Catatan 16 Mei 2012: Menimba Ilmu Media Online Dari BDI, Founder & CEO Detikcom

Halo! Salam #IlmuBerbagi !

Sebenarnya, kejadian ini sudah agak lama. Sudah sekitar setengah tahun dari sekarang. Mengapa baru sekarang ditulis? karena baru sekarang aktif lagi nge-blog di blog pribadi. Waktu itu, saya mendapatkan info dari teman saya (@kristi_rise), kalau bakal ada CEO Meeting yang diselenggarakan oleh @StudentsxCEOs dengan pembicara: Pioneer media Online di Indonesia, yaitu Budiono Darsono atau yang lebih akrab disapa BDI.

Sudah lama saya follow BDI, jauh sebelum pertemuan ini. Bisa dikatakan, apa yang saya alami ini termasuk salah satu mimpi saya yang menjadi kenyataan. A dream come true!  Sejak tahu ada kesempatan untuk belajar secara langsung, Saya begitu antusias. Yang ada di pikiran saya waktu itu cuma satu: Saya harus ikut !

Mengapa? Panjang ceritanya. Dahulu, di awal-awal saya kuliah di tahun 2007, mendapatkan informasi di kampus saya ini begitu sulit, apa lagi saya yang hanya mahasiswa biasa. Boro-boro sosial media, sharing informasi via internet saja belum beken. Mading masih jadi primadona.

Pernah saya diberi tahu teman saya tentang peluang beasiswa. Dengan antusias saya pergi ke mading kampus di lantai 4. Ternyata oh ternyata deadlinenya besok! Duh! Kecewa berat.  Saya lalu mencari cara agar hal-hal semacam ini tak semakin parah di generasi selanjutnya.

Informasi harus ditampung satu atap, ditempat yang sama, biar tidak kebingungan mencarinya,  bisa kapanpun dan dimanapun di akses, dengan mudah, upload berita dari Hape ini kalau bisa, gumam saya yang waktu itu masih memakai hp monochrome A55 ha ha ha. (Iklan: Hati-hati bicara, apalagi kalau lagi kesel, serius, kejadian sekarang hahaha…. coba buka news portal students,imtelkom.ac.id ;p )

Sejak saat itu saya berkesimpulan: “Salah satu pembeda antara orang yang beruntung dan tidak. Tipis, antara tahu/tidak tahu akan adanya suatu informasi (peluang). Dan itu adalah salah satu peristiwa yang telah banyak merubah hidup saya, ke arah yang lebih baik insya allah.

Passion. Ilmu langsung dari praktisi sangat saya butuhkan, karena saat itu saya  juga sedang mengembangkan media online (newsportal) di kampus Institut Manajemen Telkom: students.imtelkom.ac.id (twitter: @studentsimt) yang juga saya jadikan sebagai bahan skripsi. Kesempatan untuk belajar, belajar, dan belajar.

Saya masih ingat betul, waktu itu tanggal 16 Mei 2012. Berangkat pagi dari Bandung sekitar pukul 09.45 WIB. Menumpang travel cititrans yang poolnya ada di Ciwalk, kami berangkat berdua ke tempat yang dijanjikan. Di suatu kawasan elit di Kuningan, Jakarta. Berangkat pagi, sore pulang. Karena kalau menginap tentu akan menambah ongkos, yang sangat berarti bagi mahasiswa rantau seperti saya ini.

Sekilas tentang Online News

Online news diartikan sebagai media  yang berkapasitas rnenawarkan berita live,  audio,   dan   video;   yang   terbentuk  berdasarkan teknologi  hypermedia  dan hypertext yang berkembang pesat meliputi suara dan grafis.

Online news muncul sebagai  sumber   informasi  yang   mernpunyai  versi print  and  broadcast.  Online news  berkaitan  dan  juga   termasuk  di  dalarn online journalism   dan/atau   online newspaper di  internet.

Online  news adalah  tahap  penting  bagi  konvergensi   media (media convergence). Online   news  juga   rnemiliki   potensi   untuk   memanfaatkan berbagai   fitur baru  dari dunia  pencampuran   kornunikasi   media  digital;  diantaranya audio,video, animasi,dan peningkatan kontrol pengguna (user control).

