membangun mimpimu. Yang satu itu. Tak lupa, aku ingin mendirikan yayasan atas namamu. Agar kamu juga ikut dikenang. Dicintai banyak orang, dan didoakan sesudah meninggal.

Semoga Tuhan berkenan mengabulkan, yang terbaik.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s