Secangkir Kopi Talosi Toraja dan Sebuah Kisah Di Baliknya

Well, pagi ini… selain ditemani rasa rindu yang tumbuh lagi selepas kepulangan ibuk ke Semarang, sembari duduk di teras rumah dan menulis, secangkir kopi jadi teman setiaku.

Akhirnya, kubuat. Dan kuminum.

Ada cerita dibalik bubuk kopi ini. Bukan, ini bukan soal berapa harganya. Tapi ini ialah tentang dengan siapa aku membeli dan membaginya.

Sebut saja dia N. Begitulah aku biasa memanggilnya. Ada penggalan nama kami, yang memang mirip. Beda satu huruf.

Namun, sejauh ini Ia biasa dipanggil dengan panggilan yang lain.

Sejak pertemuan pertama kami September lalu, sudah beberapa kali kami bertemu. Selain perkenalan pertama, yang hanya lewat suara di KFC malam itu.

Di pertemuan pertama itu, dengan beraninya N menatap mataku dalam-dalam dan berucap pendek: “Akhirnya, kita ketemu juga ya..” kemudian berlalu.

Seolah kami sudah pernah berjumpa sebelumnya. Di alam yang lain, mungkin. Karena sebelumnya, tak pernah ada satupun yang berani menatapku dengan tatapan seperti itu.

Dia, orang yang paling menyebalkan yang pernah kutemui. Perfeksionis, judes, galak, serius, emak-emak. Gengsinya tinggi.

Jauh beda denganku yang santai, riang, haha hihi, dan tentu saja ramah. Tampang premanku membuatku begitu. Aku sadar, jika diam terus-terusan, tak akan ada yang berani mendekat.

Kembali ke N. Suatu waktu, sikapnya bisa sangat manis dan di luar dugaanku. Hari itu kami jalan berdua, dari tempatnya ke arah kota.

Dalam perjalanan kami banyak bercanda. Berbagi tawa, berbuat bodoh. Menyuapi satu sama lain dan…beberapa hal yang tadinya sangat tidak mungkin terjadi antara kami berdua.

Dari situ aku tau banyak hal kecil tentangnya. Yang bagus, yang buruk hingga alergi dan penyakitnya.

Dia tetap berusaha tersenyum, walau aku tau, di sana ada raut wajah menahan lapar karena belum sempat sarapan. Bodoh.

Dia jauh lebih menarik di saat-saat seperti ini, saat tampil apa adanya di depanku. Tanpa terhalang gengsi dan harga diri yang kelewat tinggi.

Sesampainya di kota kami makan siang bersama, mampir ke toko buku. Dia terlihat senang menjelajah buku resep masakan. Sesuai hobinya.

Dan aku pun hanya bisa tersenyum melihat polah-tingkahnya itu.

Dia banyak bercerita soal memasak yang jadi hobinya. Tentang ini dan itu. Waktu berjalan sangat lamban dan menyenangkan. Anehnya, bersama orang paling menyebalkan yang pernah kukenal.

Di supermarket, kami lapar mata. Hanya melihat-lihat tanpa membeli. Kebanyakan barang impor.

Sampai akhirnya, kami membeli kopi. Kopi yang sekarang kuminum ini. Kubagi dua dengannya. Kami berdua, penggemar kopi.

Aku pun pernah berdoa. Semoga suatu saat. Sejauh apapun kami terpisah. Akan bertemu lagi. Bersama lagi.

Alasannya sederhana, disadari atau tidak, walau berbeda kami sebenarnya merupakan patner yang hebat. Dengan masing-masing kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.

Itulah sebabnya, tiap kali kutengguk hangatnya kopi ini, terasa lain. Memoriku kembali ke saat-saat itu. Di saat waktu berjalan begitu panjang, ketika bersamanya.

Author: nandonurhadi

Menyediakan info-info untuk anda dalam berbagai kategori. Yang insya allah bermanfaat untuk kita semua ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s