Kelebihan   dari  online  news  ini  adalah   beritanya   yang  selalu  diperbaharui    secara berkelanjutan (continuous     updates), merniliki interaktivitas,hypertext,  & multimedia  (Salwen,  2005)

Presentasi Oleh Budiono Darsono: Praktisi, Founder & CEO Detikcom

Detik.com  adalah pioneer sekaligus portal terbesar  berita nasional di Indonesia. Detik.corn dipandang  sebagai salah satu portal berita di   Indonesia yang rnenyediakan layanan informasi yang  akurat, terpercaya,   dan  memiliki   kecepatan berita  yang  selalu  update tiap saat.

Detik.corn  pelopor media   online   di  Indonesia    yang   bergerak   dalam   bidang  portal   berita dan dirintis oleh Budiono Darsono dan mulai online semenjak  9 Juli  1998.

Pria asal Bojonegoro itu datang in time, sekitar 45 menit lebih awal sebelum perjajian, pukul satu siang.Mau makan siang dulu di bawah, katanya. Tak lama kemudian sekitar jam satu kurang sepuluh menit, beliau sampai ke ruangan diskusi dan mempersiapkan alat dan bahan presentasi dari macbook air mungilnya. Beliau tak manja, dengan sigap mempersiapkan semuanya sendiri. Mulai dari sound, grafis, file dan lain-lain. Salut.

Di awal diskusi kecil yang diikuti tak sampai 20 orang itu, BDI (begitu beliau ingin dipanggil, tanpa embel-embel Pak, Om, atau semacamnya) bercerita tentang sejarah,  tantangan yang dihadapi dalam membangun detikcom dari Nol. Suka, duka membuat media baru berbasis teknologi internet bersama rekan-rekannya Didi Nugrahadi, Yayan Sopyan, dan Abdul Rahman.

Beliau juga tak pelit berbagi mengenai kiat-kiat suksesnya, tak jarang diiringi candaan khas. Beliau, menurut saya, orang yang begitu humoris dan cerdas.

Ini beberapa hal yang saya pelajari dari hasil pertemuan saya dengan beliau, waktu itu langsung saya catat dan pindahkan ke skripsi.

Enam Prinsip Umum Jurnalisme

Dalam dunia jurnalistik ada beberapa prinsip umum yang harus ditaati. Prinsip dasar yang harus dijaga adalah Akurat seimbang, jujur dan adil, kepentingan umum, peka terhadap masalah yang dapat menyebabkan ketersinggungan, hindari penekanan yang tidak perlu (ras, agama, etnik, gender, dll), hak privasi, ketersediaan untuk mengakui dan meluruskan kesalahan. Wartawan juga perlu untuk menguji akurasi, elemen utamanya mencermati fakta dan detail.

Berikut ini adalah 6  prinsip umum jurnalistik seperti pemaparan yang diungkapkan oleh praktisi sekaligus pionir media online di Indonesia Budiono Darsono yang kini juga menjabat sebagai CEO detik.com

Prinsip Umum Pertama: WartawanTidak Boleh Menebak

Wartawan, dalam menulis, tidak boleh menebak / mengira-ngira, harus memegang betul apa saja yang harus diketahui dan apa saja yang dimengerti. Jika tidak benar-benar memahami, cek kembali hal tersebut atau tinggalkan sama sekali. Cek dua kali semua angka dan jumlah. Jika ada perbedaan angka pada sumber yang berbeda, maka harus ditulis secara lengkap. Misalnya : gempa menewaskan xxxxx orang menurut Depkes.

Prinsip Umum Kedua: Meletakkan Angka ke Dalam Konteks yang Mudah Dipahami

Penulis juga harus meletakkan angka ke dalam konteks yang mudah dipahami, agar memiliki makna. Misalnya, penonton konser sebanyak 7.000 orang. Tanpa adanya keterangan tempat (di tenis indoor atau stadion utama utama senayan) atau kalimat, seperti ‘penonton berdesak-desakkan..”, maka angka 7.000 tidak memiliki makna.

