Melatih Keterampilan “Membuang” Pikiran Dalam Menulis Ala Hernowo Mizan

Sesaat sebelum berangkat ke Cihampelas untuk rapat dengan rekan-rekan media kampus se-Bandung raya, notifikasi email saya berbunyi. Email terusan dari milis Gladiool 78 di mana ayah dulu bersekolah. Di sana saya menemukan Om Hernowo berbagi kiat-kiat jitu dalam menulis.

Siapa Om Hernowo? Tak kenal maka tak sayang, sebelum melanjutkan ada baiknya kita mengenal siapa beliau. Terlalu panjang untuk dituliskan ulang, sebelumnya saya sudah pernah menulis siapa beliau di http://students.imtelkom.ac.id/web2.0/2012/12/mengawali-menulis-menemukan-ide-mengembangkanya-ala-ceo-mizan-publishing/

Kali ini beliau berbagi tentang kiat Melatih Keterampilan “Membuang” Pikiran Dalam Menulis. Layak untuk disimak. Sudah lama pula beliau saya jadikan guru dalam menulis. Selain sering berbagi, beliau juga orang yang kapabel. Setidaknya, itu menurut saya.

Berikut saya kutipkan, apa yang beliau sampaikan via email. Semoga bermanfaat.

Ada tiga model berlatih menulis yang saya rancang agar seseorang yang kemudian menggunakan model saya tersebut dapat langsung merasakan manfaatnya.

Tiga model berlatih menulis itu saya rancang dalam bentuk yang berjenjang. Jenjang pertama bernama “membuang” pikiran, kedua mengolah pikiran, dan ketiga menemukan gagasan. Keberhasilan di jenjang sebelumnya, biasanya, akan menentukan keberhasilan di jenjang-jenjang berikirutnya. Dan ketiga jenjang latihan menulis tersebut saling berkaitan—yang satu mendukung yang lain atau yang satu mengefektifkan yang lain.

Jadi, menurut saya, keterampilan “membuang”pikiran merupakan sebuah latihan menulis yang sangat penting. Latihan pada tahap pertama ini dipijakkan pada bangunan kedua dan ketiga yang telah saya jelaskan sebelumnya. Sebagaimana diketahui, model berlatih menulis gaya saya ini punya tiga struktur atau bangunan.

Pada bangunan pertama, “formula Covey” menjadi nyawanya; sementara pada bangunan kedua “formula” campuran pemikiran Pennebaker, Goldberg, dan Elbow—yang kemudian saya sebut sebagai menulis secara blakblakan (opening up) atau free writing—menjadi andalannya, serta pada bangunan ketiga ada Wycoff dan Rico yang membantu saya dalam berlatih membuka pikiran untuk menemukan gagasan.Bangunan ketiga yang berisi gagasan-gagasan Wycoff dan Rico—khususnya terkait dengan buku yang ditulis oleh mereka secara terpisah dengan judul Mindmapping: Your Personal Guide to Exploring Creativity and Problem-Solving dan Writing the Natural Way: Turn the Task of Writing into the Joy of Writing—kemudian saya manfaatkan untuk mengasah keterampilan dasar menulis kedua yang saya sebut sebagai keterampilan merangkai kata-kata.

image

Meskipun sebenarnya keterampilan “membuang”pikiran saja sudah cukup, namun karena keterampilan menulis berbeda dengan keterampilan memasak dan keterampilan lain maka keterampilan yang berkaitan dengan merangkai kata-kata ini, tentu saja, perlu diperhatikan bagi yang ingin mampu menulis secara nyaman, menyenangkan, dan berkarakter.

Satu pertanyaan penting yang perlu saya ajukan di sini—yang biasanya juga ditanyakan oleh para peserta pelatihan menulis yang saya ampu—adalah kenapa saya menggunakan kata “membuang” padahal yang saya  maksud adalah mengungkapkan atau mengeluarkan pikiran dalam bentuk kalimat. Saya menggunakan kata “membuang” karena merujuk ke pemikiran Dr.Pennebaker dan instruktur menulis bernama Natalie Goldberg.

Pennebaker mengatakan bahwa menulis itu dapat dimanfaatkan untuk “membuang” pikiran yang menekan; sementara menurut Goldberg, menulis juga dapat dimanfaatkan—pada saat awal menulis—untuk “membuang” sampah-sampah pikiran. Bagi saya, keterampilan “membuang” pikiran ini bukan saja bermanfaat secara medis (menstabilkan emosi atau membangun emosi positif misalnya) tetapi juga dapat membantu seorang penulis untuk mengatasi writer’s block ketika dia ingin memulai menulis.

image

Nah, bagaimana menerapkan latihan-latihan menulis dalam konteks “membuang” pikiran? Akan rumit apabila saya jelaskan lewat kata-kata. Anda perlu bertemu dengan saya dan kemudian bersama-sama melakukan tindakan “membuang” pikiran tersebut.

Perlu Anda ketahui bahwa saya juga telah menciptakan semacam alat-alat ukur untuk mendeteksi apakah ketika kita melakukan kegiatan “membuang” pikiran tersebut kita kemudian dapat merasakan efeknya? Dan seberapa jauh latihan-latihan “membuang” pikiran itu berhasil? Berapa lama waktu yang diperlukan dan pada saat apa kita harus melakukannya? Dan seterusnya

Sekian,  semoga bermanfaat.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s