Cerita Tentang Kebosanan Saat Aku Jumatan, Apa Kalian Juga Mengalaminya?

Setelah puluhan kali mengamati. Dari jumat ke jumat. Dengan khidmat.

Baru kali ini aku memberanikan diri menulisnya. Memastikannya dulu, supaya tak keliru.

Yang berbeda, kali ini air wudhuku lebih dingin dari biasanya. Lokasi masjidnya di Bandung atas. Sebelum Lembang, di Geger kalong.

Yang sama? Banyak. Pertama, Aku duduk bersama jamaah hamba yang sangat takut kepada Tuhannya.

Coba pikir, bagaimana kita bisa sayang, rindu, kalau untuk mendekat saja begitu takut? Mustahil merindukan hal yang ditakuti.

Alasannya? Sederhana. Tiap khutbah datang. Umat ini hampir selalu ditakut-takuti. Dengan dosa dan neraka.

Beribadah berorientasi pahala. Seolah Hitung-hitungan pahala dan dosa.

Coba buktikan sendiri, ada berapa banyak kata itu di tiap kutbah jumatmu? Minimal satu, tiap minggu. Seolah Tuhan begitu sering meminta tanggung jawab kita sebagai hamba.

Padahal hakekat ibadah itu untuk mencapai derajat Qalbun saliim. Untuk hamba sendiri. (Baca dan pahami surat ali-imran hingga tuntas, ada di sana)

Ada satu hal yang aku irikan dari khutbah mereka umat kristiani dan katholik.

Mereka banyak bercerita bahwa Tuhan begitu penyayang. Mengabulkan doa setiap hamba, bagi mereka yang yakin. Sisi kasih sayang Tuhan seringkali ditampilkan, sesuatu yang jarang diberikan di agama kami.

Umat ini terlalu sering ditunjukkan hal yang keras, jarang hal yang lembut. Berjalan datang ke masjid pun terucap salam dan senyum hanya untuk yang dikenal. Kedua, aku hampir selalu melihat ada orang yang mengantuk. Seperti ini

image

Ini terjadi karena barangkali tema-temanya itu-itu saja, seperti yang sudah kubahas di atas tadi.

Khutbah jumatku, sangat jarang membahas tentang ilmu atau sesuatu yang baru. Kontradiktif dengan hadist sahih rasulullah: “Ingin raih dunia, raihlah dengan ilmu. Ingin dapat akhirat, raihlah dengan ilmu. Ingin raih keduanya? Raihlah dengan ilmu”

Bagaimana berdakwah di era digital. Lewat internet atau sosial media misalnya.

Atau: Apa teknologi yang umat butuhkan agar islam tak lagi tertinggal? Umat ini kurasa membutuhkan amal jariyyah yang dilakukan kolektif dan dilanjutkan turun-temurun, terutama soal pengembangan ilmu.

Semoga Tuhan segera menuntun ke jalan yang terang. Jangan sampai umat rasulullah justru terjebak di dalam kegelapan di zaman yang begitu terang.

Akhir kata, tulisan ini hanya curahan hati dan pemikiran seorang hamba, yang gemar berpikir dan senantiasa mendekat.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s