Prinsip Umum Ketiga: Penulisan nama, tanggal, dan tempat harus dicek dengan seksama

Tidak ada orang yang suka namanya ditulis salah, oleh karena itu nama, tanggal dan tempat harus dicek secara seksama. Bahkan, di detik.com ada sistem informasi khusus yang memuat daftar nama orang-orang penting agar penulisannya ke dalam artikel berita seminimal mungkin kesalahannya.

Letakkan kalender di depan mata. Tulis tempat dengan tepat. Lihat peta untuk menunjukkan posisi tempat yang kita tulis, untuk memberikan gambaran kepada pembaca secara tepat tentang lokasi yang kita tulis. Jangan sampai  keliru.

Prinsip Umum ke empat: Berhati-hatilah dengan kutipan

Harus berhati-hati dengan kutipan. Jika tidak yakin catatan kita benar dan berani mempertahankan sampai ke pengadilan, lebih baik dijelaskan dengan kata-kata sendiri saja.

Prinsip Umum ke lima : Hindari kelalaian vital, baca kembali cerita melalui kacamata seseorang yang benar-benar asing terhadap cerita tersebut.

Jangan sampai melakukan kelalaian vital. Baca kembali cerita melalui kacamata seseorang yang benar-benar asing terhadap cerita. Bisa saja, ternyata kita tidak memberikan lokasi tepat terjadinya penembakan, atau tidak menyebutkan secara jelas berapa kedalaman air ketika sebuah bus terjun ke sungai.

Prinsip Umum ke enam: Tidak boleh terburu-buru. Sediakan waktu untuk lakukan re-check.

Dalih terburu-buru , seperti “Maaf, saya tidak punya waktu untuk mengecek kembali”, tidak dapat diterima. Terkadang,  seorang jurnalis juga bisa saja lelah dalam melakukan verifikasi berita. Jika hal semacam ini sudah terjadi lalu apa solusinya?  Jurnalis bisa segera melapor ke redaktur pelaksana agar bisa digantikan oleh orang lain. Apabila yang bersangkutan  masih ingin meliput, bisa dicarikan wartawan lain sebagai pendamping peliputan.

Sediakan waktu untuk melakukan riset kecil, kemudian cek kembali melalui pakar yang dapat dipercaya.

Prinsip tidak terburu-buru dipandang perlu untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan seperi:

  1.  Kesalahan-kesalahan teknis, sehubungan dengan tulisan khusus atau jargon-jargon iptek, hukum, kedokteran, keuangan, dan sejenisnya.
  2. Mengecek kemungkinan adanya manipulasi, perubahan, konteks, distorsi, pemaparan yang salah, kebencian, dana atau berita bohong itu sangat tinggi ongkosnya, sementara hasilnya rendah.

Walau banyak platform online yang memungkinkan audiens bebas memberikan pendapatnya secara langsung, di detik.com sendiri ada aturan bahwa tidak semua artikel bisa bebas dikomentari. Hal ini beralasan, karena ditakutkan timbul dampak negatif bagi khalayak.

Prakteknya, di detik.com, ada berita yang memang dibuat untuk tidak bisa dikomentari. Artikel yang dimaksud contohnya pemberitaan tentang pastur yang ingin membakar Al-Quran, karena dikhawatirkan akan menimbulkan konflik karena komentar SARA.

Prinsip Jurnalisme Online

Masih dari sumber yang sama, Pak Budiono Darsono kemudian mengungkapkan ada beberapa prinsip yang harus diketahui dalam menjalankan praktek jurnalisme online.

1. Berita Dilaporkan Sejak Detik Pertama Suatu Kejadian

Masuk ke jurnalistik online otomatis berarti masuk ke dalam dunia online yang serba cepat. Tidak mungkin deadline harian, mingguan, bahkan tahunan diberlakukan disini. Setiap hari, peristiwa menarik yang terjadi disekitar, harus diberitakan, bahkan obrolan ‘hot’ di twitter pun dapat menjadi bahan berita. Jadi tidak ada deadline, karena setiap saat berarti deadline, berita dilaporkan sejak detik pertama suatu kejadian terjadi.

Mereka harus ‘melek 24 jam’, artinya mereka harus siap sedia kapanpun dibutuhkan (sama seperti wartawan pada umumnya). Tapi bukan berarti wartawan jurnalistik online seperti zombie yang tidak tidur dan haus mencari berita. Bekerja di detik.com pun tidak mesti ada di kantor setiap hari, malah diharapkan agar tidak sering-sering di kantor, agar tidak menghabis-habiskan ruangan, tapi wajib untuk hadir hari Jumat malam untuk evaluasi, silahturahmi, dan yang paling penting, ambil gaji.

2. Susunan redaksi

Susunan redaksinya lebih simpel daripada media pada umumnya. Yaitu pemimpin redaksi membawahi kepala biro (kabiro) dan redaktur pelaksana.(redpel)

Kabiro ini yang bertugas untuk mengatur penempatan reporter di lokasi tertentu pada jam tertentu untuk melihat adanya peristiwa yang bisa diberitakan.

Di kantor detik.com, ada GPS yang bisa memantau keberadaan para wartawan ini. Kalau ada kejadian yang bisa diliput, langsung dicari melalui GPS siapa yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian dan selanjutnya diminta meliput.

Liputan yang sudah dilaporkan oleh reporter (yang bertindak sekaligus sebagai penulis) kemudian dicek oleh redaktur pelaksana. Atas persetujuan pemimpin redaksi lah kemudian suatu artikel bisa diterbitkan.

3. Tak Lagi 5 W + 1 H , Cukup Gunakan 3 W

Prinsip jurnalistik yang harus dipegang adalah 5W1H. Tetapi, karena media ini bergerak secara cepat, terkadang saat pertama kali memuat berita hanya ada beberapa yang dapat dipenuhi, tetapi setidaknya memenuhi 3 unsur W.

Lalu seiring dengan berjalannya waktu, informasi yang diperoleh semakin kaya, beberapa prinsip lain bisa dipenuhi seiring pemuatan berita lanjutan.

Misalnya, saat ada peristiwa bom JW.Marriot untuk pertama kalinya. Mustahil, wartawan yang ada disana langsung mengetahui jumlah korban. Sehingga, saat pertama kali pembuatan berita yang dilaporkan adalah kejadiannya bom meledak (what), di Mariot (where), terjadi pada siang hari (when).

Selanjutnya ketika ada polisi berdatangan, kejadian tersebut dapat diberitakan menjadi berita kedua. Selanjutnya, waktu persis sampai ke detik sudah ketahuan, sehingga dapat diberitakan menjadi berita keempat. Lalu satu jam kemudian, nama-nama korban sudah dapat diketahui, sehingga dapat menjadi berita keempat, dan seterusnya.

Kalau di media cetak, tidak mungkin kan hal ini bisa terjadi? Biasanya baru diterbitkan di berita esok hari sehingga informasi sudah akurat dalam satu artikel, walaupun penyampainnya lebih lambat.

4. Jurnalime Online Harus Tetap Cover Both Side

Di media lain pun wajib hukumnya untuk cover both side. Bedanya, dimedia cetak, biasanya konfirmasi hanya 1 alinea, sedangkan di jurnalistik online, dimungkinkan klarifikasi dari pihak lain tidak seketika dan tampil dalam jumlah sendiri, serta tidak dibatasi kuantitas.

Bahkan ada pihak yang sengaja meminta konfirmasi dirinya ditampilkan dalam satu artikel penuh. Misalnya, seseorang yang sudah dijadikan tersangka, setelah dikonfirmasi, berita penangkapannya diterbitkan lebih dulu, baru esoknya baru konfirmasi tersangka atas penangkapan dirinya dalam satu artikel tersendiri.

5. Tidak pernah menghapus suatu berita

Bahkan, di detik.com sudah diprogram artikel yang dipublish tidak akan pernah di-delete. Oleh karena itu dibutuhkan ketelitian dan keakuratan sebelum memosting berita.

Wartawan, dalam menulis, tidak boleh menebak / mengira-ngira, harus memegang betul apa saja yang harus diketahui dan apa saja yang dimengerti. Jika tidak benar-benar memahami, cek kembali hal tersebut atau tinggalkan sama sekali.

6. Gadget canggih Untuk Reporting & Jalankan Fungsi Multimedia Sekaligus

Masih menurut Budiono Darsono, wartawan online harus dilengkapi peralatan super canggih. Mengapa? karena mereka langsung menulis dan mengupload berita di tempat kejadian .(Walaupun nantinya tulisan tersebut tetap diperiksa kembali oleh redaktur pelaksana)

7. Wartawan jurnalistik online juga harus bisa multitasking

Wartawan jurnalistik online juga harus  bisa multi tasking, mereka harus paham cara wawancara dan menulis berita (seperti jurnalis pada umumnya), tapi juga harus bisa mengambil gambar (foto/video) karena mobilitas yang sangat cepat. Para jurnalis online itu tidak bisa selalu mengandalkan fotografer, serta (pastinya) harus dapat menggunakan aneka teknologi informasi. Tidak mengherankan jika para wartawan online itu harus up to date di bidang teknologi. Kan tidak lucu, kalau mereka mendapat fasilitas gadget canggih tapi tidak tahu cara menggunakannya.

Jurnalis Online Tidak Boleh Kehabisan Pulsa

Masuk ke dunia yang membutuhkan komunikasi secara cepat dengan berbagai pihak ini membuat wartawannya tidak boleh kehabisan pulsa, bahkan ada staf khusus yang mengurus pulsa para wartawan di detik.com ini.

Studi kasus yang langsung diungkapkan oleh narasumber (Budiono Darsono)

Pernah ada, seorang wartawan detik.com yang sedang dalam perjalanan pulang naik angkutan kota terjebak kemacetan  di depan Universitas Pancasila. Kemudian, ia bertanya pada orang disekitar , dan dijawab kemacetan disebabkan oleh tawuran mahasiswa.

Tak lama berselang, wartawan tersebut mencoba melakukan konfirmasi  ke polres terkait, namun sayang, tak pernah tersambung.

Karena tak kunjung mendapat konfirmasi dari polres terkait, Ia menulis artikel di detik.com dan mengatakan ada tawuran yang menyebabkan kemacetan yang terjadi di depan Universitas Pancasila.

Esoknya, detik.com mendapatkan komplain dan laporan dari salah seorang alumni Universitas Pancasila. Orang tersebut bingung, karena menurutnya kemarin tidak ada tawuran di Universitas Pancasila seperti yang sudah diberitakan.

Detik.com kemudian menerjunkan tim khusus untuk mengecek dan mengkaji laporan tersebut. Ternyata, penyebab kemacetan tersebut adalah bazar. Dengan sangat menyesal, wartawan yang melaporkan berita kemacetan di depan Universitas Pancasila itupun akhirnya di PHK.

Sebenarnya, masih banyak hal yang dipaparkan waktu itu, berhubung tema ini yang dipakai dalam skripsi saya, jadi tidak semuanya saya catat dan masukkan ke dalam skripsi untuk keperluan preservasi.

Dua jam berlalu begitu cepat bersama beliau. Tak membosankan. Ilmu yang dibaginya pun berguna.

Well, “Bapak! Sekarang di kampus kami punya media online (news portal) sendiri ! Sekarang, kami lebih mudah memperoleh informasi. Berkat ilmu yang Bapak ajarkan. Terima kasih banyak Pak !:’)”

Ya, bagaimanapun, BDI sudah menjadi salah satu guru dalam hidup saya. Terima kasih banyak BDI!

Terima kasih juga untuk @kristi_rise, yang sudah memberitahu saya tentang adanya kegiatan ini, tak lupa segenap rekan-rekan yang ikut mendukung dan mensukseskan kegiatan tersebut. Terima kasih! Sekali-lagi, keberuntungan kadang tipis, antara tahu/tidak tahu akan adanya suatu infomasi (peluang).

Foto Bareng Guru
Kenang-kenangan 16 Mei 2012

Semoga bermanfaat!

Sumber: Pemaparan langsung di studentsxCeos CEO Meeting 16 Mei 2012

Advertisements

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s